Satrio Piningit Menurut Filosofi Hindu

Satrio Piningit Menurut Filosofi HinduSetelah membaca berulang-ulang artikel “Trisula Wedha” saya dapat menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa penulis artikel itu telah melakukan sebuah kajian khusus dan mendalam terhadap hakikat dan makna pesan-pesan baik yang tersirat maupun yang tersurat sebagaimana yang terdapat dalam ramalan Jayabaya. Diramalkan oleh Jayabaya bahwa akan muncul seorang sosok ksatria yang akan memimpin tanah jawa (nusantara). Gambaran sosok ksatria tersebut terdapat dalam bait N0.159 (Hal.4 artikel) sbb:

Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun
Didampingi dewa delapan serta membawa perwira ratu
Akan ada dewa tampil
Berbadan manusia
Berparas seperti Bathara Kresna
Berwatak seperti Baladewa
Bersenjata trisula wedha

Pada bait 162 ramalan Jayabaya (hal 6 artikel) disebutkan:
Yang memimpin adalah putera Bathara Indra
Bersenjatakan trisula wedha
Para asuhannya menjadi perwira perang
Jika berperang tanpa pasukan
Sakti mandra guna tanpa azimat

Loading...

Dalam artikelnya, Al Bughury menafsirkan ramalan Jayabaya tersebut dapat dianggap sebagai satu upaya dari Al Bughury untuk mempersatukan orang islam dan orang kristen bahwa sesungguhnya yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya adalah satu sosok yang sama yaitu SATRIO PININGIT. Ummat islam menanti kedatangan/kemunculan Imam Mahdi untuk memimpin peperangan dan turunnya nabi Isa alaihissalam meluruskan aqidah ummatnya sedangkan ummat kristen menanti turunnya Yesus Kristus sang juru selamat untuk menyelamatkan ummatnya.

Menurut Al Bughury, dalam diri Satrio Piningit terdapat tiga laku dan peran yang sekaligus dia mainkan. Ketiga peran tersebut adalah sbb:

1. Bathara Indra

Dalam agama Hindu Dewa Indra adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Gelaran lain yang disandang oleh dewa Indra adalah dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, dan pemimpin para dewa. Nama lain dewa Indra yang mengandung puji-pujian terhadapnya adalah: Sakra (yang berkuasa), Swarga pati (raja surga), Diwapati (raja para dewa), Meghawahana (yang mengendarai awan), wasawa (pemimpin para Wasu).
Dalam ramalan Jayabaya disebutkan:

Yang memimpin adalah putera Bathara Indra
Bersenjatakan trisula wedha

Ramalan tidak menyebut Bathara Indra atau dewa Indra akan tetapi “putera Bathara (dewa) Indra. Itu berarti sang putera tidak mewakili seluruh gelar atau kedudukan sang Bapak (Dewa Indra). Hanya satu karakter yang diwarisi oleh sang putera dari bapaknya yaitu sebagai DEWA PERANG. Oleh karena itu pada bait No 163 baris pertama disebutkan:

Apeparap pangeraning prang
BERGELAR PANGERAN PERANG

Ummat islam meyakini menjelang akhir zaman Imam Mahdi akan muncul memimpin peperangan. Imam Mahdi akan memerangi seluruh musuh-musuh islam, Al Bughury menafsirkan bahwa yang dimaksud “putera Bathara Indra” dalam ramalan Jayabaya sesungguhnya adalah IMAM MAHDI. Peperangan yang dipimpin oleh Imam Mahdi (putera Bathera Indra) adalah perang di dunia gaib. Perang itu sangat lazim dilakukan oleh para dewa.

Dalam kitab weda dinyatakan bahwa para Dewa juga tidak dapat menganugerahkan sesuatu tanpa kehendak Tuhan. Para Dewa, sama seperti makhluk hidup yang lainnya, bergantung kepada kehendak Tuhan. Para Dewa hanyalah perantara Tuhan. Tuhan Yang Maha Esa melalui perantara Sri Kresna bersabda:

Setelah diberi kepercayaan tersebut,
Mereka berusaha menyembah Dewa tertentu
Dan memperoleh apa yang diinginkannya.
Namun sesungguhnya hanya Aku sendiri
Yang menganugerahkan berkat-berkat tersebut.
(Kitab suci Baghawad Gita 7.22)

Ummat islam tidak perlu membantu Imam Mahdi atau ummat hindu tidak perlu juga membantu Putera Bathara (Dewa) Indra dalam berperang oleh karena perang yang dimaksud adalah perang gaib (bukan di dunia nyata).
Ramalan menyebutkan: jika berperang tanpa pasukan, sakti mandraguna tanpa azimat. Al Bughury menafsirkannya sebagai perang di dunia gaib.

Bahwa dalam ramalan Jayabaya terdapat kalimat “para asuhannya menjadi perwira perang” tidak perlu terlalu kita permasalahkan karena dalam mitologi hindu Sang Bapak (Dewa Indra) memang memiliki pasukan. Beliau memimpin delapan Wasu yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam. Boleh jadi kedelapan Wasu ini jugalah yang membantu Sang Putera (Imam Mahdi) atas perintah Sang Bapak (Dewa Indra) memimpin peperangan dan kedelapan Wasu ini disebut dalam ramalan sebagai “perwira perang”.

2. Bathara (Dewa) Kresna

Dewa Kresna adalah salah satu dewa yang dipuja oleh ummat hindu, berwujud pria berkulit gelap atau biru tua. Secara umum Dewa Kresna dipuja sebagai awatara (inkarnasi) Dewa Wisnu kedelapan di antara sepuluh awatara Wisnu. Kesepuluh awatara Wisnu disebut Dasa Awatara (Maha Avatar) yaitu: Matsya (sang ikan), Kurma (sang kura-kura), Varaha (sang babi hutan), Narasingha (sang manusia singa), Vamana (Rama bersenjatakan beliung/sang orang cebol), Parasurama (Sang Brahmana-Kshatriya), Rama (Sang pangeran), Kresna (sang penggembala), Buddha (sang pemuka agama), Kalki (sang penghancur).

Di antara sepuluh awatara tersebut, sembilan di antaranya diyakini oleh ummat hindu sudah menjelma dan pernah turun ke dunia sedangkan awatara terakhir atau Kalki masih menunggu hari lahirnya dan diyakini menjelma pada penghujung zaman Kali Yuga. Seluruh ramalan Jayabaya mengacu kepada kemunculan Kalki. Kalki atau inkarnasi Dewa Wisnu yang kesepuluh adalah YANG MULIA SATRIO PININGIT.
Dalam ramalan Jayabaya disebutkan:

Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun
Didampingi dewa delapan serta membawa perwiranya ratu
Akan ada dewa tampil
Berbadan manusia
Berparas seperti Bathara Kresna
Berwatak seperti Baladewa
Bersenjata trisula wedha

Secara implisit kita dapat menerjemahkan makna ramalan di atas dalam versi agama hindu bahwa “dewa yang akan tampil berbadan manusia” adalah DEWA KALKI (Satrio Piningit). Dewa Kalki didampingi oleh “dewa delapan”. Dewa delapan adalah delapan wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek dalam semesta. Dewa delapan ini juga yang mendampingi putera Bathara Indra memimpin perang.
Dalam ramalan disebutkan:        

Dewa Kalki (satrio piningit) memiliki paras seperti Dewa (Bathara) Kresna. Penyebutan Dewa Kresna untuk mempertegas bahwa Dewa Kalki dan Dewa Kresna sama-sama inkarnasi Dewa Wisnu.

Guru Agung Al Bughury menafsirkan “berparas seperti Bathara Kresna” adalah peran Satrio Piningit sebagai Yesus Kristus. Al Bughury beralasan terdapatnya kata-kata “selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun” yang ditafsirkan sebagai hari natal atau peringatan hari kelahiran Yesus Kristus.

Cakra Ningrat MEMBENARKAN penafsiran Al Bughury oleh karena Dewa Kresna dan Yesus Kristus sama-sama dijuluki sebagai SANG PENGGEMBALA dan sama-sama mendapat julukan “JURU SELAMAT UMAT MANUSIA”.

Dewa Kresna digambarkan sebagai sosok penggembala muda yang mahir bermain seruling. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, sakti, dan berwibawa. Ia dikenal pula sebagai tokoh yang memberikan ajaran-ajaran filosofis dan kerohanian. Dewa Kresna disebut dengan berbagai nama sesuai karakteristiknya diantaranya Acyuta (yang kekal, teguh), Arisudana (penghancur musuh), Bagawan (Yang Maha Kuasa), Gopala (pelindung sapi), Gowinda (penggembala sapi), Hresikesa (penguasa indria), JANARDANA (juru selamat ummat manusia), Maha-yogi (rohaniawan agung); Purusottama (manusia utama yang berkepribadian paling baik), Yogeswara (penguasa segala kekuatan batin).

Dalam penggambaran umum Dewa Kresna seringkali menampilkan dirinya sebagai anak kecil, atau seorang lelaki dalam gaya santai, sedang memainkan seruling. Dalam wujud ini, ia biasanya ditampilkan dengan kaki yang ditekuk ke samping. Kadangkala ditemani sapi untuk menegaskan posisinya sebagai penggembala ilahi (Govinda). Dalam keyakinan agama hindu, sapi dianggap suci karena melambangkan ibu pertiwi.

Setiap menjelang tutup tahun, ummat kristiani merayakan natal dan selalu menampilkan Yesus Kristus dalam gambaran sebagai anak kecil.

3. Baladewa

Dalam ramalan Jayabaya disebutkan “berwatak seperti Baladewa”. Guru Agung Al Bughury menafsirkan watak Yesus Krsitus atau nabi Isa alaihissalam wataknya adalah lahir dari rahim perawan suci bernama Maria (Maryam). Perempuan ini tidak pernah disentuh (berhubungan seksual) dengan laki-laki. Meski lahir tanpa ayah akan tetapi Yesus Kristus (nabi Isa) tidak bisa dikatakan sebagai anak Allah.

Menurut kitab “Bhagawatapurana” Kresna lahir tanpa hubungan seksual, melainkan melalui “transmisi mental” dari pikiran Basudewa ke rahim Dewaki. Kresna dibesarkan oleh Nanda dan Yasoda, anggota komunitas penggembala sapi yang ada di Vrindavana.

Dalam kitab “Bhagawadgita” Kresna menguraikan ajaran iswara (ketuhanan), jiwa, dharma (kewajiban), prakerti (alam semesta) dan kala (waktu). Kresna juga menjelaskan bahwa tujuannya berada di dunia adalah untuk menyelamatkan orang saleh dan membinasakan orang jahat. Kutipan yang terkenal adalah:

“Kapanpun dan dimanapun kebajikan merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itulah aku menjelma, wahai keturunan Bharata (Arjuna). Untuk menyelamatkan orang saleh dan menghukum orang jahat, serta menegakkan kebenaran, aku lahir dari zaman ke zaman. (Baghawadgita 4: 7-8).

Dikutip bebas dari artikel “Satrio Piningit Telah Muncul” hal.19 point 4 penulisnya (tidak diketahui) sebagai berikut:

“Satrio pinigit berwujud seperti manusia sebagaimana manusia pada umumnya. Bedanya adalah karena Satrio Piningit anak Dewa. Disebut anak Dewa karena dia adalah anak atau titisan nabi Hidir. Nabi yang terkenal memiliki ilmu yang paling tinggi dan tetap misteri hingga saat ini. Satrio Piningit memiliki dua ibu kandung. Yang pertama, ibu Rukmini (orang Jawa) adalah ibu yang melahirkan jasad raganya. Kedua; Ibu Pertiwi (negara Indonesia) adalah ibu yang melahirkannya sebagai penguasa jagad raya.”

Dalam agama hindu, nama Rukmini dikenal sebagai istri dari Dewa Kresna. Rukmini adalah inkarnasi dari Dewi Laksmi. Dewi Laksmi adalah istri Dewa Wisnu. Dewi Laksmi adalah Dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dalam kitab purana. Dewi Laksmi adalah ibu dari alam semesta. Mungkin Dewi Laksmi inilah yang dimaksudkan sebagai Ibu Pertiwi. Dewi Laksmi disebut juga Dewi Uang. Ia juga disebut “widya” yang berarti pengetahuan keagamaan. Ia juga dihubungkan dengan setiap kebahagiaan yang terjadi di antara keluarga dan sahabat, perkawinan, anak-anak, kekayaan dan kesehatan. Dewi Laksmi sangat terkenal di kalangan ummat hindu.

Dalam ramalan Jayabaya disebutkan: berwatak seperti Baladewa. Dalam keyakinan agama hindu kata “Baladewa” tidak dikenal. Secara etimologi kata “Baladewa” dapat diartikan sebagai satu rangkuman atau satu kesatuan seluruh dewa-dewa. Mengambil contoh pada sebutan “Balatentara” yang diartikan sebagai tentara yang sangat banyak jumlah tanpa memerinci lagi nama-nama kesatuannya. Dengan demikian “berwatak seperti Baladewa” dapat diartikan bahwa di dalam sosok Satrio Piningit terdapat seluruh watak-watak dan kesaktian-kesaktian yang dimiliki oleh dewa-dewa yang dikenal oleh ummat hindu.

Bersambung

MENARIK:  Mengenal Rotary International Club

2 KOMENTAR untuk “Satrio Piningit Menurut Filosofi Hindu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *