Senjata Trisula Weda dalam Ramalan Jayabaya

Senjata Trisula Weda dalam Ramalan Jayabaya
A. Senjata Trisula Weda.

Bait terakhir ramalan Jayabaya mengandung nilai makna yang tersurat, penafsiran yang tersirat, juga berupa Sandi dan lainnya, dari Sandi yang terpecahkan terbaca isi yang terkandung ternyata mengandung ajaran Budi Pekerti Adiluhung, ada juga sedikit mengenai Hukum dan Tata Negara. Pembahasan Trisula Weda pada bagian kedua ini Kita fokuskan ke Budi Pekerti Adiluhung, Kita perlu memahami dulu apa sebenarnya Senjata Trisula Weda yang dibawa oleh Ratu Adil, Kita kaji dari beberapa sumber sebelum kita membahas hal ini lebih lanjut.

1. Arti kata Senjata Trisula Weda

  • Senjata adalah alat untuk, perlindungan Diri, berkelahi, menyerang, berperang. Senjata dalam ajaran Trisula Weda adalah untuk memerangi dan menundukkan sifat dan nafsu hewani di dalam diri Manusia itu sendiri, supaya menjadi Manusia Berbudi Pekerti Adiluhung hidup harmonis sebagai Manusia Seutuhnya.

“Senjata adalah suatu alat yang digunakan untuk melukai, membunuh, atau menghancurkan suatu benda. Senjata dapat digunakan untuk menyerang maupun untuk mempertahankan diri, dan juga untuk mengancam dan melindungi. Apapun yang dapat digunakan untuk merusak (bahkan psikologi dan tubuh manusia) dapat dikatakan senjata. Senjata bisa sederhana seperti pentungan atau kompleks seperti peluru kendali balistik”.

Loading...
  • Trisula adalah merupakan Senjata bermata tiga (senjata Dewa). “Makna warna Biru dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari dan laut, keseimbangan alam, penyatuan kebangkitan, pemeliharaan, pemusnahan dan kebebasan rohani”.
  • “Weda adalah berasal dari bahasa Sanskerta, bahasa Indonesia berarti “ilmu pengetahuan”, Secara etimologi kata Weda berakar dari bahasa Sanskerta kata “vid”, yang berarti “mengetahui”, umat Hindu percaya bahwa isi Weda merupakan kumpulan wahyu dari Brahman (Tuhan) dan merupakan kitab suci agama Hindu”.

” Sumber ajaran agama Hindu adalah Kitab Suci Weda yaitu kitab yang berisikan ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi.”

** Dari beberapa sumber seperti makna petikan diatas Senjata Trisula Weda dapat Kita jabarkan :

Senjata Trisula Weda pemberian Dewa yang dibawa oleh Ratu Adil adalah ajaran suci Wahyu dari Tuhan, bersimbol Senjata Trisula Weda satu pasang yaitu Trisula Weda Raja (laki-laki) dan Trisula Weda Ratu (perempuan). Satu pasang Senjata Trisula Weda ini juga merupakan simbol kehidupan dan Jagad raya identik dengan simbol Lingga dan Yoni yang banyak terdapat pada peninggalan Purbakala pada Candi-candi.

2. Pedoman Senjata Trisula Weda.

Mengapa Kita harus berpedoman pada Senjata Trisula Weda ini marilah Kita lakukan pengkajian kebenarannya dan bagaimana falsafah yang terkandung dalam ajaran senjata Trisula Weda itu. Kita perlu mengupas apa yang terkandung dalam ajaran Trisula Weda sebelum Satrio Piningit mengajarkan ajaran Trisula Weda, hal yang Kita kupas sebenarnya adalah Kebenaran, Kebenaran sejati merupakan suatu hal yang pasti dan logis, baca uraian singkat di bawah ini.

  • Jejeg atau tegak lurus (Vertikal) adalah merupakan hubungan Kita dengan Tuhan, Kita percaya bahwa adanya Dunia dan jagad raya ini berasal dari sebab dan akibat yang diciptakan oleh Tuhan dan Kita seharusnya selalu ingat apa yang kita kerjakan merupakan rasa bakti dan terima kasih kepada Tuhan dengan hati yang tulus, berbuat baik dan memperlakukan baik terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya, hal ini selaras dan Harmonis dengan keteraturan hukum-hukum alam.

Contoh : Matahari mengelilingi pusat Galaksi, Bumi mengelilingi Matahari dan Bulan mengelilingi Bumi, semuanya berada pada jalur masing-masing, andai keluar dari jalurnya yang terjadi adalah kehancuran, disinilah siapa yang melanggar hukum alam akan hancur dan binasa. Ratu Adil mengajarkan Budi Pekerti Adiluhung yang sesuai dan selaras dengan Keharmonisan hukum Alam dengan pedoman Senjata Trisula Weda.

* Warna Kuning Emas pada Senjata Trisula Weda adalah menggambarkan Spiritual tinggi yang sudah dapat pencerahan dari Tuhan, siapa yang belajar dan melaksanakan ajaran Trisula Weda dalam kehidupan akan mendapat pencerahan! *

  • Horizontal adalah untuk hidup Harmonis berdampingan sesama makhluk ciptaan Tuhan. Pada Senjata Trisula weda berada pada pangkal gagang atau pangkal danganan Senjata Trisula Weda berupa simbol empat warna untuk Trisula Weda Raja segi lima untuk Trisula Weda Ratu lingkaran identik dengan (Lingga dan Yoni) yang merupakan simbol kehidupan dan Jagad raya pada sisi kelahiran Manusia, pada proses kelahiran Manusia yaitu :
  • Pertama yang keluar adalah air kawah berwarna Putih, Kakang Kawah sebagai saudara tua berwujud gaib berwarna  Putih, sebagai arah Timur. (bhs Jawa : Kakang Kawah = bhs Indonesia : Kakak Kawah)
  • Kedua yang keluar adalah Diri Kita (Pancer) manca warna atau warna-warni arah di tengah disebut Pancer yaitu Diri Kita yang sebenarnya berwujud materi dan roh (Jasmani dan Rohani) dengan berbagai nafsu dan keinginan.
  • Ketiga yang keluar adalah Ari-ari (Placentra) berwarna Kuning, Adi Ari-ari sebagai Adik pertama berwujud gaib berwarna Kuning, sebagai arah Barat.
  • Keempat yang keluar adalah getih (darah) berwarna Merah sebagai Adik kedua berwujud gaib berwarna Merah, sebagai arah Selatan.
  • Kelima adalah berasal dari tali Pusar Kita dipotong dari Ari-ari selanjutnya berwarna hitam sebagai Adik ketiga, sebagai arah di Utara.

Dari proses Kelahiran ini Empat Saudara Kembar itu diakui keberadaannya sebagai Saudara Kembar Empat yang lahir bareng sehari, pada Tradisi Jawa ada perlakuan dan cara khusus untuk menghormati dan menghargai Keempat Saudara Gaib itu, dari proses kelahiran ini dengan Empat Saudara Kembar dikenal dengan Dulur Papat Limo Pancer.

Dari 4 macam warna kelahiran adalah menjadi 4 arah mata angin urutan searah jarum jam ; Timur berwarna Putih, Selatan berwarna Merah, Barat berwarna Kuning, Utara berwarna Hitam. Dari 4 warna itu kemudian diperbanyak menjadi 8 warna dan 8 arah mata angin dan yang di tengah Manca Warna adalah Diri Kita Sendiri. (lengkapnya ada 9 warna dan arah mata angin). Kita hidup menempati ruang dan waktu berdampingan hidup dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan, dalam hidup sesama makhluk ciptaan Tuhan kita harus berusaha keras untuk hidup Harmonis yaitu Berbudi Pekerti Adiluhung berpedoman Senjata Trisula Weda dari Ratu Adil.

Senjata Trisula Weda terdiri atas sepasang senjata yaitu Senjata Trisula Weda Laki-laki (Raja) dan Senjata Trisula Weda Perempuan (Ratu), senjata sepasang ini identik dengan Lingga dan Yoni penggunaan satu pasang senjata Trisula berbeda antara Trisula Weda Raja dan Trisula Weda Ratu, ikuti penjelasan dibawa ini:

  • Senjata Trisula Weda Raja, untuk menjaga keharmonisan hidup dengan yang lain Kita harus berpegang dan berlaku jujur sehingga Kita bisa melaksanakan dan menjalankan kebenaran, kebijaksanaan dan keadilan, jika Kita melepas kejujuran maka gugurlah tiga hal itu, hal ini Kita harus menggunakan Senjata Trisula yang berada pada pegangan tangan kanan yaitu Trisula Weda Raja untuk menyerang. Trisula weda ini sebenarnya fokus pada Hukum dan penegak Hukum. Kejadiannya dapat terjadi pada pengalaman hidup orang awam dimana kebenaran dan Keadilan harus ditegakkan dengan Senjata Trisula Weda Raja. Harus di ingat kebenaran dan Keadilan bisa ditegakkan kalau Kita berpegang kejujuran dan Kebijaksanaan, Trisula Weda Raja ini untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan.

(Simbol gambar semua ketajaman mata Senjata Trisula Weda menghadap ke atas atau menghadap kedepan) 

  • Senjata Trisula Weda Ratu, pada kategori persoalan yang berbeda dengan karakter Trisula Weda Raja, untuk menjaga supaya keharmonisan hidup tetap terjaga yaitu dengan menggunakan Trisula weda Ratu, dimana kita harus menyembunyikan kebenaran dan kejujuran. Kita harus bijaksana dan adil, dengan keadaan ini Kita gunakan Trisula Weda Ratu satu ketajaman matanya pada Benar menghadap ke bawah atau ke belakang, Trisula Weda Ratu merupakan pegangan tangan kiri. Trisula Weda Ratu ini untuk tangkisan buang (menangkis dan dibuang), segala sesuatu yang buruk dengan Trisula Weda Ratu ini Kita tangkis dan Kita buang.

Jika Kita menjadi penengah diantara persoalan dari yang bermusuhan seseorang atau kelompok, berlainan waktu sama-sama mengadukan saling menghina dan mencela maka Kebenaran dan Kejujuran tidak Kita pakai diantara yang bermusuhan, jika Kita berlaku benar dan Jujur mengatakan apa yang dikatakan kepada masing-masing di antara yang bermusuhan yang akan terjadi adalah perkelahian, maka kata-kata keduanya yang mengandung inti permusuhan Kita sembunyikan dan yang harus Kita lakukan adalah berusaha untuk mendamaikan kedua pihak dengan kata-kata Bijak.

(simbol gambar satu mata pada Benar Senjata Trisula Weda tajamnya menghadap kebawah atau menghadap kebelakang)

Dari pedoman Senjata Trisula Weda ini secara horizontal hidup Kita lebih fleksibel dan dapat harmonis dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan sehingga hidup Kita sehat lahir batin, demikian juga hubungan Vertikal kepada Tuhan akan lebih fokus.

3. Uraian ajaran yang terkandung dalam Senjata Trisula Weda Raja & Ratu.

Untuk mempelajari bagian-2 ini perlu pemahaman bagan gambar dan penjelasan pada bagian-1, pahami gambar nanti dengan sendirinya Anda mudah mengerti dan dapat mempraktekkan pada kehidupan nyata dengan hati yang tulus.

  • Benar, adalah hal yang hakiki, sesuai dengan kenyataan, dalam praktek di kehidupan ini jangan sampai melanggar hukum. Hukum ada yang tertulis dan tidak tertulis. Hukum tertulis adalah hukum Pidana dan Perdata, hukum yang tidak tertulis. hukum adat. Kebenaran juga berada pada masing-masing Agama dan Kepercayaan dimana Kita tidak boleh berebut Kebenaran, jika Kita berebut kebenaran akan terjadi saling menyalahkan dan menjadi keduanya salah, tidak dapat mengetahui Kebenaran Sejati. Bertetangga dan dengan lingkungan Kita harus berusaha keras bertindak laku benar supaya Harmonis dan juga dengan alam supaya selaras dengan alam.
  •  Bijaksana, sebagai Manusia hidup Kita harus selalu bijaksana, Untuk mencapai Kebijaksanaan diperlukan kecerdasan dan kecermatan untuk meneliti dan memahami sesuatu persoalan, maka Kita harus selalu belajar memilah dan menimbang persoalan sehingga tercapai hasil yang bijaksana. Untuk mencapai hasil yang bijaksana diperlukan ketulusan hati.
  • Adil, Untuk berbuat adil diperlukan hati yang bersih, tidak boleh pilih kasih atau berat sebelah maka hasil yang adil itu bisa dicapai. Dalam jaman Ratu Adil akan ada perbaikan menyeluruh pada semua tingkatan sehingga siapa yang melanggar hukum akan terkena akibatnya dan siapa saja tidak dapat menghindari hukum, hukum ditegakkan dan Keadilan tercipta jadi kenyataan.
  • Jujur, terletak pada pegangan atau danganan dimana Kita barus berpegang pada kejujuran untuk menegakkan Kebenaran, Kebijaksanaan dan Keadilan, dari kejujuran ini Kebenaran dapat Kita tegakkan, jika satu ini lepas maka lepaslah ketiganya yaitu menjadi tidak benar, tidak bijaksana, tidak adil.
  • Jejeg (Vertikal), merupakan simbol hubungan Vertikal yaitu hubungan dengan Tuhan. Tuhan yang menciptakan Kita, Jagad Raya dan isinya maka hubungan Kita dengan Tuhan jangan sampai lupa, Kita harus berusaha keras untuk selalu mengingat Tuhan, diantaranya adalah mengingat nama-nama Tuhan dalam hati, semua gerak dan perbuatan Kita karena Tuhan marilah Kita berbuat baik, rejeki lahir dan batin semuanya dari Tuhan dan mensyukuri pelimpahan nikmat serta rahmat-Nya.
  • Empat warna : Putih, Kuning, Merah, Hitam, empat warna ini berhubungan langsung dengan simbol Lingga dan Yoni, merupakan simbol kehidupan hubungan horizontal kepada sesama makhluk ciptaan-Nya (Jagad raya dengan isinya), juga Kita harus ingat kepada kelahiran Kita dilahirkan ke Dunia ini dengan perantara seorang Ibu. Diri Kita berada di arah tengah mata angin sebagai Pancer yaitu manca warna (berbagai macam warna), sedangkan empat warna berada pada empat penjuru mata angin, urutan searah jarum jam (warna Putih di Timur, warna Merah di Selatan, warna kuning di Barat, warna Hitam di Utara), juga Kita Harus ingat kepada leluhur Kita dimana Kita harus meneruskan untuk menjalankan Kebaikan terutama Budi Pekerti Adiluhung yang pernah dijalankan pada jaman Buda. Ratu Adil membawa misi ini untuk mengembalikan ke jaman Buda atau jaman Budi Pekerti Adiluhung dengan pedoman Senjata Trisula Weda.
  • Landhepe Triniji Suci, tajamnya tiga menjadi satu nan suci atau tajamnya tritunggal nan suci. Ketiga bagian pada Trisula Weda ini jika siapa saja dapat menyatukan dan melaksanakan dalam kehidupan yaitu harmonisnya hubungan horizontal dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan dan secara Vertikal yaitu hubungan harmonis dengan Tuhan akan menjadi Manusia punya kelebihan (sakti).

B. Kedatangannya Ratu Adil membawa Senjata Trisula Weda.

Datangnya Ratu Adil dengan Tim Satrio Piningit di Dunia ini untuk membimbing Manusia kembali ke jalur Selaras-nya alam dan keteraturan Jagad Raya. Dengan Senjata Trisula Weda, kekuatan alam, makhluk halus dan Tim Satrio Piningit yang dipimpin Ratu Adil akan dapat mengubah kehidupan Dunia dari yang kacau dan serba terbalik itu untuk menjadi selaras dengan hukum alam dan Jagad raya hingga kembali menjadi Harmonis. Siapa yang membantah akan cepat musnah atau mati (baca bait-166).

Bait 159 menjelaskan kedatangannya Ratu Adil tampil menduduki kekuasaan Ratu, disini jelas Ratu Adil adalah Laki-laki dan merupakan Manusia pilihan Tuhan. Jaman yang serba terbalik akan dikembalikan pada garis jaman Adil dengan Senjata Trisula Weda yang kekuatannya tiada bandingnya akan dimulai pembalikan jaman pada mula kehadirannya, kuasanya sampai seluruh penjuru Dunia (“bahasa Jawa : sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu = bahasa Indonesia : pada delapan penjuru arah mata angin, menduduki kekuasaan Ratu”).

Kekuatan yang menyatu pada Ratu Adil dengan Tim Satrio Piningit yaitu diantaranya adalah Senjata Trisula Weda, kekuatan alam dan kekuatan makhluk halus, siapa saja yang melanggar Hukum tidak dapat bersembunyi dimanapun akan mendapat ganjarannya atau balasannya (hukuman tidak dapat dihindari). Pada bait 159 ini isinya menggambarkan jelas Ratu Adil bukan dari PARPOL ataupun juga bukan pilihan Rakyat jadi jelas bukan Pejabat Pemerintah, akan tetapi Manusia pilihan Tuhan, hal ini diperkuat bait 171, (“bahasa Jawa : nganggo simbol ratu tanpa makutha = bahasa Indonesia : memakai simbol Ratu tanpa Mahkota”).
————
* Bahasa Jawa

159.
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
bakal ana Dewa ngejawantah
apengawak Manungsa
apasurya padha bethara Kresna
awatak Baladewa
agegaman trisula wedha
jinejer wolak-waliking zaman
wong nyilih mbalekake,
wong utang mbayar
utang nyawa bayar nyawa
utang wirang nyaur wirang

* Bahasa Indonesia

selambat-lambatnya kelak menginjak tutup tahun
pada delapan penjuru arah mata angin, menduduki kekuasaan Ratu
akan ada Dewa tampil
berbadan Manusia
berparas seperti Batara Kresna
berwatak seperti Baladewa
bersenjata Trisula Weda
dimulai datangnya perubahan zaman
orang pinjam mengembalikan,
orang berhutang membayar
hutang nyawa bayar nyawa
hutang malu dibayar malu

Petikan :
“Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Istilah Deva sebagai mahluk Tuhan adalah karena Deva dijadikan ( dicipta-kan ) sebagaimana dikemukakan di dalam kitab Reg Veda X. 129.6. Dengan diciptakan ini berarti Deva bukan Tuhan melainkan sebagai semua mahluk Tuhan yang lainnya pula, diciptakan untuk maksud tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja ( karma ). “
*(Budaya Bali Dewata Nawa Sanga – Penguasa 9 Penjuru Mata Angin).
**(Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Dewa-Dewi Hindu.)

**Dewata Nawa Sanga, Penguasa 9 Penjuru Mata Angin, berhubungan dengan kemunculan Ratu Adil disebut Dewa yaitu sebagai Dewa yang ke-9 berada di tengah arah mata angin.**

Bait 166 menggambarkan kesaktian Ratu Adil lewat ucapan dan bait ini juga menggambarkan kesaktian lewat hati dan pikiran, kesaktian ini sering Penulis dengar dari orang-orang Tua, selain Ratu Adil orang-orang Jawa pada masa lalu jaman Kabudan atau jaman Buda (jaman budi pekerti), orang-orang Jawa ucapannya dapat langsung jadi nyata seperti sabda Ratu Adil, hal ini bisa terjadi pada orang-orang Jawa pada masa jaman Buda karena pada masa itu orang-orang Jawa Berbudi Pekerti Adiluhung, Jujur dan hatinya bersih, ini sesuai ajaran Senjata Trisula Weda yang dibawa oleh Ratu Adil untuk mengembalikan ke jaman Budi Pekerti Adiluhung atau ke jaman Buda. Kesaktian Ratu Adil di bait 166 ini menggambarkan tidak dapat dibantah ucapan dan ajarannya, harus hati-hati jika di hadapan Ratu Adil jangan sampai ucapannya tidak terkendali karena berbahaya dan perlu dicatat Ratu Adil bukan tipe orang yang gila hormat.
————-
* Bahasa Jawa

166.
idune idu geni
sabdane malati
sing mbregendhul mesti mati
ora tuwo, enom padha dene bayi
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada
garis sabda ora gentalan dina,
beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira
tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa
nanging inung pilih-pilih sapa

* Bahasa Indonesia

ludahnya ludah api
sabdanya sakti (terbukti)
yang membantah pasti mati
orang tua, muda maupun bayi
orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi
garis sabdanya tidak akan lama
beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta mentaati sabdanya
tidak mau dihormati orang se tanah Jawa
tetapi hanya memilih beberapa saja

C. Pengkajian yang tersurat dan tersirat bait terakhir ramalan Jayabaya.

Marilah Kita sekarang mengkaji dan mengoreksi beberapa bait yang tersurat dan tersirat dalam bait-bait yang ada pada bait terakhir ramalan Jayabaya, dimana sudah banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran hukum dan tatanan hidup secara merata pada setiap tingkat kehidupan, pada bait ramalan Jayabaya digambarkan sampai pada tingkat Ratu (Raja). Pedoman Senjata Trisula Weda sudah waktunya digunakan agar tatanan hidup Manusia berubah kembali menjadi berbudi pekerti Adiluhung dan kembali selaras dengan alam kehidupan dan Jagad raya. Dari hasil membaca tanda alam Ratu Adil sudah ada tinggal tunggu waktu keluarnya sebagai Master dari Para Satrio Piningit dan akan bergelar Ratu Adil.

Bait 141 adalah merupakan gambaran kejadian bencana alam yang sedang terjadi sudah diluar normal tidak ada tanda-tanda jika akan terjadi bencana ini menandakan terjadinya keadaan yang negatif penyebabnya adalah Manusia yang banyak melakukan hal perbuatan diluar jalur hukum alam, sudah banyak getaran frekuensi negatif (aura negatif) yang berlawanan dengan keharmonisan alam sehingga keadaan alam goyah dan untuk kembali menjadi harmonis memerlukan perubahan (evolusi) yang berakibat bencana-bencana diluar normal.

Banyak Manusia yang pada takut terbongkar rahasia keburukan pribadinya karena perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran Budi Pekerti Adiluhung, sehingga membenci pada Orang-orang waskita yang sering melakukan tirakat berpuasa Pati geni (puasa cara Orang-orang Jawa yaitu tidak makan, tidak minum, tidak melihat api + tidak melihat cahaya dan tidak tidur).
————
* Bahasa Jawa

141.
banjir bandang ana ngendi-endi
gunung njeblug tan anjarwani, tan angimpeni
gehtinge kepathi-pati marang pandhita kang oleh pati geni
marga wedi kapiyak wadine sapa sira sing sayekti

* Bahasa Indonesia

banjir bandang dimana-mana
gunung meletus tidak dinyana-nyana, tidak ada isyarat dahulu
sangat benci terhadap pendeta yang bertapa, tanpa makan dan tidur
karena takut bakal terbongkar rahasianya siapa anda sebenarnya

Bait 142 adalah gambaran jelas situasi jaman sekarang ini dimana Manusia sudah banyak yang melupakan Budi Pekerti Adiluhung sehingga hidupnya menjadi gila tidak membedakan rejeki halal dan haram pada berebut untuk mendapat bagian, orang-orang berdosa hidupnya pada hura-hura.

Petani di bait 142 ini bukan petani yang menanam padi di sawah tapi merupakan gambaran Orang-orang yang berbuat jujur mengajarkan kebaikan dan Budi Pekerti dalam kehidupan ini akan mempunyai tantangan besar karena akan dilecehkan, tidak digubris dan difitnah.
————
* Bahasa Jawa

142.
pancen wolak-waliking jaman
amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali,
isih beja kang eling lan waspadha

* Bahasa Indonesia

sungguh zaman gonjang-ganjing
menyaksikan zaman gila
tidak ikut gila tidak dapat bagian
yang sehat pada olah pikir
para petani dibelenggu
para pembohong bersuka ria
beruntunglah bagi yang lupa,
masih beruntung yang ingat dan waspada

Kejujuran adalah keindahan kejujuran adalah ketentraman kejujuran adalah kedamaian kejujuran adalah kebahagiaan kejujuran adalah budi pekerti Adiluhung kejujuran adalah selaras dengan keteraturan alam dan Jagad raya, dan masih banyak kebaikan lagi, apakah Anda masih ragu ? Jika masih ragu Anda pelajari bait 143 ini.

Bait ini mencerminkan orang-orang yang tidak jujur dan Para Koruptor di dalam kehidupan ini pada jaman sekarang, kemunculan Ratu Adil dengan makhluk halus, Tim Satrio Piningit dan kekuatan alam akan menyelesaikan hukumnya dengan kekuatan yang tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun, kini tanda-tanda alam sudah ada dan energi mulai beraksi meresap ke dalam empat unsur dan pikiran mulai tanggal, 07 Januari 2013, reaksi gejolaknya naik secara Linier dan tidak lebih dari 2 tahun akan mencapai titik maksimum.

Bait 143 adalah menggambarkan kehidupan nyata ini sampai tingkat Ratu (Raja) tidak menepati sumpahnya, Korupsi, merusak hutan, mencuri pertambangan dan kehidupan yang keras hingga hidupnya gelisah tersiksa dan kalau malam tidak dapat tidur nyenyak. Tidak mengindahkan ajaran dari para Leluhur Orang Jawa yaitu ajaran Budi Pekerti Adiluhung dan juga tidak mengindahkan ajaran Kebenaran yang diajarkan oleh berbagai Agama. Misi Ratu Adil dengan para Satrio Piningit membawa kembali kebenaran dengan ajaran Senjata Trisula Weda, Dengan ini Budi Pekerti Adiluhung ditegakkan hingga Keadilan tercipta jadi kenyataan benar-benar Adil dan merata.
———–
* Bahasa Jawa

143.
ratu ora netepi janji
musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu

* Bahasa Indonesia

raja tidak menepati janji
kehilangan kekuasaan dan kewibawaannya
banyak rumah tinggi bersusun
orang makan sesamanya
kayu gelondongan dan besi juga dimakan
katanya enak serasa kue bolu
malam hari semua tak bisa tidur

Bait 146 adalah menggambarkan kerusakan Budi Pekerti secara merata pada jaman sekarang ini dimana persekongkolan untuk melakukan kejahatan merajalela sehingga orang-orang yang jujur tersingkirkan dalam lingkungan pekerjaan karena pencurian barang dan manipulasi keuangan (pencurian uang atau Korupsi) telah mengakar. Orang-orang yang melakukan kejahatan berbangga Diri, yang berlaku benar hanya bisa termangu-mangu tidak dapat berkutik, pangkat dan kedudukan digunakan untuk kesempatan memperkaya Diri sumpahnya tidak ditepati, kehidupan mewah berfoya-foya, hidup gengsi dan selera tinggi sumber dari semua kejahatan karena nafsunya tidak dikendalikan.
———–
* Bahasa Jawa

146.
wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil
sing ora abisa maling digethingi
sing pinter duraka dadi kanca
wong bener sangsaya thenger-thenger
wong salah sangsaya bungah
akeh bandha musna tan karuan larine
akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebabe

* Bahasa Indonesia

orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil
yang tidak dapat mencuri dibenci
yang pintar curang jadi teman
orang jujur semakin tak berkutik
orang salah makin pongah
banyak harta musnah tak jelas larinya
banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab

Bait 150 adalah gambaran kehidupan jaman sekarang karena ada hukum diperjual belikan oleh kelompok orang-orang tertentu, sedang penegak hukum tidak dapat melaksanakan tugas yang sesuai dengan prosedur pada banyak kasus. Orang-orang berbuat baik tidak mendapat tempat dilingkungan Orang-orang jahat yang pekerjaannya menipu dan jahat karena Manusia menganggap menipu merupakan kebanggaan sebagai suatu hal yang utama.
————
* Bahasa Jawa

150.
ukuman ratu ora adil
akeh pangkat jahat jahil
kelakuan padha ganjil
sing apik padha kepencil
akarya apik manungsa isin
luwih utama ngapusi

* Bahasa Indonesia

hukuman raja tidak adil
banyak yang berpangkat, jahat dan jahil
tingkah lakunya semua ganjil
yang baik terkucil
berbuat baik manusia malah malu
lebih mengutamakan menipu

Bait 162 di bawah ini merupakan tanda Warning untuk yang bersalah melanggar hukum dan melecehkan hukum, tidak berpegang kejujuran, Kebenaran dan tidak Berbudi Pekerti. Ada tiga pihak yang bergerak, Nyamuk bukan nyamuk sebenarnya ingat nyamuk keluar malam dan menggigit berhubungan dengan darah, semut bukan semut sebenarnya tapi semut punya Ratu dan Putra Bethara Indra ikut bergerak memimpin pasukan makhluk halus, semua bergerak dengan cara dan Misi masing-masing.
————-
* Bahasa Jawa

162.
akeh wong dicakot lemut mati
akeh wong dicakot semut sirna
akeh swara aneh tanpa rupa
bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis
tan kasat mata, tan arupa
sing madhegani putrane Bethara Indra
agegaman trisula wedha
momongane padha dadi nayaka perang
perange tanpa bala
sakti mandraguna tanpa aji-aji

* Bahasa Indonesia

banyak orang digigit nyamuk mati
banyak orang digigit semut hilang
banyak suara aneh tanpa rupa
pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar
tak kelihatan, tak berbentuk
yang memimpin adalah putra Batara Indra
bersenjatakan trisula wedha
para asuhannya menjadi perwira perang
jika berperang tanpa pasukan
sakti mandraguna tanpa aji-aji (azimat)

Catatan : Terjemahan dari bhs Jawa ke bhs Indonesia pada bait-bait diatas ada yang tidak sama dengan sumbernya karena tidak akurat maka Penulis mengedit untuk menterjemahkan ke bahasa Indonesia yang lebih akurat.
Sumber : http://nurahmad.wordpress.com. bait terakhir ramalan jayabaya

D. Kesimpulan :

Ratu Adil membawa kekuasaan Ratu menduduki seluruh penjuru Dunia dengan Senjata Trisula Weda dan merupakan Manusia berbudi pekerti Adiluhung, Ratu Adil bukan Orang Pemerintah atau Pejabat, Ratu Adil adalah Manusia pilihan Tuhan mempunyai kesaktian alami tanpa aji-aji, ucapannya bisa langsung jadi kenyataan dan mempunyai pasukan Makhluk halus, jika menang tidak merendahkan yang lain.

Ratu Adil akan membawa kembali hidup Manusia ke jaman Buda yaitu jaman Budi Pekerti Adiluhung dengan Tim Para Satrio Piningit yang tetap rahasia selalu terhubung pada Jaringan Ratu Adil pada tingkat Spiritual, Ratu Adil itu sendiri sebenarnya dari Satrio Piningit yang telah keluar menjadi Master bergelar Ratu Adil.

Pelanggaran hukum dan pelecehan hukum mendapat peringatan keras dan bahaya karena merupakan pelanggaran ajaran Trisula Weda dan hukumannya berat, ada tiga pihak yang akan bertindak untuk membereskan dengan cara masing-masing yaitu Nyamuk, Semut dan Putra Bethara Indra (bait ke-162.) Perlu diingat Nyamuk dan Semut merupakan bahasa simbolik bukan serangga tapi Manusia.

MENARIK:  Ratu Adil

8 KOMENTAR untuk “Senjata Trisula Weda dalam Ramalan Jayabaya

    1. tri sula adalah kalimat Allah… dan yang akan membawa ajaran trisula adalah imam mahdi… ini adalah salah satu tanda akhir zaman…. saat ratu adil atau imam mahdi datang dia akan menguasai dunia… dan setelah ratu adil atau imam mahdi meninggal dunia maka akan banyak kembali manusia yang ingkar… dan kehancuran alam semestapun terjadi… itu penafsiran saya saja…

      View Comment
  1. Ditilik dari gaya bahasanya maka yang disebut ramala Jayabaya itu kemungkinan bukan dari JAYABAYA KEDIRI, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa baru, ada kemungkinan sudah jaman setelah DEMAK, mungkin juga Jaman Kasunanan SURAKARTA

    View Comment
  2. artikel ini sangat bagus dan bermanfaat untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan, dan alangkah baiknya jika kita melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam rangka meng-aji rasa dan aji diri.

    View Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *