Sejarah Letusan Gunung Lewotobi Perempuan

Gunung Lewotobi Perempuan adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia, Pulau Flores, Kepulauan Nusa Tenggara atau Kepulauan Sunda Kecil, yang memiliki ketinggian 1703 meter, atau setara dengan 5587 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Lewotobi Perempuan ini berada di wilayah Asia.

Gunung Lewotobi yang kembar di timur Pulau Flores

Gunung Lewotobi yang kembar di timur Pulau Flores

Loading...

Gunungapi Lewotobi merupakan salah satu gunungapi strato tipe andesitik yang terletak di bagian timur Pulau Flores. Gunungapi Lewotobi memiliki dua puncak, yaitu Gunung Lewotobi Laki-laki dengan ketinggian 1584 mdpl dan Gunung Lewotobi Perempuan dengan ketinggian 1703 mdpl di bagian selatan. Secara administratif, Gunung Lewotobi Perempuan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada posisi geografis 8o33’06’’ LS – 122o46’54’’ BT.

Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Lewotobi Perempuan di Indonesia, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat).  Gunung Lewotobi Perempuan merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, minta masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Api Lewotobi untuk selalu waspada. Imbauan ini menyusul peningkatan status gunung Lewotobi ke level waspada (Level II).

Sejarah Letusan Gunung Lewotobi Perempuan

Gunung Lewotobi Perempuan berada dalam daftar gunung berapi di Nusa Tenggara yang statusnya oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sekarang dinaikkan ke level ‘waspada.’ Gunung Lewotobi yang terletak di timur Pulau Flores sebenarnya merupakan gunung kembar. Gunung ini dikenal sebagai pasangan ‘suami dan istri.’

Letusan Gunung Lewotobi Perempuan

Letusan Gunung Lewotobi Perempuan

Sang suami’ disebut dengan nama Gunung Lewotobi Laki-laki, dan sang ‘istri’ disebut dengan nama Gunung Lewotobi Perempuan. Keduanya hanya dipisahkan jarak sejauh 2 kilometer. Kawah di puncak Lewotobi Laki-laki berdiameter 400 meter, sedangkan kawah di puncak Lewotobi Perempuan berdiameter 700 meter.

MENARIK:  Dialog Prabu Brawijaya, Sunan Kalijaga dan Sabdo Palon

Nah, sekarang kita hanya akan membahas mengenai Sang Istri atau Gunung Lewotobi Perempuan berhubung karena statusnya yang terakhir sejak 30 September 2013 adalah “waspada”. Berikut ini kami akan menyajkan mengenai Sejarah  Letusan Gunung Lewotobi Perempuan. Semoga dapat menambah khazanah wawasan berpikir kita.

Gunungapi Lewotobi Perempuan tercatat pernah meletus pada tahun 1921 dan 1935. Letusan tahun 1921 berupa letusan abu disertai lontaran batu. Sedangkan letusan tahun 1935 mengeluarkan asap tebal secara berkala setiap 5 menit dari Kawah B yang disertai suara gemuruh.

Selain itu, pada tahun 1932 Juga pernah terjadi letusan gas dan letusan abu pada tanggal 17 Desember 1933. Dan terjadi letusan pada 17 Desember 1936 – tepat 6 tahun setelah letusan sebelumnya.

Kemudian pada tahun tahun 1991, terjadi letusan di puncak kawah pada Mei dan Juni serta gemuruh dan abu keluar dari perut Lewotobi mulai 31 Maret 1999, disusul dengan letusan kuat pada tanggal 1 Juli 1999. Lava pijar tersembur hingga radius 500 meter. Letusan dan semburan lava itu menagkibatkan kebakaran hutan sampai lebih dari 2,5 km. Abu beterbangan sampai radius 8 km.

Setelah itu, terjadi letusan pada tanggal 12 Oktober 2002 dan tahun 2003, juga terjadi letusan pada tanggal 30 Mei 2003. Material abu mencapai ketinggian lebih dari 200 meter dari puncak gunung. Letusan dan hujan abu itu berlanjut sampai bulan Juni dan Juli 2003. Aktivitas seismik itu berakhir pada bulan September 2003.

Setelah itu, status kegiatan Gunung Lewotobi Perempuan dinaikkan dari Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) pada 31 Agustus 2011. Kemudian pada 29 Maret 2012 diturunkan kembali menjadi Normal (Level I).

Pada tanggal 31 Agustus 2011 pukul 00 – 06:00 WITA, terekam 5 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), 9 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), getaran Tremor masih menerus dengan amplitudo maksimum berkisar 0.5 – 5 mm.

MENARIK:  Ciri-Ciri Orang Yahudi

Ancaman bahaya pada saat itu adalah terjadinya letusan magmatik disertai dengan lontaran material pijar, pasir dan hujan abu. Kawasan rawan bencana terhadap material jatuhan (hujan abu) dan lontaran batu (pijar) terutama di Kawasan Rawan Bencana III yang meliputi Desa Nobo dan Nurebeleng.

Masyarakat dan wisatawan saat itu dihimbau untuk tidak mendekati dan melakukan aktivitas pada radius 1 km dari kawah Lewotobi Perempuan. Untuk desa yang berada di sekitar Gunung Lewotobi Perempuan agar mewaspadai terjadinya hujan abu, pasir,dan lontaran batu.

Gunung Rokatenda berstatus siaga sejak 13 Oktober 2012 dan Gunung Lewotobi Perempuan berstatus waspada sejak 30 September 2013. Status dua gunung belum diturunkan sampai saat ini. Naiknya status gunung Lewotobi Perempuan menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Thadeus, adalah karena terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. Gunung menyemburkan asap putih.

Sesuai rekomendasi PVMBG, masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Lewotobi Perempuan sudah diperingatkan untuk tetap waspada karena sewaktu-waktu gunung tersebut bisa meletus. Jika terjadi erupsi Gunung Api Lewotobi Perempuan, lahar yang menyembur akan mengarah ke bagian selatan Kabupaten Flores Timur atau ke arah lautan.

Berikut ini adalah kondisi kegempaan terkini Gunung Lewotobi Perempuan.

  • Tanggal  1 – 7 September 2013: terekam 48 kali gempa Hembusan, 10 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali gempa Tektonik Lokal (TL), 30 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), dan 1 kali gempa Frekuensi Rendah.
  • Tanggal  8 – 14 September 2013: terekam 86 kali gempa Hembusan, 20 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 3 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 7 kali gempa Tektonik Lokal (TL), 14 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), dan 1 kali gempa Frekuensi Rendah.
  • Tanggal  15 – 21 September 2013: terekam 1 kali gempa Tremor Hembusan, 80 kali gempa Hembusan, 32 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 4 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali gempa Tektonik Lokal (TL), dan 24 kali gempa Tektonik Jauh (TJ).
  • Tanggal  22 – 28 September 2013: terekam 7 kali gempa Tremor Hembusan, 75 kali gempa Hembusan, 48 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 7 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali gempa Tektonik Lokal (TL), 24 kali gempa Tektonik Jauh (TJ), dan 1 kali gempa Frekuensi Rendah.
  • Tanggal  29 September 2013: terekam 2 kali gempa Hembusan, 159 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 44 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 4 kali gempa Tektonik Lokal (TL).
  • Tanggal 30 September 2013 dari pukul 00:00 – 06:00 WITA, terekam 1 kali gempa Hembusan, 60 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 21 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 5 kali gempa Tektonik Lokal (TL).
MENARIK:  Borobudur, Bukti Kecanggihan Teknologi Peradaban Masa Lalu Nuasantara

Kesimpulan

  • Berdasarkan hasil pengamatan visual dan kegempaan maka tingkat kegiatan Gunung Lewotobi Perempuan dinaikkan dari status Normal (Level I) menjadi Waspada (Level II) terhitung mulai tanggal 30 September 2013 pukul 13:00 WITA.
  • Jika terjadi perubahan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat dinaikkan atau diturunkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya.
  • Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan Gunung Lewotobi Perempuan, serta pemahaman terhadap aktivitas Gunung Lewotobi Perempuan harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman bahaya letusan Gunung Lewotobi Perempuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *