Gunung Padang, Bukti Monumen Besar dari Peradaban Adijaya Tertua di Dunia

Gunung Padang, Bukti Monumen Besar dari Peradaban Adijaya Tertua di Dunia

Selanjutnya, survei geolistrik yang dilakukan di sekitar lokasi penggalian oleh tim geologi/geofisika dari LabEarth LIPI, menguak fakta yang tidak kalah fantastis terkait fitur bangunan purba di bawah  permukaan ini.  Survei terbaru ini adalah survey pendetilan sebagai lanjutan dari puluhan lintasan survei geolistrik 2-D, 3-D dan survei georadar yang sudah dilakukan pada tahun 2011, 2012 dan awal 2013 di sekujur badan Gunung Padang dari kaki sampai puncak bukit.

Hasil survei geolistrik memperlihatkan bahwa lapisan susunan batu kolom yang terlihat di kotak gali keberadaannya dapat diikuti terus sampai ke atas, bersatu di bawah badan situs Gunung Padang di atas bukit. Lapisan ini juga melebar sampai jauh ke kaki bukit.

Loading...

Fakta ini mendukung hasil penelitian ahli arsitektur Pon Purajatniko,  anggata Tim Terpadu Riset Mandiri yang juga pernah menjabat Ketua Ikatan Ahli Arsitektur Jawa Barat. Pon adalah arsitek yang pertama kali melontarkan gagasan tentang struktur teras-teras Gunung Padang mirip dengan Michu Pichu di Peru.

Sampai saat ini, penggalian dilakukan baru sampai kedalaman 4 meteran saja. Namun survei geolistrik memperlihatkan bahwa dibawahnya masih ada kenampakan struktur bangunan dengan geometri yang terlihat menakjubkan sampai kedalaman lebih dari 10 meter.

Hasil survei geolistrik dan georadar, juga sudah dapat memperlihatkan bahwa struktur (geologi) bawah permukaan yang membentuk morfologi bukit Gunung Padang adalah lapisan batuan dengan ketebalan 30-50 meter.

Lapisan ini mempunyai nilai tahanan listrik (resistivitas) sangat tinggi (ribuan Ohm-Meter). Bentuknya seperti lidah dengan posisi hampir horisontal, selaras dengan bukit memanjang utara-selatan dan miring landai ke arah utara. Posisi ini selaras pula dengan undak-undak teras yang dibangun di atasnya.

MENARIK:  Apakah Terdapat Keterkaitan Hubungan Antara Candi Ceto, Piramida gunung Padang Dan Candi Suku Maya?

Lapisan batu berbentuk seperti lidah ini juga mempunyai bidang miring yang rata ke arah barat dan timur bukit selaras dengan kemiringan lerengnya. Lapisan lava ini berada pada kedalaman lebih dari 10 meter di bawah permukaan.

Dari data pemboran yang dilakukan oleh DR. Andang Bachtiar dan juga analisis mikroskopik batuan dari sampel inti bor yang dilakukan oleh DR. Andri Subandrio, ahli geologi batuan gunung api dari Lab. Petrologi  ITB, dapat dipastikan bahwa tubuh batuan dengan resistivitas tinggi ini adalah batuan lava andesit, sama seperti tipe batu kolom dari situs Gunung Padang.

Hal lain yang cukup menarik dari analisa petrologi itu adalah temuan banyaknya retakan-retakan mikroskopik pada sayatan tipis batu kolom andesit yang diduga non-alamiah karena retakan itu memotong kristal-kristal mineral penyusunnya.

Dari banyak penampang geolistrik, terlihat lidah lava andesit ini mempunyai leher intrusi (sumber terobosan batuan vulkanis dari bawah) berlokasi di area lereng selatan dari situs Gunung Padang. Jadi, setelah cairan panas intrusi magma mencapai permukaan kemudian mengalir ke utara dan setelah mendingin membentuk lidah lava tersebut. Yang masih menjadi teka-teki besar adalah apakah tubuh batuan lava di perut Gunung Padang ini merupakan sumber dari batu-batu kolom andesit yang dipakai untuk menyusun situs?

Boleh jadi hipotesa ini benar. Pasalnya, sampai saat ini tidak ditemukan ada sumber batuan kolom andesit dalam radius beberapa kilometer dari Gunung Padang. Masalahnya, tidak ada bekas-bekas penambangan atau lapisan lava yang tersingkap di area Gunung Padang.  Jadi, apabila orang berhipotesa bahwa sumber batuannya dari dalam bukit, maka mau tidak mau harus juga mengasumsikan bahwa dulunya lapisan lava tersebut pernah tersingkap atau ditambang oleh manusia purba, kemudian baru batu-batu kolom yang sudah diambil tersebut disusun-ulang kembali untuk menutupi sekujur badan lava menjadi satu mahakarya monumen arsitektur besar yang luar biasa.

MENARIK:  Prasasti Ebla Berikan Keterangan Mengenai Sejarah Agama - Agama

Perlu juga dicatat, bahwa mengekstraksi batu-batu kolom andesit dari batuan induknya bukanlah hal yang mudah karena harus dapat memisahkan batu-batu besar dan berat tersebut dengan utuh dari batuan induknya dalam jumlah yang sangat besar. Berbeda dengan penambangan batuan biasa yang tidak perlu kuatir dengan batu yang pecah, misalnya dengan peledakan dinamit.

Yang jelas, untuk abad sekarang atau ratusan tahun ke belakang di dunia ini tidak pernah ada penambangan batu-batu kolom andesit untuk dipakai sebagai bata bangunan.

Penelitian di Gunung Padang belum selesai. Tim Terpadu Riset Mandiri, walaupun tanpa dibantu dana negara, akan terus bekerja keras meneliti banyak misteri besar yang masih belum terkuak di situs itu. Termasuk melakukan pemboran atau eskavasi dalam untuk membuktikan dengan lebih gamblang keberadaan struktur bangunan dan ruang-ruang di bawah kedalaman 4-5 meter.

Demikian juga pentarikhan umur situs. Walaupun sudah dilakukan dengan teliti dan hati-hati masih perlu dicek ulang dengan sampel-sampel yang lebih baik lagi, karena umur situs ini adalah hal yang sangat vital untuk kesimpulan akhir nantinya.

Tim juga menduga bahwa situs Gunung Padang kemungkinan besar tidak dibangun dalam satu masa, tapi produk lebih dari satu lapis kebudayaan. Misalnya, yang membuat batu-batu kolom menjadi menhir-menhir belum tentu sama dengan masyarakat yang membuat susunan batu-batu kolom dengan semen purba. demikian juga bangunan susunan batu kolom andesit di permukaan atau yang sudah tertimbun beberapa meter di bawah belum tentu dibangun satu masa dengan struktur bangunan di bawahnya lagi.

MENARIK:  Terdapat Bangunan Lebih Tua di Bawah Gunung Padang

Penelitian ala Tim Terpadu Riset Mandiri ini memperlihatkan bahwa bahu-membahu yang erat dari berbagai disiplin ilmu dengan metoda penelitian yang saling mengisi sangat diperlukan untuk menguak warisan kebudayaan nusantara.

Masalah Gunung Padang tidak bisa lagi disampingkan.  Walaupun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan analisa yang belum tuntas, hasil-hasil penelitian yang sudah dicapai sudah memberikan banyak informasi penting dan harapan bahwa situs Gunung Padang berpotensi untuk setara dengan Borobudur, bahkan lebih bermakna karena dapat menjadi terobosan pengetahuan tentang “the craddle of civilizations” pada abad ini karena menjadi bukti monumen besar dari peradaban adijaya tertua di dunia yang entah karena bencana apa musnah ribuan tahun lalu dalam masa pra-sejarah Indonesia.  Wallahua alam.

Danny Hilman Natawidjaja, Koordinator Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *