Cina Luaskan Ekspansi ke Nusantara

Cina Luaskan Ekspansinya ke NusantaraNegeri Cina Meluaskan Ekspansinya ke Nusantara. Jaman Akhir Dinasti Han Th. 206 SM – 220 M. Negeri Cina mulai mengembangkan ekspansi penjajahannya ke kawasan kepulauan Nusantara. berpangkalan di Kwan Tung (= Kanton) yang  sekaligus dijadikan pusat bandar dan pelabuhan perdagangan di  Cina Selatan.

Dikirimkan ekspedisi-ekspedisi kapal dagang, kapal perang dan perampok-perampok, bajak-laut Cina ke Formusa (Taiwan), daerah-daerah Filipina ke daerah Kalimantan sebelah Utara, Laut Cina Selatan, Teluk Siam, Kalimantan Barat, Semenanjung Malaya sampai masuk ke Selat Malaka. Sementara orang Cina ada yang menyasar terdampar ke daerah Minahasa di Sulawesi Utara.

Di tempat-tempat pelabuhan dagang ekspedisi-ekspedisi Cina itu menurunkan orang-orang Cina untuk menetap di sana sebagai pedagang. Mereka bertinggal dalam perkampungan-perkampungan Cina yang disebut pecinan. Banyak barang-barang hasil perdagangan dan hasil perampokan atau perampasan bajak-laut Cina mengalir ke Kwan Tung (Kanton)  yang  di waktu sebelum itu  hanya  menjadi pusat penampung perdagangan transit saja.

Loading...

Bahan dan barang perdagangan itu dari Kwan Tang (Kanton) masuk ke pedalaman negeri Cina dan sebagian dari Peking diperdagang kan  ke negeri-negeri di Asia Tengah sampai ke negeri-negeri  di wilayah Rumawi melalui jalan darat (Jalan Sutera) di Asia Tengah.

MENARIK:  Sejarah Gunung Merapi

Tahun 100- 200 M

Pelayaran Perdagangan dari India ke Cina. Jaman Akhir Dinasti Han Th. 206 SM – 220 M.

Mulai terjadi pelayaran perdagangan dart India ke negeri Cina melalui Selat Malaka, Laut Jawa, Selat Karimata, Laut Sunda dan Laut Cina Selatan. Sebelum itu hubungan dagang kedua negeri tersebut berlangsung melalui jalan darat di Asia Tengah yang disebut “Jalan Sutera”. Hubungan persahabatan India – Cina mulai tumbuh baik sekali setelah masuknya Agama Budha ke negeri Cina melalui jalan darat di Asia Tengah pada tahun 64 Masehi.

Pedagang-pedagang India dalam pelayarannya ke negeri Cina juga diperlindungi oleh kapal-kapal perang dan disertai pula oleh perampok-perampok bajak-laut orang India. Pedagang-pedagang Indiapun mendirikan koloni-koloninya sendiri yaitu yang   disebut “kampung Keling” di bandar-bandar pelabuhan dagang yang dilaluinya di Nusantara. Pada awal abad ke-2 Masehi kapal-kapal  dagang India berserta kapal-kapal perang dan perampok bajak-lautnya itu dipimpin oleh Dewa Warman, seorang pedagang asal negeri Palawa yang juga bertindak sebagai utusan dagang dari  negeri-negeri Palawa, Salangkayana, Benggala, dsb.

MENARIK:  Mengenal Jejak Negeri Saba

Perampok-perampok bajak-laut Cina dan India banyak yang ditumpas oleh kerajaan-kerajaan pribumi Nusantara di sepanjang perairan Selat Malaka sampai di Laut Cina Selatan.

Catatan  :

Antara orang Cina dan orang India timbul suatu persahabatan yang sangat akrab pada masa tahun 100 – 900M. Persahabatan ini tumbuh karena banyak sekali persamaan-persamaan dalam agama, kepercayaan,  pandangan-hidup (falsafah) dan  moral  dari kedua  ras tersebut. Agama Cina adalah Agama Tao (= dewa, Tuhan, yang gaib) yang bercorak polytheisme. Agama Budha demikian pula. Perbedaannya hanya pada jumlah, jenis dan sebutan dewa-dewa saja. 

Pandangan-hidup Cina adalah moralisme atau ajaran moral dari Kong Hu Chu (Konfusianisme) dan Lao Tse yang oleh orang Cina dianggap sebagai “Nabi”. Moralisme Cina ini berdasarkan pandangan “adanya kemanunggalan  alam  dan manusia” yang oleh orang  Barat  disebut “pantheisme”.  Yaitu adanya keterjalinan hidup antara alam-lahir dan alam-gaib dengan manusia yang masih hidup dan arwah manusia yang telah meninggal. Penghormatan dan pemujaan terhadap arwah leluhur nenek moyang Cina adalah bersumber kepada Agama Tao dan moralisme Cina tersebut.

MENARIK:  Penelitian Lanjutan Mengenai Situs Gunung Padang

Demikian  pula  bagi orang-orang India yang  menganut  Agama Budha yang bobotnya terletak pada ajaran moral dari Gautama Budha yang  juga dipandang sebagai “Nabi” oleh para  pengikutnya. Pantheismepun sebenarnya ada dalam Agama Budha, yaitu kepercayaan tentang  ”reinkarnasi” yang pada hakekatnya adalah  sama  dengan adanya  hubungan antara suatu arwah-manusia yang telah  meninggal dengan manusia yang hidup.

Kepercayaan “reinkarnasi” ini mengakibatkan juga timbulnya penghormatan, pemujaan dan pendewaan terhadap suatu leluhur atau nenek-moyang. Demikianlah dekatnya  kepercayaan  dan pandangan-hidup dalam Agama Tao Cina dan Agama Budha India. Karena itulah Agama Budha dijadikan “Agama Resmi atau Negara” di negeri Cina pada Th. 100 M. Walaupun demikian dalam bidang kepentingan hidup sering juga terjadi bentrokan-bentrokan antara orang Cina dan orang India yang beragama Budha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *