Membangun Teori Tentang Kebudayaan Materi

Membangun Teori Tentang Kebudayaan MateriTelah disarankan bahwa untuk membangun teori tentang kebudayaan materi, langkah pertama adalah membedakan paling sedikit perlu diperhatikan dua cara tentang bagaimana kebudayaan materi itu dapat memiliki makna abstrak di luar awal mula tujuan penciptaannya.

Tiga wilayah teori yang telah diterapkan pada tipe pertama makna materi ini berasal dari informasi teknologi, Marxisme, dan strukturalisme.

Pertama (teori teknologi), tujuannya adalah untuk menerapkan cara-cara perlambangan materi yang dapat menghasilkan keuntungan yang adaptif bagi kelompok-kelompok sosial. Atas dasar ini maka pengembangan sistem perlambangan yang kompleks memungkinkan pemrosesan lebih banyak informasi secara lebih efisien . Pendekatan semacam ini memiliki keterbatasan manfaat bagi penelitian kuantitatif karena tidak menyangkut interpretasi dan pengalaman pemaknaan simbol-simbol.

Loading...

Kedua (Marxisme), komponen ideologis simbol-simbol dapat dikenali dalam hubungannya dengan kekuasaan dan dominasi (Leone, 1984; Miller & Tilley, 1984) serta selanjutnya kekuasaan dan sistem-sistem nilai serta prestise dilihat sebagai jamak dan dialektik (Miller, Rowlands, & Tilley, 1989; Shanks & Tilley, 1987)

Ketiga strukturalisme. Tujuan dari analisis struktural adalah meneliti pola (Washburn, 1983) atau perbandingan spasial (Glassie, 1975; McGhee, 1977) dalam hubungannya dengan kode yang melandasinya, walaupun di sini pun kecenderungannya adalah menekankan kemajemukan makna untuk kemudian dipertentangkan dengan konteks sosial yang aktif sebagaimana yang telah diperdebatkan dalam berbagai arah pemikiran pascastruktural (Tilley, 1990). Dalam sebagian besar dari karya ini metafor bahasa telah diterapkan terhadap kebudayaan materi nyaris tanpa permasalahan. Periuk sebagai istilah muncul pengertiannya sebagai benda periuk.

Dari uraian di atas terlihat bahwa makna kebudayaan materi dapat dialami dan dibaca orang. Masih banyak yang dapat disampaikan berkenaan dengan bagaimana kebudayaan materi bekerja dalam konteks sosial. Sebagai contoh, beberapa kebudayaan materi bekerja melalui metafor dan secara eksplisit, di mana persamaan-persamaan bentuk mengacu pada anteseden historis, sedangkan kebudayaan materi yang lain melalui cara yang ambiguous dan abstrak, dengan cara mempergunakan sudut pandang atau efek dramatik, melalui pengendalian pendekatan pengkaji, dan melalui pengendalian perspektif..

Pengertian metafor mengandung dan mengekspresikan informasi tentang bagaimana perasaan individu sebagai anggota pendukung sebuah kebudayaan tentang hubungannya dengan orang lain, dengan material, dan tentang identitas dirinya. Selanjutnya bedasarkan ranahnya, metafor dapat dibedakan ke dalam pertama metafor struktural mengekspresikan persamaan dengan pengalaman dalam dunia nyata. Sebagai contoh, seorang pesuruh yang sedang menerima telepon dari kepalanya berbicara di telepon itu dengan membungkuk-bungkuk, seolah-olah ia benar-benar secara fisik berbicara di depan kepalanya itu.

Metafor tekstual mengekspresikan persamaan dengan pengalaman dalam dunia perasaan. Dalam hubungan ini masalahnya adalah apakah sesuatu artifak itu dapat diolah menjadi sebuah bukti kultural atau tidak. Apa yang dapat dijawab terhadap masalah ini adalah bahwa kemungkinan itu besar dan caranya adalah dengan mencari hubungan antara obyek dengan satu atau lebih pengalaman universal manusia. Pola hubungan itu dapat bersifat formal, ikonografik, atau fungsional. Adapun pengalaman universal manusia itu, sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, adalah keterkaitannya dengan dunia fisik, interaksi dengan individu lain, identitas diri, emosi-emosi umum, atau pengalaman hidup yang berkesan.

Analisis kebudayaan materi atas dasar metafor langsung mengacu pada obyeknya atau sebagian dari padanya. Dalam kajian semiotik, metafor dapat dikenali sebagai tanda yang berada di antara sinyal-sinyal yang memberi arah bagi tindakan manusia, seperti misalnya lampu lalu lintas. Di samping itu dapat pula dikenali sebagai simbol yang memiliki makna atas dasar konvensi, karena merupakan ekspresi dari konsep, seperti misalnya palang merah. Makna metafor hanya dapat dirasakan namun tidak mudah untuk dikonseptualisasikan. Atas dasar itu maka dalam kebudayaan materi ekspresi metaforik ini dibedakan ke dalam dua jenjang. Jenjang pertama adalah metafora material. Dapat mengungkapkan makna dalam hubungannya dengan kepercayaan. Pada jenjang kedua, ekspresi metaforik, seperti bahasa misalnya, ditentukan oleh kebudayaan.

Sebagaimana yang telah diungkapkan di muka, kebudayaan materi merupakan kebudayaan yang mampu bertahan lama. Makna yang diberikan oleh pendukungnya dapat saja terlupakan karena kebudayaan itu tetap berlangsung sedangkan pendukungnya sendiri telah meninggal. Dalam perjalanan waktu makna yang diberikan kepada kebudayaan materi itu dapat saja berubah dari masa yang satu ke masa berikutnya, ke berikutnya lagi dan seterusnya. Keanekaan makna temporal ini sering kali dipengaruhi oleh perubahan makna dalam lintasan ruang dan budaya. Setelah dilakukan penggalian, artifak arkeologi senantiasa dibawa ke laboratorium sehingga terpisahkan dari konteksnya. Dengan demikian maka pada waktu diinterpretasikan kembali, maka artifak-artifak itu, telah kehilangan konteksnya namun memperoleh konteks budaya dan sosial yang baru dari peneliti. Dengan demikian maka obyek material senantiasa mendapat interpretasi baru dalam konteks yang baru pula.

Apa yang terjadi dengan archaeological records, dapat pula terjadi dengan kebudayaan materi. Kebudayaan materi itu dapat ditambah, dipindahkan dari sisa-sisa penggunaannya kembali, atau diinterpretasikan kembali. Dalam beberapa kasus, urut-urutan penggunaan dapat memberikan gambaran tentang proses pemikiran seseorang, seperti misalnya proses pemecahan sebuah flake dari core dari jaman prehistori awal, kemudian disambungkan kembali oleh seorang ahli arkeologi dari jaman ini (Pelegrin, 1990) guna dapat mengembalikan bentuk flint core dan selanjutnya mengikuti keputusan yang diambil oleh pembuat alat terhadap flint core itu dalam menciptakan alat-alat dan flakes.

Dalam kesempatan lain, yang menyangkut jangka waktu yang lebih lama, seperti yang terjadi pada sebuah monumen seperti Stonehenge yang telah dibangun kembali, dipergunakan kembali untuk maksud-maksud yang berbeda sejak beribu tahun silam hingga sekarang (Chippendale, 1983). Dalam kasus-kasus yang demikian itu penceritaan kembali berdasarkan jejak-jejak yang ditinggalkan pada artefak memunjukkan bentuk umum yang ditinggalkan oleh baik kelompok atau pribadi, dan yang seringkali tidak lagi menyadari akan maksud atau makna pengguna sebelumnya. Sedikit orang sekarang, walaupun memiliki pengetahuan tentang upacara Natal, namun tidak lagi mengerti tantang alasan sejarah yang melatar belakangi pemilihan pohon natal, Santa Claus, baju merahnya, dan reindeer yang dapat terbang.

Perlu kiranya diingat bahwa terdapat banyak penyebab yang memungkinkan benda material berubah maknanya. Sebagai contoh, benda material yang mula-mula dibuat dengan maksud atau evokasi metaphorik, namun dengan perjalanan waktu makna aslinya menjadi terlupakan atau benda itu lalu menjadi klise. Sebuah artifak pada mulanya dapat dibuat untuk menjadi fokus, namun kemudian hanya menjadi bingkai, bagian dari latar belakang belaka. Sebuah komponen fungsional dapat berubah menjadi sekedar dekorasi, seperti misalnya tungku pemanas yang dibangun dalam rumah-rumah mewah di Indonesia.

Sebaliknya, dapat pula terjadi bahwa muatan makna dari sebuah artifak justru dapat bertambah selama perjalanan waktu. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya batu akik yang kemudian dijadikan ajimat atau benda yang dikeramatkan. Benda Material seringkali bersifat sentral dalam upaya kita menengok ke belakang untuk mencari penemuan baru dari tradisi di masa lalu, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Partai Fasis Italia yang menghidupkan kembali lambang kekuasaan Romawi kuno berupa seikat tali guna melambangkan pemusatan kekuasaan.

MENARIK:  Revie dan Update Hasil Penelitian Gunung Padang

Uraian singkat tentang dimensi temporal di atas menunjukkan betapa penting peranan konteks dalam upaya untuk mengungkapkan makna kebudayaan materi. Telah menjadi jelas kiranya dari contoh-contoh di atas, bahwa perubahan makna itu menyangkut pertentangan hubungan antar kelompok. Makna masa lalu dan makna masa kini senantiasa dipertentangkan dan direinterpretasikan sebagai bagian dari strategi politik dan sosial. Konflik terhadap makna material itu perlu memperoleh perhatian khusus bagi para peneliti kualitatif, atas dasar pertimbangan bahwa makna itu mencerminkan pandangan atau perhatian alternatif. Penguburan kembali kerangka-kerangka Indian Amerika dan penduduk asli Australia tidak saja mewujudkan sebuah issue, melainkan juga merupakan kesadaran baru tentang adanya hak pribumi di Amerika dan Australia.

Bersamaan dengan upaya pembersihan etnis di Eropa, mengakibatkan kemunculan upaya untuk melakukan interpretasi baru dari sudut pandang etnik terhadap dokumen, monumen, dan artifak. Di sisi lain, kebudayaan materi dari masa lampau dapat pula dipergunakan untuk membantu masyarakat terasing dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya menjadi lebih mudah namun produktif. Salah satu contoh tentang pemanfaatah masa lampau bagi masa kini adalah apa yang telah ditunjukkan oleh hasil penelitian Ericson (1988) di daerah sekitar Danau Titicaca di Peru. Pengetahuan yang telah diperoleh dari penelitian arkeologi tentang lahan yang ditinggikan dipergunakan untuk merekonstruksi sistem pertanian dari model sistem yang kuno, dengan mengikut sertakan penduduk asli demi keuntungan mereka.

Aspek lain dari kajian terhadap kebudayaan materi adalah adalah aparat analisisnya. Makna bahasa hanya dapat diungkapkan atau dperoleh melalui pengolahannya dalam praksis. Hal yang sama juga berlaku, sebagaimana yang telah kita lihat unsur-unsur bahwa kebudayaan materi dapat ditempatkan atau dianggap dalam kode sebagaimana halnya dengan bahasa. Kognitif psikologi pun menunjukkan bahwa pengetahuan pada dasarnya dapat secara umum dibedakan ke dalam dua tipe. Bechtel (1990), misalnya, mengemukakan bahwa model kognisi yang didasarkan atas aturan-aturan dengan sendirinya sesuai untuk diterapkan pada kegiatan yang sangat berbeda dari pada dengan model yang berasal dari model ahli koneksionis.

Apabila kognisi yang pertama lebih sesuai untuk penyelesaian masalah, kognisi yang kedua paling baik diterapkan pada tugas-tugas seperti mengenali pola-pola dan sebagai alat kontrol. Terlihat sangat mungkin bahwa keterampilan yang melatar belakangi praksis sosial, simbolik, dan makna moral yang diwujudkan dalam praksis itu dapat menerapkan sistem kognisi yang berbeda daripada kognisi yang berdasarkan aturan dan representasi.

Bloch (1991) mengemukakan bahwa pengetahuan praktis pada dasarnya berbeda dari pengetahuan yang berdasarkan pengetahuan kebahasaan (linguistic knowledge) dalam proses pengorganisasiannya dalam pikiran. Pengetahuan praktis dimasukkan ke dalam informasi tentang apa dan bagaimana menyesuaikan ranah tindakan tertentu yang sangat dikontekstualisasikan. Sebagian besar pengetahuan praktis tidak bersifat lineer dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, dan yang dibentuk melalui praksis yang berhubungan erat dengan kegiatan-kegiatan.

Telah dikemukakan bahwa walaupun dunia nyata itu mencakup juga makna sosial dan simbolik yang tidak diatur oleh kode representasi (pengetahuan kebahasaan), namun dunia nyata itu merupakan ranah tindakan yang diatur secara kontekstual di mana emosi, nafsu, moral dan hubungan sosial berpengaruh pada jenjang secara implisit pada keterampilan otomatis.

Barangkali perlu kiranya ditekankan di sini bahwa kedua tipe simbolik materi – yang bersifat representasi dan yang evokatif atau implikatif – seringkali bekerja dalam hubungan tertutup satu dengan yang lain. Dengan demikian maka satu set praksis dapat dikaitkan dengan laki-laki atau wanita dengan bagian-bagian rumah yang berbeda-beda atau dengan waktu yang berbeda-beda sepanjang hari, namun dalam konteks sosial tertentu asosiasi-asosiasi ini dapat pula dibangun aturan-aturan simbolik guna memisahkan dan mengeluarkan serta membentuk sebuah skema representasi abstrak di mana mitologi dan kosmologi dapat memainkan perannya (Yates, 1989).

Skema yang demikian memiliki juga komponen ideologis yang memberikan umpan balik tentang hambatan yang mungkin timbul bagi praksis. Dengan demikian maka praksis, evokasi, dan representasi saling memasuki dan saling mengisi dalam banyak hal untuk tidak dikatakan pada semua sisi kehidupan. Struktur dan praksis memiliki hubungan rekursif dalam proses strukturasi kehidupan materi (Giddens, 1979; Bordieu, 1977).

Kebudayaan materi merupakan kajian tentang material, berupa bahan baku atau yang telah diproses, yang diolah sebagai akibat dari tindakan manusia sebagai ekspresi kebudayaan. Agar kajian kebudayaan terhadap obyek materialnya sahih, maka datumnya haruslah otentik. Agar interpretasi terhadap kebudayaan itu bermakna, maka pengetahuan tentang artifak haruslah diperoleh sebanyak mungkin. Kebudayaan materi materialistik, memusatkan perhatian pada obyek itu sendiri, materialnya, konfigurasi, artikulasi, sampai pada sifat-sifat molekulernya seperti misalnya warna dan teksturnya.

Apabila pendekatan idealistik mencari makna yang terkandung dalam kebudayaan materi, maka pendekatan materialistik mencari hubungan antara kebudayaan materi dengan perilaku manusia yang pernah membuat, mempergunakan dan kemudian membuangnya.Berbeda dari pendekatan idealistis yang mencari keunikan kebudayaan, maka pendekatan materialistik beranggapan bahwa hubungan antara kebudayaan materi dengan perilaku yang mengendapkannya itu bersifat universal. Atas dasar asumsi ini maka sekelompok ahli arkeologi di Universitas Arizona telah mengadakan eksperimen untuk melihat hubungan yang ada antara kebudayaan materi dengan peri laku masyarakat yang meninggalkannya pada masa sekarang!

Tujuan mereka adalah apabila hubungan itu dapat diketahui, maka, oleh sifatnya yang dianggap universal, maka pola hubungan itu dapat pula dikembangkan sebagai “hukum” yang pada gilirannya dapat pula dipergunakan sebagai model untuk mengkaji kebudayaan materi dari masa lampau. Dari pengalaman ini, mereka kemudian mengembangkan permasalahan hakikat arkeologi itu: apakah data itu harus diperoleh melalui ekskavasi. Demikian pula masalah apakah data arkeologi itu harus berumur 50 tahun. Demikianlah lalu berkembang pengertian arkeologi yang baru sebagai ilmu yang mengkaji interaksi antara kebudayaan materi dengan perilaku manusia, tanpa harus dibatasi oleh waktu maupun ruang.

Apa yang hendak diungkapkan melalui kajian ini adalah pertama, melalui observasi terhadap tahap-tahap, penciptaan, penggunaan, dan mungkin juga pendaur ulangannya menurut sistem kultural masa kini dapat diketahui pola bagaimana kebudayaan materi itu didaya gunakan sampai dibuang. Tujuan kedua yang didasarkan atas asumsi bahwa kebudayaan materi itu merupakan residu perlaku manusia, maka yang hendak dicapai adalah mengungkapkan tentang hakikat residu itu. Dengan demikian maka fokus utamanya adalah tentang bagaimana proses pembuangan residu itu terjadi, serta proses transformasi apa yang kemudian berlangsung secara fisik di tempat pembuangannya.

Melalui pengungkapan ini maka diharapkan bahwa perilaku manusia yang mengendapkan residu itu dapat pula diungkapkan. Namun demikian perlu ditekankan di sini, bahwa mereka ini sama sekali tidak bermaksud untuk menggantikan kajian disiplin ilmu yang telah ada dengan yang lain, melainkan hendak melengkapinya dengan metodologi penelitian arkeologi yang berbeda. Metodologi yang dimaksudkan itu adalah sebuah cara mengungkapkan hubungan masyarakat sekarang dengan masyarakat masa lampau, yang pada hakikatnya merupakan kekhasan perspektif arkeologi.

MENARIK:  Ulasan Mengenai Perkembangan Arkeologi

Masalah yang hendak diteliti adalah apakah melalui observasi terhadap perilaku manusia masa kini melalui residunya, hubungan umum antara keduanya dapat diungkapkan untuk dirumuskan sebagai hipotesis serta kemudian diuji secara lintas budaya, sehingga akhirnya dapat diperlakukan sebagai hukum perilaku .

Michael B. Schiffer di Universitas Arizona di Tucson, dan oleh Richard A. Gould Universitas Hawai di Manoa. Baik Schiffer maupun Gould masing-masing telah melakukan penelitian dengan menerapkan pendekatan ini. Penelitian itu melibatkan mahasiswa yang melakukan penelitiannya di dalam dan di sekitar kampus serta di lingkungan masyarakat sekitar, guna melakukan observasi perilaku manusia dalam perspektif kebudayaan materi masa kini.

Wilk dan Schiffer, guna mengungkapkan dan mengenali prinsip-prinsip umum dari hubungan antara perilaku manusia dengan materialnya ini, maka Schiffer mengirimkan mahasiswanya guna melakukan observasi terhadap perilaku mereka yang berjalan di jalur jalan kaki dalam kampus dan bangunan-bangunannya serta camping ground di luar kampus. Setelah secara tajam membandingkan antara KKL konvensional dengan yang mempergunakan pendekatan eksperimental menyimpulkan bahwa kebudayaan materi masa kini memberikan berbagai keuntungan. Di samping menawarkan kemudahan dan biaya yang lebih murah, manfaat yang lebih besar terletak pada penekanannya pada pembelajaran tentang prinsip-prinsip dasar arkeologi yang utama, yang pada gilirannya akan dapat nantinya diterapkan situasi apa pun .

Pendekatan Gould ini diarahkan untuk mencari pada masyarakat sekarang hubungan antara perilaku manusia dengan kebudayaan materinya. Adapun Gould mengerjakan penelitian dengan arah yang hampir sama, namun dengan mempergunakan metode ethnoarkeologi. Ia mengirimkan mahasiswanya untuk melakukan semacam ekspedisi terarah guna melakukan observasi terhadap mobil yang diparkir di halaman parkir serta garasi mobil rongsokkan di Honolulu.

Penelitian terhadap pendaya gunaan ruang masa kini oleh manusia yang masih hidup dapat memberikan sumbangan bagi interpretasi terhadap archaeological records. Kajian itu juga dapat membantu kita untuk mengenali, mempertajam dan mengkaji asumsi-asumsi kita sehingga memungkinkannya untuk mengembangkannya menjadi hipotesis guna dapat diuji. Di sisi lain penelitian semacam itu juga dapat memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana archaeological records itu terbentuk, tentang bagaimana peninggalan itu terpolakan, dan apa makna pola itu. Hal yang demikian itu dapat membantu kita untuk memperoleh kategori untuk diinterpretasikan sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih baik

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bagian kedua dari pembicaraan saya ini adalah mengenai pandangan eksternal. Ditinjau dari sudut pandang ini, maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah apakah yang dapat disampaikan oleh penelitian arkeologi bagi kepentingan masyarakat.

Demi material itu diekskavasi maka secara keseluruhan, pada hakekatnya material itu telah menjadi bagian dari kebudayaan materi masa kini, bukan lagi hanya sekedar data tentang masa lampau, atau hanya sebagai temuan ekskavasi. Sebagai konsekuensinya maka material itu menjadi terbuka agar dapat dianalisis untuk dapat diketahui tentang kebudayaan yang menciptakannya, dan tidak tentang masa lampau belaka.

Tujuan kajian kebudayaan materi masa kini adalah pertama, melalui penerapan ethnoarkeologi, memperoleh pengertian tentang masa lampau secara lebih baik. Kedua bukan hanya semata-mata berkenaan dengan masa lampau, melainkan juga melalui analisis terhadap obyek-obyek yang dibuat pada masa kini untuk diketahui tentang apa yang dapat diungkapkannya tentang masa kini. Asumsinya adalah bahwa kebudayaan materi dapat memberikan informasi tentang sebuah aspek kebudayaan yang tidak dapat diperoleh dari mereka yang membuat atau mempergunakannya.

Masyarakat sering kali tidak lagi menyadari tentang apa yang mereka maksudkan pada waktu mereka membicarakan dirinya sendiri. Namun demikian pemerolehan makna dapat ditembus melalui struktur dari perilaku masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari atau struktur artifak yang dapat dikenali. Pada hakikatnya ilmu arkeologi memang mencakup seluruh aspek perilaku manusia dan kebudayaan materi, kapan pun dan di mana pun keduanya terjadi.

Dalam kaitannya dengan masa lampau dapat dikatakan bahwa walaupun kita tidak dapat menghidupkan kembali masa lampau namun pengetahuan tentangnya dapat menjadi sangat penting untuk membangun identitas kita sebagai sebuah bangsa. Kemungkinan ini, walaupun tidak dapat menambah pengetahuan kita tentang masa lampau, namun dapat menghilangkan keragu-raguan kita sebagai ahli arkeologi. Unsur keragu-raguan itu timbul sebagai akibat dari kekhawatiran para ahli arkeologi untuk berbicara terlalu banyak tetapi keliru, yang pada gilirannya menimbulkan sikap intelektual yang konservatif dan memberikan interpretasi yang itu-itu juga. Unsur lain adalah bahwa ahli arkeologi takut untuk menyampaikan sesuatu yang baru atau inovatif.

Salah satu contoh dari keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang baru dan inovatif adalah penelitian yang dilakukan oleh Schiffer dan Gould yang menghasilkan laporan penelitian yang menarik perhatian. Ternyata bahwa perilaku masyarakat dapat direkonstruksi melalui kebudayaan materi yang dibuat, dipergunakan dan kemudian dibuangnya. Contoh lain adalah Rahtje yang menunjukkan, bahwa dari kajian terhadap kebudayaan materi semacam itu, dapat diketahui bahwa sesungguhnya konsumsi alkohol masyarakat Amerika lebih besar daripada apa yang dilaporkan secara formal dan tertulis. Penelitian ini menunjukkan bahwa kajian terhadap kebudayaan materi dapat lebih mengungkapkan keadaan yang sebenarnya, atau dapat mengungkapkan bahwa apa yang dikatakan orang dapat berbeda dari apa yang diperbuatnya.

Pengalaman di atas menyadarkan para ahli arkeologi bahwa masalah dan tantangan yang dihadapi arkeologi sesungguhnya dapat dikaitkan dengan lingkungan material kita sehari-hari. Atas dasar itu dapat dibenarkan bahwa baik mengkaji permasalahan arkeologis maupun mengajarkan dasar-dasar arkeologi di lingkungan komunitas kita sendiri. Apabila hal ini dilaksanakan, maka kuliah tentang topik yang paling tidak menarik dan membosankan pun dapat diajarkan secara lebih mudah, menarik dan dengan biaya yang murah.

Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini apa yang telah dilakukan oleh Rahtje dan koleganya. Mereka telah dengan berhasil mengajarkan arkeologi di tingkat sarjana dengan mempergunakan kebudayaan materi masa kini. Menurut pengalaman mereka, kebudayaan materi dapat dimanfaatkan untuk mengenali dan menerapkan prinsip-prinsip kebudayaan materi dan inferensi arkeologi seperti misalnya seriasi, dan tipologi, serta mengenali adanya hubungan antara status sosial dengan harta kekayaan yang dimiliki.

Apa yang dimaksudkan dengan pengajaran arkeologi dalam kaitannya dengan kebudayaan materi di sini khususnya adalah yang berkaitan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Sebagaimana kita maklumi bersama, bentuk KKL yang selama ini kita laksanakan adalah dalam bentuk latihan ekskavasi. Dengan mengacu pada pengalaman Rahtje di atas, maka telah pula tiba waktunya untuk kita juga mempertanyakan apakah upaya untuk menanamkan pengertian akan prinsip-prinsip dasar ilmu arkeologi itu hanya dapat diberikan melalui KKL dalam bentuk ekskavasi. Kita semua mengetahui bahwa KKL dalam bentuk ekskavasi sebagaimana yang selama ini dilaksanakan, di samping memerlukan biaya yang cukup tinggi juga memerlukan tata penyelenggaraan yang cukup rumit.

MENARIK:  Masa Lampau Sebelum Peradaban Manusia ( Bagian II )

Biaya KKL yang sebagian harus ditanggung mahasiswa menciptakan beban tambahan bagi para mahasiswa, sedangkan bagi penyelenggaraan KKL juga merupakan tambahan pekerjaan yang tidak sederhana. Tambahan pula masih perlu dipertanyakan lebih lanjut tentang, pertama apakah kemahiran yang diberikan itu dapat dimanfaatkan oleh sarjana arkeologi yang baru lulus untuk dapat memperoleh dan kemudian melakukan pekerjaannya di luar bidang arkeologi. Kedua apakah kemahiran itu hanya dapat diberikan melalui KKL sebagaimana yang selama ini dilaksanakan.

Pada hakikatnya Departemen Arkeologi Universitas Arizona telah menyadari dan kemudian mencari jalan keluar dari permasalahan itu sejak tahun 1971. Guna mengatasi hal ini para ahli arkeologi Universitas tersebut telah mengadakan eksperimen dengan menyelenggarakan KKL yang berorientasi ke kebudayaan materi masa kini. Apa yang telah dicoba adalah mengajarkan arkeologi melalui kebudayaan materi masa kini. Setelah mengadakan beberapa eksperimen dan membandingkannya dengan KKL konvensional, maka mereka berkesimpulan bahwa kebudayaan materi memberikan beberapa keuntungan.

Di samping biaya yang rendah dan kemudahan dalam penyelenggaraan, mahasiswa mempelajari prinsip-prinsip umum arkeologi, yang kemudian dapat diterapkannya dalam menghadapi situasi apa pun. Landasan berpikirnya adalah sebagaimana yang telah diutarakan di atas, yaitu bahwa prinsip-prinsip umum arkeologi dapat ditanamkan melalui kajian atas kebudayaan materi masa kini. Kedua bahwa melalui KKL yang mengaji kebudayaan materi melalui penerapan prinsip-prinsip arkeologi yang paling mendasar itu pada gilirannya memungkinkan para mahasiswa untuk menerapkannya untuk mengaji keadaan di luar arkeologi. Hal ini berbeda apabila KKL itu diberikan melalui pelatihan ekskavasi yang membekali mahasiswa dengan kemahiran yang hanya dapat diterapkan pada keadaan arkeologis.

Pendekatan materialistik terhadap kebudayaan materi sebagaimana yang telah dicoba di Universitas Arizona itu menawarkan sebuah metode pengajaran KKL dalam bentuk lain yang lebih murah, mudah dan menarik bagi mahasiswa. Namun demikian perlu diingat di sina, bahwa pada hakikatnya KKL tradisional itu tidaklah keliru. Mungkin apa yang kurang tepat dibandingkan dengan tuntutan keadaan sekarang adalah kemahiran apa yang hendak dicapai dan bekal kemampuan apa yang hendak diberikan kepada mahasiswa agar mereka setelah menyelesaikan studinya menjadi siap untuk memasuki lapangan pekerjaan apa pun. Tambahan pula, ia memiliki kelebihan kemampuan yang tidak dimiliki oleh sarjana bidang ilmu pengetahuan lain, yaitu kemahirannya untuk membaca kebudayaan materi.

Menurut Rahtje, penelitian terhadap kebudayaan materi masa kini dapat menyumbangkan empat hal pada penelitian maupun pendidikan arkeologi. Empat kontribusi itu adalah:

  • Mengajarkan prinsip-prinsip arkeologi. Dikatakan bahwa artifak modern memberikan baik pengajar maupun mahasiswa arkeologi banyak kemudahan. Di samping itu, banyak penelitian, termasuk di dalamnya Proyek Sampah, dimulai sebagai ladang pelatihan mahasiswa atau diilhami oleh mereka. Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa KKL terhadap kebudayaan materi masa kini juga memberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas mahasiswa.
  • Menguji prinsip-prinsip arkeologi. Dari beberapa hasil penelitian dapat diketahui pula bahwa kajian terhadap artifak modern memainkan peran yang makin penting dalam pengembangan metodologi arkeologi.
  • Menyelamatkan ethnoarkeologi. Apa yang dimaksudkan di sini dengan menyelamatkan ethnoarkeologi adalah merekam arkeologi masa kini. Melalui kajian terhadap kebudayaan materi masa kini, perekaman terhadap perilaku manusia dan kebudayaan materi dapat menyelamatkan ethnoarkeologi.
  • Menghubungkan masyarakat kita sekarang dengan masyarakat masa lampau. Melalui kajian terhadap kebudayaan materi, pembandingan antar masyarakat yang beragam, baik secara sinkronis maupun diakronis dapat dikembangkan. Melihat keadaan sekarang ini, di mana lulusan arkeologi tidak lagi dapat bekerja di lembaga-lembaga arkeologi, maka apa yang mereka perlukan sesungguhnya adalah penguasaan kemampuan dasar prinsip-prinsip umum metodologi arkeologi yang tidak hanya dapat diterapkan untuk penelitian arkeologi belaka, melainkan juga terhadap perilaku atau kebudayaan materi sebagai kebudayaan materi. Kemampuan itu dengan sendirinya dapat diterapkan pada di mana pun ia akan bekerja. Apabila kita mempergunakan analogi lulusan sejarah, maka kelebihan mereka dibandingkan dengan sarjana lain adalah kemampuan mereka untuk berpikir historis, dalam arti mengkaji segala sesuatunya selalu dalam perspektif historis . Kemampuan yang demikian inilah yang diperlukan oleh lulusan Jurusan Arkeologi, yang memungkinkan mereka bekerja di bidang apa pun dengan berbekal ilmu arkeologi. Atas dasar ini maka ahli arkeologi dapat mengkaji segala sesuatunya dalam perspektif arkeologi, dengan melatih para mahasiswa untuk menganalisis kebudayaan materi dan kemudian melakukan interpretasi terhadap nya, sehingga akhirnya dapat mengetahui makna yang tersembunyi di belakangnya. Dengan bekal kemampuan seperti ini maka para lulusan Jurusan Arkeologi akan lebih leluasa dalam mencari pekerjaan oleh karena tidak lagi terpaku pada kemampuan teknis kearkeologian (craft) yang lapangan pekerjaannya telah menjadi sedemikian sempit.

Sebagai penutup dapat saya sampaikan beberapa hal. Pertama dengan mengubah paradigma, penelitian arkeologi dapat menjadi lebih jelas, baik ditinjau dari sudut obyek maupun tujuan, yaitu kebudayaan. Namun demikian terlihat pula bahwa perubahan itu ada yang hanya sampai pada tataran epistemologi, dalam arti bahwa apa yang dipermasalahkan hanyalah masalah verifikasi kemungkinan penerpan teori itu dalam arkeologi, dan belum sampai pada masalah metodologinya.

Telah terlihat pula bahwa perkembangan arkeologi itu tidak diimbangi dengan publikasi yang berkenaan dengan masalah pendidikan ahli arkeologi. Dalam kaitan dengan keadaan Indonesia, masalah yang dihadapi adalah bahwa di samping terjadi perubahan sistem pendidikan, juga perubahan yang terjadi pada kebijakan kepegawaian. Dengan sendirinya perubahan paradigma itu pun perlu pula menyangkut perubahan di bidang pendidikan. Di atas telah ditunjukkan bahwa orientasi ke kajian kebudayaan materi dapat menawarkan pelaksanaan KKL secara lebih mudah, sederhana, manarik dan murah.

Hal ini disebabkan oleh perubahan pandangan bahwa prinsip-prinsip dasar arkeologi dapat diajarkan melalui kebudayaan materi masa kini. Landasan berpikir yang diterapkan adalah bahwa baik perlaku maupun residu yang ditinggalkannya kedua-duanya dapat diamati dan diungkapkan maknanya, yaitu melalui metodologi arkeologi. Atas dasar itu pulalah maka metodologi arkeologi dapat diajarkan melalui kajian kebudayaan materi masa kini.

Hal lain yang dapat dijadikan perhatian tetapi perlu memperoleh tekanan dalam kaitan dengan perubahan paradigma itu adalah masalah kontribusi arkeologi bagi masyarakat. Dalam kaitan dengan Indonesia, masalah ini pun perlu secara serius menjadi perhatian kita semua. Tambahan pula dewasa ini masalah kebudayaan telah dipersempit cakupannya dalam hanya masalah pariwisata. Secara sepintas, di atas telah ditunjukkan bahwa dengan perubahan paradigma ini, arkeologi paling tidak dapat mengembangkan atau mengenali identitas bangsa. Tentunya untuk masalah ini perlu kiranya diadakan evaluasi yang lebih mendalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *