Gunung Padang : Hubungan Struktur Dengan Morfologi Permukaan

Gunung Padang , Hubungan Struktur Dengan Morfologi Permukaan

Stratigrafi Gunung Padang yang berupa bukit lava yang ‘laminasi’ oleh lapisan 1,2,3 dengan ketebalan sama di atas dan dilereng-lerengnya menjawab teka-teki kenampakan bukit Gunung Padang yang dari observasi lapangan dan data topografidetil (TTRM mempunyai data Digital Elevation Map spasi 5 meter)mempunyai relief halus tidak tererosi oleh pola aliran sungai(=”stream head erosions”) kontras dengan bukit-bukit disekitarnya, termasuk relief kasar dari perbukitan yang lebih tinggiberbentuk bulan sabit, Emped-Karuhun, di selatan yang sudah tererositahap lanjut sampai ke level puncaknya . Ini menandakan bahwa batuanpenyusun bukit situs Gunung Padang jauh lebih muda umur (erosi) nya.

Struktur dan stratigrafi Gunung Padang menjawab anomali ini. Kalaulapisan-lapisan batuannya seumur dengan sekitarnya, yaitujutaan-puluhan juta tahun, maka lapisan-lapisan tersebut sudah banyakyang tererosi habis, mungkin sampai tersingkap ke tubuh batuanlavanya.

Loading...

Menarik membaca analisa seorang geologdari Kelompok ABG yang membahas bentukan piramida alam yangdihasilkan oleh proses erosi alamiah (Kolom GATRA 14 Januari –BudiBrahmantyo). Ini adalah bentukan morfologi alam hasil prosesdestruktif. Prinsip geomorfologi ini biasa diajarkan dimata kuliahS-1 geologi. Salah sasaran kalau dikaitkan dengan kasus GunungPadang karena bukit Gunung Padang adalah bentukan morfologikonstruktif yang tahapan erosinya masih rendah. Geolog itu tidaksalah hanya mungkin belum melakukan analisis dari data topografiresolusi tinggi dan juga tidak tahu data stratigrafi bawahpermukaannya. “The devils is in details” kata pemeo duniaakademis di barat.

Bukti ada Ruang dan Lorong

Didalam lapisan keempat atau tubuhbatuan lava berbentuk trapesium tersebut terlihat kenampakan lorongdan ruang besar. Bukti lorong dan ruang diinterpretasikan terutamadari anomali zona resistivitas yang ekstrim sampai puluhan ribu ohmmeter yang batasnya tegas dengan nilai resistivitas sekeliling yanghanya ribuan ohm meter (=tubuh batuan lava). Disamping itu adakenampakan zona anomali dengan resistivitas rendah hanya puluhan –ratusan ohm meter di dalam tubuh lava yang juga dapatdiinterpretasikan sebagai ruang atau lorong tapi sudah terisi tanahdan/atau air.

Memang anomali resistivitas ekstrim initidak harus ruang tapi bisa juga tubuh batuan yang amat sangat padat,tidak berpori. Tapi salah satu lintasan seismik tomografi padasalah satu zona yang diduga lorong memperlihatkan zona dengananomali seismik berkecepatan rendah (“low seismic velocity zone”) yang mengindikasikan ruang bukan padat. Metoda seismik tomografiadalah teknik pemindaian struktur bawah permukaan dengan menggunakansumber gelombang suara yang masuk ke dalam tanah sehingga akanmerambat dan terpantul kembali ke permukaan sehingga sinyal yangmembawa informasi struktur bawah permukaan berdasarkan kecepatanrambat gelombangnya yang berbeda diberbagai lapisan dapat direkamoleh sensor geofon yang terpasang di permukaan tanah. Mirip denganmetoda georadar, hanya dalam georadar dipakai sumber gelombangelektro magnetik. Dalam survey seismik dipakai sumber suara adalahpukulan palu besar dan bunyi petasan. Sangat aman dan dijamin tidakmerusak.

Bukti penunjang lain adalah daripengeboran. Ketika dilakukan dua kali pengeboran di dekat lokasidugaan ada ruang bawah tanah terjadi “water loss”, air yangdipaki untuk sirkulasi bor tiba-tiba amblas tidak balik lagi ke ataspada kira-kira kedalaman yang sama, 8-10 meteran. Yang pertama hanya“partial water loss” 1 drum air, yang kedua kalinya di lokasiberjarak 10 meter dari yang pertama terjadi “total water loss”air sirkulasi yang masuk tidak kembali lagi, banyak sekali, kira-kiravolumenya mencapai 30 meter kubik.

Sebagian ahli ada yang mengatakan bahwalorong dan ruang itu bisa saja gua alamiah, yaitu lorong lava (“lavatunnel) yang terjadi ketika cairan lava panas membeku bagian dalamnyamasih terdapat cairan panas yang mengalir membentuk lorong. Satusanggahan ilmiah yang masuk akal. Namun perlu diketahui juga bahwabentukan lorong dan ruang yang terlihat banyak yang sukar dijelaskanoleh proses alamiah ini, misalnya terlihat bentuk yang cenderung kekubus atau lorong yang tinggi dan sempit, atau ada seperti lorongmasuk dari samping luar. Kemudian posisi dan dimensi dari dugaanruang dan lorong ini dari cita rasa arsitek terlihat pas denganbentuk bangunannya. Jadi kalaupun asalnya “lava tunnel”kelihatannya sudah dibentuk ulang oleh manusia.

Mungkin uraian di atas masih agaksusah dicerna karena memang perlu banyak ilustrasi dan penjelasanlebih detil. Tapi mudah-mudahan dapat dipahami bahwa hasilpenelitian TTRM di Gunung Padang berdasarkan data yang sudah rincidan komprehensif bukan asal-asalan apalagi menuduh dilakukan olehpara peneliti abal-abal, Masya Allah.

Umur Lapisan

Yang lebih kontroversial lagi adalahhasil karbon dating TTRM untuk penentuan umur dari lapisan-lapisanfitur bangunan tersebut. Analisa radiometric dating dari sampelkarbon yang diambil dilakukan di Badan Tenaga Atom (BATAN) dan BETAAnalytic USA yang terakreditisasi secara internasional. Sampel-sampel diambil secara terpilih dan sistematik dari lubangeskavasi dan sampel bor dari permukaan sampai kedalaman 12 meter. Kelompok ABG tidak melakukan uji karbon dating untuk menentukan umursitus, kecuali umur relatif dari perkiraan berdasarkan perbandinganterhadap stratigrafi sejarah budaya yang ada. Jadi, sebenarnyakurang sebanding untuk dikontroversikan karena hanya TTRM yang punyadata umur absolut. Nanti orang bilang seperti membandingkan jerukdengan apel.

Ringkasan hasil analisa karbon datingadalah sebagai berikut. Hasil dating dari karbon yang terkandungpada lapisan tanah pertama memberikan kisaran umur kalender (sudahdikoreksi) 2500 sampai 3500 tahunan (500-1500 tahun Sebelum Masehi). Sampel karbon dari sisipan tanah diantara batu-batu kolom padalapisan kedua dan juga kandungan karbon pada hamparan pasir kerikilmemberikan kisarn umur kalender 6700 sampai 7000 tahunan (4700sampai 5000 tahun SM). Sampel tanah dari isian diantara batu-batukolom lapisan ketiga di bawahnya memberikan kisaran umur cukupbervariasi antara 13.000 sampai 25.000 tahun lalu (11.000 sampai23.000 tahun SM).

Sedangkan umur dari sampel tanah timbun yangdiduga langsung di atas lapisan ketiga adalah sekitar 10.000 tahun. Umur-umur lapisan terlihat konsisten. Variasi umur karbon pada tanahdi lapisan ketiga patut dicurigai mempunyai ketidakpastian besarkarena berbagai faktor, bukan diinterpretasikan sebagai kisaran umuryang sebenarnya. Tapi paling tidak umurnya harus lebih tua daritanah yang menimbunnya, yaitu 10.000 tahun lalu.

Penentuan umur metoda karbon datingharus benar-benar teliti dan tahu sampel apa yang diambil, bukanperkara mudah. “Batch” analisa karbon dating yang sudahdilakukan belum yang terbaik karena pemilihan sampel-sampel lokasinyamasih hanya pada beberapa lubang galian dan sampel bor. Kitabertekad melakukan analisa dengan sebaik mungkin karena dampak darihasil analisa umur sangat besar.

Mengatakan bahwa ada bangunankonstruksi maju dengan umur lebih dari 10.000 tahun sama saja denganbilang bahwa sejarah peradaban manusia yang diyakini para ahli bukansaja di Indonesia tapi di seluruh dunia salah atau perludimodifikasi. Jadi tidak pelak lagi bahwa setiap kelemahan dalamanalisa nanti akan dicecar habis oleh para ahli se-dunia. Bukannyamereka berniat jahat, tapi sifat dunia ilmiah pada dasarnya skeptis,tidak mudah percaya sebelum benar-benar teruji, apalagi inimenyangkut satu konsep besar yang sudah mendarah daging diyakiniumat.

Oleh Danny Hilman Natawijaya (Ketua Tim Peneliti TTRM)

MENARIK:  Mengenal Lebih Dekat Tentang Nusantara

KOMENTAR untuk “Gunung Padang : Hubungan Struktur Dengan Morfologi Permukaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *