Sejarah dan Legenda Gunung Sinabung

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID – Sejarah dan legenda gunung Sinabung memang menyisakan sejumlah pertanyaan. Khususnya ketika kita mengaitkan letusan gunung Sinabung akhir 2013 lalu dengan beberapa kepercayaan masyarakat di sekitar gunung Sinabung.

Gunung Sinabung, dalam bahasa Karo disebut Deleng Sinabung merupakan gunung api yang terletak di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia dengan ketinggian 2.460 meter. Sinabung bersama Gunung Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara dan menjadi puncak tertinggi di daerah itu.

Gunung Sinabung

Loading...

Sebagai tambahan, gunung Sinabung merupakan salah satu dari 30 gunung api yang berada di atas Sesar Besar Sumatera dan merupakan gunung api aktif yang posisinya paling dekat dengan gunung api purba yaitu supervulcano gunung Toba. Sesar Besar Sumatera merupakan salah satu dari dua sesar (patahan) di dunia!

Tercatat gunung Sinabung tidak pernah meletus sejak tahun 1600, tetapi mendadak aktif kembali dengan melakukan erupsi pada tahun 2010 dan kali terakhir letusan gunung Sinabung terjadi sejak September 2013, berlangsung hingga saat ini.

SEJARAH MENAKUTKAN GUNUNG SINABUNG

Gunung Sinabung kembali “aktif” setelah terjadinya sejumlah “goncangan dahsyat” di sekitar lempengnya. Diawali dengan gempa bumi yang disertai  tsunami dahsyat  yang mengguncang Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, kemudian disusul dengan gempa Nias Maret 2005 dan Juli 2006.

MENARIK:  Kontroversi Situs Gunung Padang

Tidak hanya berhenti di situ. Bencana susulan terjadi lagi mulai dari gempa Padang pada Maret 2007 (berulang pada September 2009), kemudian diikuti gempa Nias lagi Oktober 2009.  Nah, setahun  kemudian, tepatnya 29  Agustus  2010, gunung Sinabung meletus untuk pertama kali setelah 400-an tahun tertidur.

Gunung Sinabung Meletus 2013Gunung Sinabung meletus 6 Januari 2014 lalu

Memang, jika ditinjau dari catatan sejarah, patahan besar (sesar) Sumatera yang terbentang sepanjang 1700 km ini memiliki sejarah yang mengguncang seluruh dunia:

Gunung Toba (di tengah) mengawalinya dengan letusan maha dahsyat 74.000 tahun lalu, lalu gunung Karakatau di ujungnya mengguncang pada awal sejarah modern (1883), disusul gempa Aceh diujung satunya lagi mengguncang dunia dengan besarnya korban dan hebatnya guncangan (2004).

Sebagai informasi, supervulcano Toba yang dikatakan masih memiliki dapur magma di bawahnya memang saat ini masih tertidur. Yang ada di atasnya adalah keindahan danau Toba. Dan kalau danau itu adalah kaldera, maka gunung Sinabung adalah “anaknya”.

Nah, apakah “kerewalan” sang anak bisa membangkitkan amarah dari sang Ibu – gunung Toba? Wallahu ‘alam bis shawab.

MITOS GUNUNG SINABUNG

Ada sejumlah mitos berupa cerita legenda tentang gunung Sinabung yang masih beredar di kalangan masyarakat Karo saat ini. Sebagaimana lazimnya kita ketahui, sebagian penduduk yang tinggal di daerah gunung berapi biasanya mempercayai bahwa gunung berapi itu banyak menyimpan hal-hal yang gaib dan mistik.

MENARIK:  Jejak Warisan Pelaut Nusantara di Afrika

Mitos Gunung Sinabung

Di daerah sekitar gunung Sinabung, masyarakat menggap letusan gunung sinabung sebagai pelampiasan kemarahannya. Hal ini disebabkan oleh karena penduduk di sekitarnya telah lalai melakukan ritual-ritual tertentu yang dilakukan secara turun-menurun. Karenanya, tidak jarang pula yang mempercayai bila ritual-ritual telah dilakukan, maka gunung itu tidak akan meletus meskipun gunung itu memang benar-benar akan meletus.

Ada juga cerita masyarakat Karo khususnya di desa Bekerah, Kecamatan Namanteran yang mengatakan bahwa aktifitas gunung Sinabung berhubungan erat dengan legenda Syeh Abdurrahman. Warga yakin gunung Sinabung meletus karena tak diruwat atau minimnya ritual-ritual adat dari masyarakat setempat sebagai penghargaan bagi penghuni di kawasan Sinabung.

Dipercaya atau tidak, sejumlah kejadian yang tidak bisa diterima akal sehat terjadi beberapa waktu belakangan ini dan diyakini sebagai pemberian tanda kemarahan ’penghuninya’. Hampir serupa dengan penuturan Sopan Sah Pane, akrab disapa Pak Opan, wong pintar yang berpraktek di Jalan Sunggal, samping Wisma Bambu, Medan.

Menurutnya, penunggu gaib gunung Sinabung adalah Kiai Janggar, golongan Jin Ifrit, berusia 8000 tahun, berjubah hitam, tingginya mencapai bulan, sekitar 3000 KM lebih.

“Penghuni gaibnya marah, ia merasa dikucilkan, masyarakat seolah melupakannya, karena tidak pernah lagi orang berziarah atau memberi sesajen padanya,” begitu pengakuan Kiai Janggar pada Pak Opan. Karena itulah, makhluk gaib ini melakukan peringatan kepada warga sekitar dengan meledakkan gunung Sinabung tersebut.

Namun hal tersebut tak perlu dirisaukan, kata Pak Opan. “Kali ini Kiai Janggar hanya memberi shock terapi saja. Pada intinya, Kiai Janggar menginginkan masyarakat di sekitar Sinabung menghargai keberadannya”, demikian jelas Pak Opan.

MENARIK:  Situs Megalitikum Cibedug

Warga sekitar diharapkan untuk menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang, dan sekaligus menjaga alam. Adab atau caranya pun tidaklah susah, cukup diletakkan bunga telon, seperangkat sirih, kemudian diletakkan di kaki gunung dengan memakai tampah.

Menurut pengakuan Pak Opan, ternyata, penghuni gaib gunung Sinabung ini bisa digunakan untuk segala macam hajat dan keperluan, tergantung keinginan si pemakai. Bagaimana caranya? Cukup dengan menggunakan bunga telon sama sirih, fadiahkan Alfatihah sebanyak-banyaknya pada Kiai Janggar, membuat wewangian dengan misik hitam, dan membakar buhur Sulaiman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *