Gunung Padang : Implikasi Hasil Penelitian

Gunung Padang, Implikasi Hasil Penelitian

Pengetahuan dunia saat ini hanya mengakui bahwa perkembangan peradaban manusia baru mulai sejaksekitar 11.000 tahun lalu. Produk peradaban maju baru terlihatsetelah 6000 tahun lalu (4000 tahun SM) seperti peninggalan BangsaSumeria di Mesopotamia. Kontras dengan masa sejarah yang relatifpendek, dunia ahli geologi dan arkeologi menggetahui bahwa manusiamodern sudah ada sejak sekitar 195.0000 tahun lalu. Artinya, duniameyakini bahwa manusia tetap dalam zaman primitif, hidup berburu dantidur di hutan dan gua-gua selama 185.000 tahun lamanya; Tapitiba-tiba sejak 10.000 tahun lalu tanpa sebab yang diketahui mendadakpintar.

Temuan konstruksi bangunan besar yanglebih tua dari 10.000 tahun seperti di Gunung Padang kontradiktif dengan dogma ilmiah saat ini. Apalagi untuk Indonesia yang masasejarahnya baru dimulai sejak 400 Masehi. Tidak heran kalau seorangsejarawan dari Kelompok ABG ini mengatakan bahwa temuan ini mustahilkarena kalau data populasi masyarakat Cianjur diektrapolasikan kezaman pra-sejarah maka hanya sedikit orang nya sehingga tidak mungkinmampu membuat bangunan besar (GATRA..). Pemikiran logis tapiterlalu lugu karena hanya benar jika diasumsikan masyarakatpra-sejarah tidak pergi dari Cianjur atau musnah karena suatu bencanabesar.

Loading...

Konsep siklus bencana alam katastrofibukan hal baru dalam geologi. Bencana katastrofi yang palingterkenal terjadi dalam masa hidup manusia modern adalah letusankatastrofi Toba sekitar 70.000 tahun lalu yang diduga hampirmemusnahkan seluruh populasi manusia di dunia, konon yang tinggalhidup hanya beberapa ribu orang saja. Peristiwa ini konsisten dengankronologi penyebaran manusia di bumi yang dapat ditelusuri terjadisejak sekitar 70.000 tahun lalu, terkenal disebut sebagai “out ofafrica’ karena mulai menyebar dari Benua Afrika.

Hipotesa yang dikembangkan ketika membentuk Tim Katastrofi Purba yaitu bahwa perkembanganperadaban/kebudayaan di dunia tidak menerus melainkan ‘siklus’artinya berkali-kali terputus atau hancur oleh berbagai bencana alamkatastrofi sehingga peradaban yang sudah maju bisa kembali menjadiprimitif lagi dan kemudian harus merangkak lagi untuk berkembang. Dengan kata lain sejarah awal perkembangan peradaban kita sejak11.000 tahun lalu boleh jadi bukan satu-satunya peradaban tapi hanyasiklus peradaban setelah terjadi bencana katastrofi.

Dalam sejarah Geologi Kuarter dikenal perioda “Younger Dryas (YD)” (12.900 – 11.600 tahun lalu) diakhir Zaman Pleistosen. Sejak puncak Zaman Glasial, 20.000 tahunlalu, bumi memanas dan es mencair. Namun suhu bumi turun tiba-tibakembali anjlog seperti zaman es pada awal YD selama 1300 tahun. YD diakhiri dengan naiknya suhu bumi yang juga sangat cepat bahkan bisajadi instan sampai 5-10 derajat Celcius sehingga es mencair mendadakmenimbulkan banjir global. Disinyalir juga bahwa pembebananpermukaan bumi tiba-tiba oleh massa air dapat memicu gempa danletusan gunung api karena kestabilan kerak bumi terganggu.

Penyebab terjadinya YD sampai sekarang belum diketahui, masih kontroversi. Diantaranya para peneliti dunia seperti Prof. Dr. Robert Scoch (USA)dan Graham Hancock (UK) yang hadir sebagai pembicara utama dalamSeminar Gunung Padang di Acara Gotra Sawala tanggal 5-6 Desember 2013mengajukan hipotesa bahwa penyebab terjadinya awal dan akhir YDadalah tumbukan meteor dan badai plasma matahari.

Perkara apakah peristiwa banjir globalpada akhir YD atau awal Zaman Holosen tersebut tersebut adahubungannya dengan banyaknya mitos bencana banjir besar di seluruhdunia, atau dengan banjir Nabi Nuh, atau barangkali juga banjir besaryang konon menurut naskah Timaeus dan Critiasnya Plato menenggelamkanKerajaan Atlantis, Wallahu alam… Barangkali topik ini bisadijadikan bahan banyak disertasi di bidang arkeologi, geologi kuarteratau penelitian iklim dan bencana purba.

Jadi materi dasar yang dikontroversikan dalam penelitian Gunung Padang sebenarnya biasa saja, tidaksulit-sulit amat, tapi implikasinya terhadap ilmu pengetahuan memangluarbiasa. Bahkan kelihatannya thesis tentang peradaban maju dizaman es yang hilang karena bencana katastrofi masih dianggap tabuoleh dunia pengetahuan. Ini jelas riset yang berat, tidakmain-main.

Masih untung situs Gunung Padang bukansatu-satunya kasus. Ada Situs Gobekli Tepe di Turki, yaitu situsmegalitik besar yang asalnya tertimbun tanah di bawah bukit, miripdengan Gunung Padang tapi bentuk konstruksinya jauh berbeda. Bangunan Gobekli Tepe ini juga pembangunannya bertahap dari zaman kezaman. Lapisan yang paling tua yang sudah digali berumur sekitar11.600 tahun. Situs ini terdiri dari batu-batu menhir masif besaryang terukir sangat bagus di dalam lingkaran-lingkaran bangunan batu.Singkatnya bangunan Gobekli tepe tidak mungkin dibuat oleh masyarakatberbudaya primitif tapi sudah berbudaya tinggi.

Menariknya, SitusGobekli Tepe juga ditimbun dengan tanah dan batu dengan sengaja padasekitar 9600 tahun lalu dengan alasan yang masih misterius, terutamakarena pekerjaan menimbunnya sama sulitnya dibanding denganmembangunnya. Inilah satu-satunya situs besar bangunan kuno di duniayang umurnya dapat disebandingkan dengan Situs Gunung Padang lapisanketiga.

Bayangkan, apabila keberadaan bangunandan umur-umurnya nanti dapat diverifikasi lebih lanjut dan diakuidunia, maka situs Gunung Padang akan menjadi monumen agung tertua,saksi dari perkembangan sejarah peradaban yang hilang.

Penutup dan Saran

Ilmiah itu cantik dan baik hati. Janganlah niat suci dikotori oleh permainan politik untuk kepentinganperorangan atau kelompok. Kitasemua berharap penelitian Gunung Padang dapat dituntaskan,mudah-mudahan dapat melibatkan lebih banyak lagi para ahli terbaikbangsa dari berbagai kalangan dan disiplin ilmu sehingga, InsyaAllah, Situs Gunung Padang dapat diwujudkan menjadi situs luarbiasa kebanggaan Indonesia hasil kerja keras putra bangsa. Harapanberikutnya, mudah-mudahan Gunung Padang bukan temuan terakhir tapiawal dari temuan-temuan besar selanjutnya yang siapa tahu ada yanglebih dahsyat. Wallahu alam bisawab.

Sekian dan Terima kasih

Oleh : Danny Hilman Natawijaya (Ketua Tim Peneliti TTRM)

MENARIK:  Analisa Mengenai Gunung Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *