Sejarah Letusan Gunung Rokatenda

Gunung Rokatenda hanya memiliki ketinggian 875 meter di atas permukaan laut. Gunung ini bertipe stratovolcano, dan secara geografis terletak di koordinat 121° 42′ bujur timur and 8° 19′ lintang selatan. Menurut Data Dasar Gunung Api Indonesia yang disusun Badan Geologi tahun 2011, ketinggian Rokatenda jika dihitung dari dasar laut mencapai 3.000 meter.

 Gunung Rokatenda

 Gunung Rokatenda di Nusa Tenggara Timur

Loading...

Gunung Rokatenda kadang juga disebut dengan Gunung Paluweh, yaitu sebuah gunung berapi yang terletak di Pulau Palu’e, sebelah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Gunung  Rokatenda kini sangat berbahaya. Gunung  ini berada dalam pengawasan ketat pasca meletusnya Gunung Sinabung dan Gunung  Kelud.

Pusat Vulka­nologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) se­cara khusus terus memantau  aktifitas Gunung Rokatenda yang berada di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Bahaya terbesar adalah terjadinya letusun gunung yang disusul tsunami sebagaimana terjadi saat Rokatenda meletus tahun 1928.

Sejarah Letusan Gunung Rokatenda

Berikut catatan Sejarah dari letusan Gunung Rokatenda. Gunung ini meletus hebat pada 4 Agustus – 25 September tahun 1928 dan korban jiwa sebanyak 266 orang, karena letusannya menimbulkan gelombang tsunami, Tsunami kemungkinan dipicu gempa vulkanik yang beriringan dengan letusan Gunung Rokatenda.

MENARIK:  Situs Gunung Padang Merupakan Peninggalan Megalitik Terbesar di Asia Tenggara

Letusan Gunung Rokatenda

Tinggi gelombang tsunami yang melanda perkampungan Palue mencapai 5-7 meter. Gelombang tsunami juga disebutkan melanda pantai utara Pulau Flores, 35 km dari Pulau Palue. ”Berdasarkan laporan Residen, 7 rumah di Maoroleh (Marole) rusak, 6 orang tewas, dan 5 kapal dagang hancur. Kemudian Akhir tahun 1963, kembali meletus hanya 3 orang terluka.

Sejak itu, dalam kurun 1-8 tahun, Rokatenda meletus, yaitu tahun 1966, 1972, 1973, 1981, 1984, dan 1985. Ketika meletus, gunung ini umumnya menghasilkan kubah lava, seperti terjadi pada letusan pada 23 Maret 1985, dengan hembusan abu mencapai 2 km dan lontaran material lebih kurang 300 meter di atas puncak.

Letusan tahun 1985 itu terjadi pukul 17.40, didahului suara gemuruh. Sumber letusan berasal dari lereng kubah lava yang terbentuk pascaletusan 1981.

Abu menyembur hingga setinggi 2.000 meter dengan lontaran material hingga 300 meter dari puncak. Hujan abu menyelimuti Kampung Nitung, Waikoro, dan Koa. Tak ada korban jiwa dalam letusan tahun itu.

Lokasi letusan berada di lereng tubuh kubah lava akbat  letusan tahun 1981, sebelah barat laut dengan ukuran lubang letusan 30 x 40 meter. Tidak ada korban jiwa dalam letusan tersebut. Pada tanggal 16 Januari 2005, Rokatenda kembali menunjukkan aktivitasnya sehingga status siaga ditetapkan.

MENARIK:  Survei Pemerintah Mengenai Situs Gunung Padang

Aktivi­tas letusan Gunung Rokatenda telah terjadi sejak bulan Oktober 2012 dan dinaikan dari Waspada menjadi Siaga. Saat itu terjadi letusan abu setinggi 1500 – 2000 meter di atas puncak disertai awan panas guguran mengarah ke lembah Ojaubi di bagian barat laut.

Volume material kubah lava di Gunung Rokatenda diperkira­kan mencapai sekitar 5,1 juta m3. Dari hasil pengamatan langsung di lapangan akibat letusan tanggal 2 Februari 2013 telah membongkar sekitar 25 persen dari kubah lava tersebut di bagian selatan.

letusan Gunung Rokatenda 2013

letusan Gunung Rokatenda tahun 2013

Dan pada hari Sabtu tanggal 10 Agustus 2013, dinihari sekitar pukul 4.27 Wita. Warga dievakuasi setelah Gunung Rokatenda meletus dan memuntahkan lahar panas. Lebih dari 3.000 warga lima desa di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang berada di sekitar zona merah kawasan gunung berapi Rokatenda, dievakuasi ke Maumere, Ibu Kota Kabupaten Sikka.

Menurut Tadeus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) NTT, letusan Gunung Rokatenda saat itu lebih dasyat dari letusan pada 2 Februari 2013 tahun lalu, di mana saat itu Gunung Rokatenda sempat mengeluarkan letusan dan membuat jalur menuju dua desa terputus.

MENARIK:  Adam Membangun Ka’bah Untuk Memenuhi Perintah Tuhan

Akibatnya, sekitar 2.000 warga di Desa Lidi dan Desa Nitunglea terisolasi. Di laporkan saat itu lima orang tewas tertimbun lahar. Awalnya tiga orang tua yang ditemukan tewas dan dua bocah hilang, namun setelah beberapa jam kemudian akhirnya dua bocah itu ditemukan sudah dalam keadaan tewas.

Sebagai Catatan :

“Rokatenda itu adalah pulau gunung yang konstruksinya bukan seperti gunung-gunung yang lain di Pulau Flores, sebab konstruksinya itu dari batu-batu yang bisa mudah pindah titik meletusnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *