Penjelasan Bait ke-164 Dalam Ramalan Jayabaya

Bait ke-164 Dalam Ramalan Jayabaya A. Pengkajian dan penjabaran rahasia bait ke-164

Pada bagian ke-3 dan selanjutnya Penulis ibarat sudah mendapatkan bibit Pohon besar Penulis harus bisa menumbuhkan bibit Pohon besar itu sampai menjadi Pohon Besar yang sehat kuat sampai berbunga dan berbuah yang bermanfaat untuk kehidupan Manusia dan Mahluk lainnya, hingga menjadi Pohon Abadi seabadi Kehidupan.

Pengkajian Kita pada Senjata Trisula Weda yang ke-3 kali ini merupakan pengkajian yang terfokus pada hidup rukun dan damai berhubungan dengan Agama, Adat, Budaya dan Kepercayaan yang sudah berlangsung lama di kehidupan Dunia ini. Kehidupan Bertuhan dan hidup yang Rukun dan Damai sesama ciptaan-Nya merupakan keselarasan hidup Harmonis yang harus diwujudkan bersama, berbudi Pekerti Adiluhung dengan berpegang dan berpedoman Senjata Trisula Weda.

Loading...

Pada bait ke-164 ini terkandung rahasia yang menjelaskan hidup beragama adalah tujuannya hidup rukun dan damai lahir batin. Raja Jayabaya membenarkan hidup bertuhan dan beragama. Tiap Pemeluk Agama hendaklah Beribadah dan Beramal tanpa pamrih dengan hati yang tulus dan suci, tidak mengharapkan imbalan dari Tuhan-nya maupun dari ciptaan-Nya. Ibadah dan Amal itu sebenarnya menuju keselarasan dan keteraturan hukum alam Horisontal dan Vertikal sesuai dengan Pedoman Senjata Trisula Weda supaya hidup Damai dan Harmonis.

Akal dan pikiran Manusia jika sudah sampai mencapai titik Puncak Kehampaan memerlukan arti dan isi hidup, supaya hidup tidak kacau dan supaya hidup menjadi berarti berdampingan dengan sesama ciptaan-Nya (Horisontal), juga berarti di hadapan Tuhan (Vertikal). Darisinilah sebenarnya asal mula semua Agama dan kepercayaan dengan nama-nama Tuhan masing-masing. Tiap-tiap Pemeluk Agama dan Kepercayaan tidak patut untuk menyombongkan diri dan menganggap dirinya suci hingga merendahkan yang lainnya.

Bait 164.
Bahsa Jawa :
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
ngerahake jin setan
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur
kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong

    Bahasa Indonesia :
putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti
menguasai seluruh ajaran (ngelmu)
memotong tanah Jawa dua kali
mengerahkan jin dan setan
seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda
tajamnya tritunggal nan suci
benar, tegak lurus, jujur
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong

B. Kepercayaan dan Leluhur.

Petikan :
Bahasa Jawa :
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti
Bahasa Indonesia :
putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti

Kita Hidup sekarang ini karena adanya Leluhur, darah Leluhur mengalir pada darah Kita masing-masing, darisinilah Kita wajib menghormati Leluhur Kita sendiri dan tidak ada alasan untuk merendahkan Leluhur sendiri. Sebagai orang Jawa selayaknya menghormati juga Leluhur Suku dan Bangsa lain, walau leluhur itu sudah berbentuk roh (arwah) yang berada pada dimensi Maha Gaib.

Adat, Kepercayaan dan Budaya perlu dipertahankan dan dilestarikan, meskipun ada Bangsa lain lewat duplikatnya atau kakitangan-nya (orang-orang Jawa dan Suku Bangsa lainnya) yang gencar berjuang mulai dari jaman Kerajaan sampai sekarang jaman Republik Indonesia yang bertujuan untuk menghapus dan mengkikis Adat dan Kepercayaan Jawa dengan Dokma dan Doktrinnya untuk diganti dengan Adat dan Kepercayaan Bangsa Asing. Sebagai orang Jawa hendaklah Kita patut untuk menjaga Kepercayaan dan melestarikan peninggalan Leluhur Kita sendiri yang beranekaragam itu.

Sebenarnya Kepercayaan, Adat dan Budaya Bangsa Kita mulai dari jaman Kerajaan sampai jaman sekarang ini Republik Indonesia ditindas dan dipersempit perkembangannya dengan berbagai cara termasuk pembodohan, merendahkan dan menghina Adat, Budaya dan Kepercayaan Leluhur Bangsa Kita untuk digantikan dengan Kepercayaan, Adat dan Budaya Bangsa Asing itu yang jelas berbeda tidak cocok dengan kehidupan di Negara ini.

MENARIK:  Lima Kitab Kuno Sebagai Bukti Kehebatan Nusantara Masa Lalu

Sebagai orang Jawa hidup berdampingan dengan Suku Bangsa lain, Kita tidak patut untuk memaksakan Ajaran Jawa dan Adat Jawa pada Suku dan Bangsa lain, kecuali Suku Bangsa lain itu memang berkemauan keras ingin belajar Ajaran Kepercayaan Jawa dan Adat Jawa, maka berilah Ajaran Kepercayaan Jawa atau Adat dan Budaya Jawa, ini termasuk berlakunya budi pekerti luhur, untuk keharmonisan dan selarasnya hukum alam sehubungan aneka ragam penciptaan. Sebagai Orang Jawa juga harus bersopan-santun seperti yang dilakukan oleh Leluhur Kita, dan tidak merendahkan Suku Bangsa lain, sebaliknya Kita Patut untuk menghormati dan menghargai seperti Kita menghargai dan menghormati diri Kita sendiri.

C. Penciptaan Langit, Bumi dan isinya.

Petikan :
Bahasa Jawa :
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
ngerahake jin setan
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur

    Bahasa Indonesia :
menguasai seluruh ajaran (ngelmu)
memotong tanah Jawa dua kali
mengerahkan jin dan setan
seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda
tajamnya tritunggal nan suci
benar, tegak lurus, jujur

Disini dimaksud rahasia Bumi dan Langit, ilmu yang berada di Bumi maupun di Langit ciptaan Tuhan harus dipecahkan rahasianya dan harus berusaha keras memecahkan ilmu dan rahasia-Nya karena tidak akan habis ilmu-Nya guna kemajuan dan kesejahteraan hidup Manusia dan kehidupan lainnya, hal ini kita Generasi Penerus Leluhur harus selalu memahami dan mempelajari rahasia ilmu ciptaan Tuhan yang berada di Bumi dan Langit. Kita harus selalu belajar ilmu pada setiap zaman.

Ilmu Tuhan ialah Kita harus belajar ilmu Budi Pekerti Adiluhung berasal dari peninggalan ajaran Leluhur Jawa, belajar ilmu Agama dan juga harus belajar dan berusaha keras belajar ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) untuk kesejahteraan hidup berguna untuk masyarakat luas dan untuk diri sendiri. Ilmuwan hendaknya berdampingan dengan Kasta Brahmana atau ahli Agama yang benar dan berbudi pekerti luhur.

Pada mula pertama diciptakan-Nya Dunia ini, diciptakan-Nya Maha Garba (Maha Yoni) adalah terciptanya Ruang dan waktu dimana sebenarnya Langit kosong berjenis Perempuan yang mengandung benih Laki-laki yang ditebarkan ciptaan-Nya yang berwujud material menyebabkan jarak Alam Nyata (alam Materi), Alam Gaib dan Maha Gaib terciptalah momentum keberadaan-Nya dengan ciptaan-Nya berwujud Logika dan non Logika. Kejadian ilusi (maya) yang ada diluar Logika (non Logika), kejadian-kejadian diluar Hukum-hukum Fisika dan Kimia sebenarnya adalah momentum pilihan Penciptaan Logika, siapa yang dapat mendapatkan celah Penciptaan Logika akan dapat meniadakan hukum-hukum Fisika, Kimia maupun jarak Ruang dan Waktu.

Langit menyentuh Bumi yang sebenarnya Bumi itu Laki-laki bukan Perempuan, yang menonjol dan menjulang adalah Lingga (Laki-laki) disini yang menonjol dan menjulang ke langit itu adalah Gunung-gunung, dan Bumi itu sendiri berada dalam kandungan ruang dan waktu (Maha Yoni). Persentuhan Langit atau Maha Yoni (Perempuan) dengan Bumi (Laki-laki) menyebabkan terjadinya Penciptaan-Nya berupa Makhluk hidup : Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan Mahluk halus.

Hamparan langit sebenarnya adalah Maha Yoni (Perempuan) merupakan ruang tidak bertepi dan waktu yang tidak terputus. Bumi, Bulan, Matahari dan Bintang-bintang dan Galaksi bertebaran di langit adalah Laki-laki berada dalam kandungan Maha Yoni. Pertapa Orang-orang Jawa mulai dari masa dahulu sampai sekarang sebenarnya sudah menyelaraskan (mensinkronkan) getarannya. Para Pertapa Laki-laki pergi bertapa ke atas Gunung-gunung adalah kekuatan dan kejantanan (Lingga), sedangkan Para Pertapa Perempuan pergi bertapa ke tepi laut atau pantai adalah Kepekaan dan kelembutan (Yoni). Tempat Pertapan Laki-laki berada di atas Gunung-gunung dan tempat Pertapan Perempuan berada dekat Laut atau disekitar Pantai.

MENARIK:  Misteri Satrio Piningit dalam Ramalan Jayabaya

Antar Kepercayaan dan antar Agama tidak dapat diperdebatkan karena masing-masing punya tatacaranya sendiri. Jalannya dan persepsi pada Tuhan tiap Agama dan Kepercayaan berbeda-beda sehingga berbeda-beda cara beribadah dan berbeda-beda cara MemujaNya. Jika antar Agama diperdebatkan berarti Manusia itulah yang bodoh tidak tahu arti hidup ini. Nama Tuhan masing-masing merupakan perbedaan sebutan atau beda bahasa saja, contoh.

Matahari yang bersinar memberikan panas di Bumi, setiap Suku dan Bangsa berbeda-beda untuk memberi namanya. Perbedaan Nama dan Keesaan Tuhan tidak perlu dipermasalahkan dan tidak perlu diperdebatkan. Hanya kebodohan saja mengklaim Agama dan Tuhan-nya yang benar atau Kepercayaan dianut dan dipeluknya yang paling benar dan diterima oleh Tuhan-nya, menyalahkan Agama lain dan Kepercayaan lain adalah bodoh.

Kalau Kita jujur sebenarnya Kita tidak tahu apa-apa hal Hakekat Tuhan, karena Hakekat Tuhan diluar ciptaan-Nya, juga Hakekat ciptaan-Nya rahasia Langit (Maha Yoni) tidak mungkin diberikan kepada makhluk ciptaan-Nya, tidak mungkin makhluk ciptaan-Nya dapat menerima Hakekat Langit (Maha Yoni), jika Hakekat Langit diberikan pada Makhluk yang terjadi adalah Peleburan Jagadraya dan isinya atau Peleburan Maha Yoni dan isinya. Kalau ada yang menjelaskan Hakekat Rahasia Langit adalah kisah saja atau cerita Spiritual yang dialami, bisa juga kebohongan dan pembodohan.

Pada intinya sumber semua Agama dan Kepercayaan sama yaitu berasal dari Titik Puncak Kehampaan Akal dan Pikiran Manusia untuk mendapat arti dalam hidup ini antar kehidupan sesama ciptaan-Nya dan dengan Sang Maha Pencipta. Manusialah yang besar Aku-nya (super ego) hingga hati dan pikiran Manusia menjadi buta. Manusia menjadi sombong dan angkuh merasa Agama atau kepercayaan yang dianut dan dipercayanya dianggap paling benar dihadapan Tuhan dan diterima disisi-Nya, lainnya dianggap salah hingga sampai berebut kebenaran menyalahkan lainnya.

Disinilah sebenarnya kebodohan Manusia, celah akal pikiran dan kelemahan Manusia yang bisa diperalat dan dipergunakan orang lain. Manusia dapat diperalat oleh Manusia-manusia yang berkepentingan untuk tujuannya dan ambisi, perorangan, Komunitas dan kekuasaan Negara yang berkepentingan untuk memperluas tujuan misinya termasuk perluasan daerah jajahan maupun jajahan Mental dan Spiritual Manusia, karena dapat menguntungkan Perorangan, Komunitas dan Negara tersebut dalam jangka pendek juga dalam jangka panjang.

Sebagai Manusia hidup beragama dan berkepercayaan berdampingan dengan Orang-orang yang berbeda-beda dengan Kita harus menghargai Agama dan Kepercayaan lain, juga kehidupan paralel yang berada pada dimensi lain yaitu kehidupan Gaib, baik kehidupan yang berada di Bumi dan langit termasuk kehidupan dimensi lain yang disebut makhluk halus berada pada alam Gaib, dan roh-roh Leluhur yang berada dalam alam Maha Gaib yang pernah hidup sebagai Manusia di Dunia ini.

Tatacara Adat, Agama dan kepercayaan jangan dicela dan jangan dihina karena tidak ada alasan untuk menghina dan mencela. Penghinaan dan celaan sebenarnya adalah kebodohan yang nyata, janganlah melakukan kebodohan ini. Bisa menghina dan mencela tidak lain adalah hasil dari dokma dan doktrin dari ajaran yang berbeda yaitu dari Komunitas atau kepentingan kekuasaan Negara yang memperluas daerah jajahannya.

D. Kelahiran Manusia.

Bahasa Jawa :
“Kaki among Nini among, Dulur papat limo Pancer, Kakang Kawah Adi Ari-ari Getih lan Puser”, bahasa Jawa.
Bahasa Indonesia :
“Pengasuh Tua Laki-laki dan Pengasuh Tua Perempuan, Saudara empat kelima Diriku”, bahasa Indonesia.

Adalah ajaran dan kepercayaan Jawa, empat Saudara dan Kaki among dan Nini among berwarna Hijau, berwujud gaib wajib dipercayai keberadaannya, Kita hormati dan Kita hargai keberadaannya, hal ini jelas hidup kita tidak terlepas dari keberadaannya, hidup Kita selalu di dampingi dimanapun Kita berada. Kelahiran Kita melalui Kandungan (Yoni) Seorang Ibu. Di dalam kandungan Seorang Ibu inilah Kita Manusia berawal kehidupan di Dunia ini.

MENARIK:  Sejarah dan Kejayaan Nusantara

Kita tidak dapat membalas keagungan dan Jasa Ibu, dari inilah Kita hidup jangan sampai durhaka kepada Ibu Seorang. Sebenarnya Diri Kita diciptakan hidup di Dunia ini tidak berwujud seorang Diri akan tetapi dengan Enam Pendamping gaib dan berjumlah tujuh dengan Diri Kita yang sebenarnya yang disebut Aku dan berwujud raga ini, dalam proses kelahiran diri Kita ke Dunia inilah keenam Saudara Kita itu terciptakan.

Keenam Saudara ini yaitu 2 Pengasuh Kaki Among dan Nini Among kadang disebut dengan nama (Mar Marti), keluar bersamaan lewat Dada Ibu berwujud gaib berwarna Hijau, 4 saudara kembar berwujud gaib keluar dalam proses kelahiran lewat jalan sama dengan jalannya Jabang Bayi, rincian masing-masing berwarna :

Kaki Among berwarna Hijau.
Nini Among berwarna Hijau.
Kawah berwarna Putih.
Pancer beraneka warna (Diriki, berwujud Lahir dan Batin)
Adi Ari-ari berwarna Kuning.
Getih berwarna Merah.
Puser berwarna Hitam.

Senjata Trisula Weda adalah Pedoman hidup, merupakan perwujudan tatanan kehidupan yang Harmonis dan Selaras dengan hukum alam yang dimulai dari awal kehidupan Manusia di dalam kandungan Seorang Ibu sampai lahir ke dalam Dunia (Maha Yoni) ini, dan sampai menempuh jalan kembali kepada-Nya menyatu dengan kehidupan Tuhan yang Maha Suci Abadi. Dari itu mulai kehidupan dalam Kandungan Seorang Ibu sudah sampai kembali kepada-Nya ada Kepercayaan Jawa dan tatacara adat Jawa hingga sampai pada terciptanya Kebudayaan Jawa dalam kehidupan Suku Jawa di Pulau Jawa ini.

Jagadraya dan isinya diciptakan dengan ketentuan hukum-hukumNya. Siapa yang berada diluar hukum alam atau menentang hukum alam berarti berada diluar petunjuk Pedoman Senjata Trisula Weda akan mendapat celaka dan kehancuran sampai kebinasaan, maka ingatlah selalu hukum-hukum-Nya, supaya keberadaan diri Kita dilahirkan di Dunia ini tidak celaka akan tetapi dapat hidup Harmonis dan Selaras dengan ciptaan-Nya yang lain disinilah tempat hamparan telaga kebahagiaan.

E. Catatan :

Bumi pada umumnya disebut Ibu Pertiwi dan umumnya Bumi dianggap Perempuan oleh kebanyakan Orang, akan tetapi di artikel Penulis diatas pemahamannya berbeda dengan anggapan umum.

Gunung-gunung, Bumi, Bulan, Planet-planet, Matahari, Bintang-bintang dan Galaksi-galaksi adalah Laki-laki semua yang berada dalam Ruang dan Waktu atau semuanya berada dalam Maha Yoni (Maha Garba), Maha Yoni itu adalah Perempuan.

    # Artikel diatas berbeda dengan konsep Lingga & Yoni Agama Hindu yang berada pada peninggalan Candi-candi.
* Maha Garba ( Maha Yoni) = Kandungan Maha Besar / Ruang Angkasa atau Langit.
# Pertapan = Tempat bertapa.
* Jabang Bayi = Bayi.
# Kaki = Laki – laki.
* Nini = Perempuan (Wanita).
# Kakang Kawah = Kakak Kawah (perwujudan gaib berwarna putih, dari air kawah waktu menjelang kelahiran Bayi, keluar dari dalam kandungan Ibu).
* Adi Ari-ari = Adik Ari-Ari (perwujudan gaib berwarna kuning, dari ari-ari yang keluar dari kandungan Ibu sesudah Bayi lahir).
# Getih = Darah (perwujudan gaib berwarna merah, darah keluar dari dalam kandungan Ibu setelah melahirkan Bayi).
* Pusar = Bekas potongan tali Plasenta pada pusar yang mengering berwujud gaib berwarna hitam.
# Among = Pengasuh.
* Lan = Dan.
# Adiluhung = Tinggi dan Mulia.

3 KOMENTAR untuk “Penjelasan Bait ke-164 Dalam Ramalan Jayabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *