Sejarah Letusan Gunung Lokon

Gunung Lokon mempunyai ketinggian sekitar 1.580 mdpl, dengan koordinat 1,358°LU 124,792°BT. Gunung ini terletak di sebelah barat kota Tomohon, dan bersebelahan dengan Gunung Mahawu. 

Seperti kita ketahui Saat ini Gunung Lokon termasuk salah satu gunung yang oleh Pemerintah di berlakukan Status Siaga (level III) bersama dengan Gunung Karangetang dan Gunung Rokatenda.

Gunung Lokon

Loading...

Gunung Lokon di Sulawesi Utara

Kali ini kita akan membahas mengenai Sejarah Letusan Gunung Lokon yang ada di Sulawesi utara. Gunung ini menyajikan panorama yang indah di kawahnya, dan termasuk gunung berapi sangat aktif. Jenis gunung ini adalah Stratovolkano.

Mengenai catatan sejarah letusannya, pada umumnya letusan Gunung Lokon adalah letusan abu yang disertai dengan lontaran batu pijar, terkadang juga mengeluarkan lava pijar dan awan panas. Letusannya dapat berlangsung selama beberapa hari.

Bila terjadi letusan besar, maka bahaya utama letusan Gunung Lokon adalah luncuran awan panas, lontaran piroklastik (bom vulkanik, lapili, pasir dan abu) dan mungkin aliran lava. Sedangkan bahaya tidak langsung dari letusan adalah lahar hujan yang terjadi setelah letusan apabila turun hujan lebat di sekitar puncak.

Penyebaran jatuhnya lontaran piroklastik, tergantung pada ketinggian lontaran dan kencangnya angin yang bertiup pada saat terjadi letusan, terutama penyebaran hujan abu dan pasir.

Gejala Gunung Lokon menjelang meletus pada umumnya berupa menebalnya asap kawah, tingginya berfluktuasi antara 400 – 600 m di atas bibir kawah. Selama asap tersebut berwarna putih berarti uap air masih mendominasi. Makin lama asap tersebut makin menebal dan suatu saat akan berubah warna menjadi kelabu, yang menandakan bahwa material berukuran abu sudah terbawa.

Kegempaan menjelang meletus, lazimnya didahului dengan peningkatan gempa-gempa vulkanik, terutama gempa vulkanik tipe-A (VA). Idealnya diikuti pula dengan peningkatan gempa-gempa vulkanik tipe-B (VB) beberapa hari menjelang meletus.

Sejarah Letusan Gunung Lokon

Dari sisi sejarah, letusan Gunung Lokon pertama kali terdokumentasi pada Maret 1829 di mana saat itu terjadi letusan uap di pelana Gunung Lokon dan Gunung Empung.

Letusan kedua terjadi pada 29 Maret 1893 berupa lontaran batu dan bom vulkanik dan pola letusannya terus berlangsung hingga sekarang ini.

Sejarah Letusan Gunung Lokon

 Letusan Gunung Lokon

Pada Tahun 1951, Menurut Sudrajat (1952), mulai ada kenaikan tingkat kegiatan pada 14 September dengan letusan kecil, tetapi letusan sebenarnya mulai pada 2 juli 1951 untuk berlangsung terus menerus hingga akhir tahun.

Kemudian tahun 1952, sebagai lanjutan dari tahun sebelumnya, letusan ini terbilang besar dan terjadi pada 27 dan 28 Mei, dan baru berhenti pada bulan November, dan berlanjut lagi di tahun 1953.

Di tahun 1958, Letusan terjadi mulai 19 Februari dengan sebuah letusan kecilyang memuntahkan Lapili di sekitar kawah. Dilanjutkan letusan pada tanggal 4, 16-17 Maret, 3-4 Mei, berlangsung sepanjang tahun.

Kemudian di lanjutkan pada tahun 1959 berlangsung sampai 23 Desember. Selama itu, terjadi letusan abu dengan di selingi letusan kuat yang besar yang melontarkan batu. Hujan abu turun di sekitarnya. Dan pada Agustus, September dan November tidak terjadi letusan.

Dan pada 19 Mei, setelah istirahat selama 2 tahun, terjadi lagi letusan abu. Kegiatannya berlangsung terus sepanjang tahun. Letusan abu kuat yang besar terjadi 2 kali yaitu pada 24 Oktober dan 20 November.

Pada letusan tahun 1969, Gunung Lokon mengeluarkan awan panas dan gugusan abu vulkanik. Fase eruptiva mulai pada pukul 00.10 27 November,dan keesokan harinya terjadi letusan eksplosif pada pukul 21.57 menyebabkan letusan abu setinggi 400 meter hujan pasir belerang.

Kegiatan bertambah pada akhir tahun. Siswowidjoyo (1970) mengatakan bahwa luncuran awan panas sepanjang lembah Pasahapen sejauh 2 kilometer ke arah Kinilow.

Gunung Lokon pada Oktober 1991 pernah meletus yang menimbulkan kerugian material mencapai Rp 1 miliar. Ribuan jiwa penduduk di Desa Kakaskasen I, Kakaskasen II, Kinilow dan Tinoor, ketika itu setempat diungsikan besar-besar ke sejumlah daerah yang dinilai tidak rawan karena atap ribuan rumah penduduk hancur dihantam batu dan debu setebal 15 sampai 20 cm.

Dalam musibah tersebut, seorang wisatawan asal Swiss, Vivian Clavel yang berkunjung saat terjadi letusan hebat itu tidak dapat ditemukan. Ia dipastikan tewas tertimbun longsoran lahar dingin.

Pada saat meletus pada 2001, sebagian wilayah Kota Manado yang berjarak sekitar 25 Km dari gunung itu, ditutupi hujan debu yang mengguyur disebabkan karena tiupan angin. Material debu yang dikeluarkan dari kawah gunung api ini berbentuk lava pijar dan ketinggiannya diperkirakan mencapai 400 meter.

Letusan Gunung Lokon tahun 2011

Letusan Gunung Lokon tahun 2011

Pada Tahun 2011, Gunung Lokon mulai menunjukkan aktivitas sejak 18 Juni. Semburan material vulkanik membuat sebagian wilayah Kota Tomohon berdebu dan status gunung dinaikkan dari Siaga menjadi Awas sejak Minggu pukul 22.00, 10 Juli 2011 oleh Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Pada Kamis, 14 Juli 2011 pukul 22:45 WITA gunung Lokon di kawah Tompaluan meletus dengan lontaran material pijar, pasir, dan hujan abu setinggi sekitar 1.500 meter. Selanjutnya, letusan kembali terjadi pada Jumat dini hari sekitar pukul 01.30 Wita dengan lontaran material vulkanik setinggi 600 meter.

Letusan ini mengakibatkan lebih dari 10.000 warga di beberapa desa, di antaranya Kinilow, Tinoor, dan Kakaskasen mengungsi ke Tomohon atau Manado. Sedikitnya dalam sehari setelah letusan telah dua warga meninggal sebagai akibat tidak langsung dari letusan.

Dan terakhir pada tahun 2012, Kegempaan vulkanik Gunung Lokon  selama Januari‑Mei 2012 telah mencapai 8.183 kali. Kegempaan vulkanik ini mengindikasikan terjadinya suplai‑suplai energi yang memicu terjadinya letusan Gunung Lokon.

Dari 8.183 gempa ini 1.932 kali dikategorikan gempa vulkanik dalam (VA) dan sisanya 6.251 dikategorikan gempa vulkanik dangkal (VB).kegempaan vulkanik Gunung Lokon masih berfluktuatif seiring dengan penetapan status siaga level III oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung.

Fenomena kegempaan yang terjadi setiap bulan, kadang terjadi peningkatan dan sering juga berangsur normal kurang dari sepuluh kali dalam setiap hari. Tapi biasanya kalau diikuti dengan peningkatan kegempaan sering diakhiri dengan terjadinya letusan.

Potensi bahaya letusan Gunung Lokon bisa berupa debu, pasir dan batu pijar atau bom vulkanik, aliran awan panas, aliran lahar pada musim hujan dan gas gunung api.

Apakah Gunung Lokon juga akan meletus di tahun ini ataukah mungkin di tahun berikutnya, bisa juga tahun ini letusan-letusan kecilnya sebagai langkah awal menuju pada letusan dahsyatnya yang akan menghancurkan wilayah sekitarnya. Kita tunggu saja kelanjutannya. Mudah-mudahan saja letusannya tidak terlalu dahsyat sehingga tidak memakan banyak korban dan kerugian.

MENARIK:  Analisa Mengenai Gunung Toba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *