10 Letusan Gunung Terdahsyat Dalam 4.000 Tahun Terakhir

Pada tahun 2014 ini, di Indonesia telah terjadi dua kali letusan gunung berapi cukup besar, yakni letusan gunung Sinabung di Sumatera Utara dan letusan gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur.  Bencana letusan gunung ini membuat banyak warga harus diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Dalam catatan dunia, pada pertengahan tahun ini yakni pada 15 Juni 2014 menandai ulang tahun ke-23 dari letusan dahsyat gunung Pinatubo, Filipina. Letusan gunung itu mengirim sejumlah besar abu tinggi ke langit dan berputar-putar di seluruh dunia, lalu menurunkan suhu global sebesar 1 derajat Fahrenheit (0,5 derajat Celcius) selama setahun pada tahun berikutnya.

Pada tulisan ini, kita akan membahas letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah yang diukur dengan Volcanic Explosivity Index (VEI), yakni sebuah sistem klasifikasi yang agak mirip dengan skala magnitudo gempa bumi.

Loading...

Sistem ini dikembangkan pada 1980-an dan menggunakan faktor-faktor seperti volume letusan, laju dan variabel lain untuk mengukur kekuatan letusan sebuah gunung berapi. Skala lajunya diukur dari 1 sampai 8.

Hingga saat ini kita perlu bersyukur, karena belum ada VEI letusan gunung berapi mencapai angka 8 pada 10.000 tahun terakhir. Namun sejarah manusia telah melihat beberapa letusan yang sangat kuat dan menghancurkan. Karena itu sangat sulit bagi para ilmuwan untuk dapat peringkat kekuatan letusan dalam kategori VEI yang sama.

Berikut ini adalah letusan gunung berapi yang paling kuat dalam 4.000 tahun terakhir dalam catatan manusia yang dikutip RPDC dari Live Science dan Wikipedia:

10. Letusan Huaynaputina, Peru : VEI 6

Gunung Huaynaputina, Peru

Gunung Huaynaputina, Peru

Gunung Huaynaputina merupakan sebuah stratovolcano yang terletak di Peru selatan. Gunung berapi ini tidak memiliki profil gunung yang diidentifikasi, tetapi memiliki bentuk besar kawah gunung berapi. Pada tanggal 19 Februari 1600, gunung ini meletus dan mendapat skala 6 dalam VEI. Letusan gunung ini merupakan letusan terbesar di Amerika Selatan.

Ketika Huaynaputina meletus, aliran piroklastik bergerak 13 km ke timur dan tenggara, dan lahar, lumpur vulkanik mengancurkan beberapa desa dan mencapai pantai samudera Pasifik yang berjarak 120 km. Abu dilaporkan terlempar sejauh 250-500 km.

9. Letusan Krakatau, Indonesia, 1883 : VEI 6

 Letusan Krakatau, Indonesia, 1883

Letusan Krakatau, Indonesia, 1883

Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa.

Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sangat sedikit.

Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

8. Santa Maria, Guatemala, 1902 VEI 6

 Gunung Santa Maria, Guatemala

 Gunung Santa Maria, Guatemala

Gunung Santa Maria adalah gunung berapi aktif yang terletak di Guatemala, dekat dengan kota Quetzaltenango. Letusan gunung ini pada tahun 1902 adalah salah satu dari 3 letusan gunung terbesar pada abad ke-20 setelah Gunung Pelée di Martinique dan Soufrière di St. Vincent.

7. Novarupta, Alaska Peninsula, June 1912 VEI 6

Gunung Novarupta, Alaska Peninsula

Gunung Novarupta Erupsi 1912, Alaska Peninsula

Gunung Berapi Novarupta merupakan sebuah gunung berapi yang terletak di Alaska, Amerika Serikat. Gunung ini memiliki tinggi 841 meter (2759 kaki), terletak pada koordinat 58° 16′0″N, 155° 9′24″W.

Letusan gunung ini pada tahun 1912 telah mengeluarkan magma sejauh 3 kilometer kubik (12,5 km kubik) dan juga abu ke udara. Abunya kemudian jatuh menyelimuti area seluas 3.000 mil persegi (7.800 km persegi) dengan kedalaman abu sampai 1 kaki.

6. Pinatubo, Filipina, 1991 VEI 6

 Pinatubo, Filipina,

Kawah gunung Pinatubo, Filipina

Gunung Pinatubo adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Luzon, Filipina, di perbatasan provinsi Zambales, Tarlac, dan Pampanga. Gunung ini meletus pada tahun 1991, lebih dari 490 tahun setelah aktivitas erupsi yang terakhir kali terlihat, yang merupakan letusan terbesar kedua pada abad ke-20.

Prediksi atas letusan ini awalnya berhasil sehingga puluhan ribu orang mengungsi dari gunung ini dan menyelamatkan banyak jiwa. Tetapi daerah sekitar gunung tersebut hancur karena aliran piroklastik, abu dan lahar.

5. Pulau Ambrym, Republik Vanuatu, 50 SM VEI 6+

Gunung berapi Ambrym, Republik Vanuatu,

Gunung berapi Ambrym, Republik Vanuatu

Ambrym adalah sebuah pulau vulkanik di kepulauan Vanuatu (sebelumnya dikenal sebagai New Hebrides). Gunung berapi ini dinilai sebagai salah satu gunung yang paling aktif di dunia. Pasalnya, gunung ini telah meletus hampir 50 kali sejak tahun 1774.

Pada tahun 1894, enam orang tewas oleh bom vulkanik dan empat orang diseret oleh aliran lava, dan pada tahun 1979, curah hujan asam yang disebabkan oleh gunung berapi membakar perumahan penduduk.

4. Ilopango, El Savador, 450 SM, VEI 6+

 Ilopango, El Savador,

 Gunung api Ilopango, El Savador

Gunung ini berada di pusat kota El Salvador, atau hanya beberapa km saja sebelah timur dari ibukota San Salvador. Pernah terjadi dua letusan dahsyat, yakni letusan pertama yang diketahui adalah doozy.

Letusan yang terjadi pada 450 tahun sebelum Masehi ini menyebabkan abu dan batu apung menyelimuti sebagian dari tengah dan barat El Salvador serta menghancurkan kota-kota Maya kuno. Letusan gunung ini memaksa penduduk untuk mengungsi.

Rute perdagangan terganggu dan pusat-pusat peradaban Maya bergeser dari daerah dataran tinggi El Salvador ke daerah-daerah dataran rendah di utara dan di Guatemala.

3. Gunung Minoa, Thera, Yunani, VEI 6+

Gunung Minoa, Thera, Yunani

Gunung Minoa, Thera, Yunani

Letusan gunung Minoa di Thera, juga disebut letusan Thera atau letusan Santorini, adalah letusan gunung berapi (VEI = 6, DRE = 60 km3) yang diperkirakan terjadi pada pertengahan milenium kedua sebelum Masehi (SM). Letusan ini merupakan salah satu peristiwa gunung berapi terbesar di Bumi.

Letusan ini menghancurkan pulau Thera, termasuk peradaban Minoa dan Akrotiri dan juga komunitas dan wilayah agrikultur disekitar pulau dan pantai Kreta. Letusan ini merupakan salah satu penyebab runtuhnya peradaban Minoa.

2. Gunung Changbaishan, China/Korea Utara, VEI 6+

Gunung Changbaishan, China/Korea Utara

Gunung Changbaishan, Perbatasan China dan Korea Utara

Juga dikenal sebagai Baitoushan Volcano, letusannya memuntahkan material vulkanik hingga ke Jepang utara yang berjarak sekitar 750 mil (1.200 kilometer). Letusan ini juga menciptakan kaldera atau kawah besar hampir 3 mil (4,5 km).  Sekarang kawah-kawah di sekitar gunung ini diisi dengan air dari Danau Tianchi atau Sky Lake.

Danau ini juga menjadi  tujuan wisata populer baik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan alam dan juga dugaan penampakan makhluk tak dikenal yang tinggal di kedalamannya.

Gunung ini terakhir meletus pada 1702, dan ahli geologi menganggapnya masih aktif hingga saat ini. Ada emisi gas dilaporkan keluar dari puncak dan sumber air panas di dekat gunung ini pada tahun 1994, tetapi tidak ada bukti aktivitas baru dari gunung berapi ini setelah diamati lebih jauh.

1. Gunung Tambora, Indonesia, VEI 7

Kawah  Gunung Tambora, Indonesia

 Kawah Gunung Tambora, Indonesia

Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yakni Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15′ LS dan 118° BT.

Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik. Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4.300 m yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan dapur magma besar di dalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi kembali dapur magma tersebut.

Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181. Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km).

Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi. Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia.

Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan pada tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.

MENARIK:  5 Air Terjun Tertinggi Di Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *