Lapisan Geologi Versus Lapisan Budaya di Gunung Padang

Lapisan Geologi Versus Lapisan Budaya di Gunung Padang

Untuk mengerti kontroversi harus mengerti hubungan batu kekar kolom dalam kaitannya denganstruktur geologi. Arah kekar kolom yang terbentuk ketika lavamembeku akan selalu tegak lurus terhadap permukaan pendinginannya(=”cold fronts”) atau persentuhan udara/air dengan permukaan luartubuh cairan magma. Artinya secara umum dapat dikatakan bahwa arahkolom akan tegak lurus permukaan magma atau bidang lapisan (kalausudah membeku jadi batu). Lapisan batuan gunung api berstrukturkekar kolom yang teratur disebut “collonade”.

Tentu ada banyak variasi proses alamyang dapat membuat orientasi kolom menjadi lebih acak. Misalnyaapabila lava panas masuk ke dalam air sehingga “cold fronts”nyamenjadi kurang teratur dan menghasilkan arah-arah kekar kolom yangterlihat acak juga. Lapisan kekar kolom yang berorientasi acakdisebut lapisan “entablature”. Apabila ‘intrusi’ magmaalirannya berubah arah dari vertikal menjadi horisontal maka strukturkolom yang terbentukpun akan terlihat seperti kipas, dari horisontalmenjadi vertikal mengikuti arah aliran/lapisannya.

Loading...

Jadi pada prinsipnya hubungan arahorientasi batu kolom dan kedudukan lapisan batuannya dapat dijadikanpatokan untuk menentukan apakah batu-batu kolom yang tersusun dalamkondisi alamiah atau tidak. Ciri alamiah lain, permukaan kolom-kolombatunya bersinggungan rapat saling mengunci satu sama lain, dan tidakada material pengisi diantaranya.

Geolog Kelompok ABG berpendapat bahwaseluruh bentukan bukit Gunung Padang adalah alamiah, yaitu merupakantubuh intrusi vertikal batuan beku – sumbat lava yang berstukturkekar kolom (Kolom GATRA 8 Januari –Sutikno Bronto). Sumbat lavaadalah cairan magma yang naik vertikal melalui leher (utama) kepundangunung api purba dan membeku; kemudian badan gunung api disekelilingnya tererosi sehingga tersisa tubuh batuan sumbat lava,biasanya berbentuk silindris menjulang vertikal ke atas seperticontohnya “the Devil Tower Columnar Joints” di USA yang sangatterkenal. Dengan catatan, kekar kolom Devil Tower arahnya vertikal,mungkin dekat dengan “cold-front” diatasnya, yaitu bataspermukaan sumbat lava dengan udara di atas.

Hipotesa ini tidak didukung oleh bentukmorfologi bukit. Kemudian keberadaan sumbat lava hanya berdasarkansingkapan batuan gunung api yang sudah terubah oleh proses-proseshidrothermal di kaki bukit bagian utara yang diasumsikan terjadikarena dekat dengan leher kepundan gunung api purba itu.

Tidak adatubuh batuan sumbat lava yang tersingkap di Gunung Padang. Jugatidak ada data survey bawah permukaan yang menunjang bahwa sumbatlava tersebut benar-benar ada. Tapi walaupun apa yang dihipotesakanitu benar, data singkapan geologi hanya bisa diextrapolasikaninterpretasinya untuk bentukan geologi, tidak bisa dipakai untukmelihat apakah ada struktur non-geologi di atasnya. Untuk mengetahuiitu tetap diperlukan survey bawah permukaan.

Belakangan dalam acara seminar dariKelompok ABG yang diadakan Puslit Geoteknologi tanggal 15 Januari2014 di Kampus LIPI Bandung, geolog Kelompok ABG tersebut merubahkesimpulannya, dibilang bahwa sumbat lavanya bukan di bukit GunungPadang tapi di bawahnya lagi. Yang membentuk Gunung Padang adalahmaterial longsoran katanya, sambil menjelaskan bahwa studi geologinyamasih tahap pendahuluan butuh penelitian lanjutan sehingga saat inibelum dapat dipastikan apa sesungguhnya struktur/lapisan geologi yangmembentuk Gunung Padang.

Lubang eskavasi arkeologi yangdilakukan Arkenas pada tahun 2003 di Teras-1 menembus lapisanbatu-batu kekar kolom yang tersusun sangat rapih secara horisontal. Di acara seminar arkeolog ABG menerangkan bahwa lapisan susunan batukolom di bawah permukaan tanah ini adalah batuan alamiah/indukcolumnar joints yang menjadi sumber batuan dari batu-batu kolom yangdipakai membangun situs punden berundak di atasnya. Tapi tidak dapatmemberi penjelasan lebih lanjut jenis batuan alamiah tersebut apa;Apakah termasuk yang dimaksudkan dengan lapisan batuan longsorangunung api atau mengacu ke hipotesa sebelumnya, yaitu batuan sumbatlava berkekar kolom.

Lubang gali tim arkeologi TTRM dilereng Timur juga menemukan lapisan batuan yang sama. Kedudukanbatu kolomnya juga (hampir) horisontal dan berorientasi hampirbarat-timur, sama dengan yang ditemukan di bawah Teras-1 tersebut. Artinya dalam perspektif geologi lapisan ini akan ditafsirkan sebagai “collonade”. Susunan batu kolom di bawah tanah itu benar-benarrapih dan kompak tapi setiap kolomnya terbungkus oleh lapisanmaterial halus dengan ukuran diameter kolom sangat beragam, tidakseragam seperti batu kekar kolom di alam. Dengan matriks batuanyang sangat rapih dan kompak seperti itu jelas mustahil dikatakansebagai hasil longsoran. Tapi juga sulit untuk dikatagorikan sebagaibatu kekar kolom primer. Satu cara pembuktian lebih gamblang, harustahu struktur di bawah permukaannya; Apakah ada tubuh batuan intrusiyang vertikal di bawah Teras 1? karena kedudukan batu kekar kolomnyahorisontal.

Kelebihan TTRM dibanding Kelompok ABG,sudah melakukan survey geofisika bawah permukaan. Hasil surveygeoradar dan geolistrik yang melintas di dua galian arkeologitersebut memperlihatkan bahwa susunan batu-batu kolom di bawah tanahtersebut merupakan lapisan batuan horisontal di bawah Teras atausejajar permukaan di lerengnya, dengan tebal hanya beberapa meter. Jadi dari memahami hubungan antara kedudukan kekar kolom danlapisannya dapat lebih tegas disimpulkan bahwa lapisan batuan itubukan batuan alamiah primer berkekar-kolom tapi disusun oleh manusia.

Data bor memberikan data tambahan bahwalapisan batuan tersebut ternyata dilandasi oleh satu lapisanpasir-kerikilan lepas setebal puluhan sentimeter. Dalam penampanggeoradar atau radargram lapisan pasir kerikilan tersebut terlihatsebagai garis tebal hitam karena perubahan tajam “dielectricconstant” yang tinggi (lapisan kompak batu kolom) ke dielectricconstant rendah (lapisan pasir). Lintasan-lintasan georadar diseluruh teras memperlihatkan bahwa lapisan pasir tersebut melandasiseluruh teras-teras situs pada kedalaman sekitar 4-5 meter, sangatkonsisten.

Singkatnya dapat disimpulkan sangatkuat bahwa lapisan kedua susunan batu kolom yang dicirrikan olehukuran diameter sangat beragam, mempunyai sisipan atau terbungkusmaterial ukuran lempung, tersusun horisontal paralel dengan kedudukanlapisannya setebal beberapa meter di atas hamparan pasir dibuatmanusia atau merupakan lapisan situs budaya, bukan lapisan geologi. Konstruksi susunan batu-batu kolom tersebut terlihat lebih rapih dankompak dibanding yang terlihat pada situs megalitik di permukaantanah.

Lapisan kedua di bawah tanah inikemungkinan besar sama dengan yang tersingkap dipermukaan, yaitu padadinding tinggi yang memisahkan antara Teras 1 dan Teras 2, berupadinding batu berundak-undak tersusun sangat rapih oleh batu-batukolom yang difungsikan seperti batu bata. Suatu konstruksi bangunanyang sama sekali berbeda gaya konstruksinya dengan situs pundenberundak yang disusun lebih sederhana dan didekorasi oleh batu-batukolom yang diposisikan berdiri tegak. Jadi situs di permukaanpunkelihatannya harus dipetakan dan dipilah-pilah lagi karena mungkintidak berasal dari satu fasa/generasi.

Inilah perlunya kerjasama terpadukeahlian arkeologi dan geologi. Arkeologi meneliti aspek tinggalanbudayanya, geologi mengkaji unsur-unsur alamiahnya dan membantumembedakan mana alamiah mana tidak. Tidak bisa disalahkan apabilaarkeolog sukar membedakan susunan batu kolom alamiah dan yang disusunmanusia karena bisa sangat mirip kalau tidak paham geologi. Ahligeologi Kelompok ABG bukannya bodoh apabila salahmenginterpretasikan struktur bawah permukaan Gunung Padang karenamereka tidak punya data bawah permukaan dan tidak pernah juga melihatdengan mata-kepala sendiri singkapan bawah permukaan pada lubanggalian arkeologi.

Oleh Danny Hilman Natawijaya (Ketua Tim Peneliti TTRM)

MENARIK:  Situs Gunung Padang Dibangun Dalam Harmoni Geomantik

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *