Catatan Sejarah Akhir Perang Bubat

Lanjutan dari artikel Catatan Sejarah Perang Bubat

Perang Bubat ini pasti perang yang sangat heroik dan pastinya penuh dengan cerita kepahlawanan bagi kedua belah pihak (kalau asumsinya benar-benar terjadi), karena bukti prasati peninggalan jaman itu tidak pernah dibahas mengenai kepahlawanan perang Bubat, logikanya jika itu terjadi pasti didirikan monumen bersejarah bagi kedua belah pihak, karena peristiwa ini tidak mungkin terlupakan dalam sejarah kebangsaan.

Akhir Perang Bubat

Loading...

Tentunya semangat kepahlawanan ini yang sangat membanggakan dan membuat siapa pun terharu, termasuk pihak lawan, dan tradisi perang biasanya punya tradisi penghormatan luar biasa bagi pihak lawannya yang gugur.

Itulah gambaran raja Hayam Wuruk yang merasa terharu oleh kondisi perang semacam itu, melihat kepahlawanan dari seluruh prajurit yang gugur termasuk seluruh keluarga raja dan para bangsawan.

Beda halnya kalau raja Sunda Galuh melarikan diri dari peperangan, tentunya ini akan mencedrai nilai kepahlawanan itu. Perang sampai titik darah penghabisan ini akan menjadi kebanggan pula bagi seluruh masyarakat kerajaan Sunda Galuh pada waktu itu.

Kalah memang, tapi kalah secara terhormat dan membanggakan, tidak tercela, sungguh elok dan semestinya tidak ada alasan bagi mereka merasa terhina atau pun malu. Mereka akan dikenang sebagai para patriot pembela tanah airnya.

Gajah Mada sendiri memandang peristiwa bubat bukanlah kesalahan dirinya, dan bukan pula kesalahan Majapahit. Gajah Mada mengungkapkan bahwa selama ini sikap dan pandangan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan lain yang tersebar di seluruh penjuru nusantara sudah jelas.

Majapahit menempatkan diri sebagai pemimpin dan pengayom wilayah nusantara, dan kerajaan lain harus satu kata dengan Majapahit. Dengan kata lain kerajaan-kerajaan lain harus tunduk kepada Majapahit.

Gajah Mada memiliki kekuasaan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuasaan sang prabu sendiri. Boleh dikatan jalannya roda pemerintahan berada di bawah kendali Gajah Mada. Sedangkan sang prabu hanya duduk manis di atas dampar dan menerima laporan dan hasilnya saja. Langkah pencopotan Gajah Mada tentunya bisa menimbulkan gejolak politik yang sangat besar yang bahkan bisa menimbulkan adanya perang.

Perang saudara antara prajurit Majapahit yang mendukung dan menentang Gajah Mada hampir terjadi setelah peristiwa bubat. Penentang Gajah Mada berasal dari orang-orang yang marah akibat kehendak rajanya untuk segera memiliki permaisuri gagal, bahkan calon permaisuri – putri Sunda Galuh dan keluarganya – akhirnya dibantai beserta seluruh pengiringnya di lapangan bubat. Sedangkan pendukung Gajah Mada kebanyakan berasal dari pasukan dan orang-orang yang selama ini dengan setia berada di belakangnya.

Sikap Majapahit tersebut tidak boleh dibeda-bedakan, pun terhadap dua kerajaan Sunda yang letaknya di sebelah barat pulau Jawa. Pandangan Gajah Mada yang demikian tidak sejalan dengan sang prabu dan keluarganya.

Gajah Mada lebih memandang tunduknya dua kerajaan Sunda di wilayah barat tersebut mesti diberlakukan sama dengan tunduknya kerajaan-kerajaan lain, kalau perlu dengan kekuatan militer. Sedangkan sang prabu dan keluarga lebih memilih jalan damai.

Jalan damai tersebut salah satunya adalah dengan berbesanan dengan keluarga kerajaan Sunda Galuh. Alasan Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara bersatu salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tar-Tar yang hendak memperlebar wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan.

Wilayah nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tar -Tar.

Pandangan keras Gajah Mada berujung pada kesalahan pengelolaan keadaan sehingga terjadi perang bubat. Raja Sunda Galuh dan seluruh pengiringnya tewas dibantai di lapangan bubat, termasuk calon permaisuri sang prabu.

Gajah Mada yang kemudian dicopot dari jabatan mahapatih menjadi orang biasa, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di sebuah tempat untuk bertapa dan mawas diri. Tempat pertapaan Gajah Mada tersebut terletak di kaki gunung Bromo, di sebuah wilayah yang disebut Sapih. Sampai saat ini, tempat tersebut lebih terkenal dengan sebutan Madakaripura.

Air terjun  Madakaripura

Air terjun  Madakaripura di kaki gunung Bromo di yakini tempat pertapaan Gajah Mada

Peristiwa bubat tidak menyebabkan kerajaan Sunda Galuh merasa perlu untuk membangun kekuatan militer dan menyerang kerajaan Majapahit. Orang-orang Sunda Galuh cinta damai.

Walaupun demikian, secara individu beberapa orang yang setia kepada raja Sunda Galuh yang terbantai di lapangan bubat, memutuskan untuk membalas dendam secara sembunyi-sembunyi. Mereka kemudian membentuk satu kelompok penari tayub yang diberangkatkan ke Majapahit dengan sasaran bidik yang sudah jelas, yaitu Gajah Mada.

Gerakan senyap dan samar yang dilakukan orang-orang Sunda ini langsung menusuk ke lingkungan istana Majapahit. Persiapan yang sangat matang dan teliti adalah kunci keberhasilan gerakan tersebut. Setiap anggota kelompok ini sudah pasti mahir berbahasa Jawa dan menguasai kesenian Jawa.

Pagelaran tari tayub pun di selenggarakan di dekat markas prajurit Majapahit, dengan tujuan untuk menggaet beberapa prajurut Majapahit pilihan, dan mengubahnya untuk dijadikan eksekutor lapangan yang nantinya akan memburu Gajah Mada.

Kecantikan dan gemulainya gerakan penari sunda adalah senjata utama mereka. Tujuan tersebut hamper berhasil mereka capai. Seorang prajurit pilihan Majapahit berpangkat lurah, yang dulunya menjadi pengawal setia Gajah Mada, yang juga pemimpin prajurit pelindung istana kepatihan akhirnya masuk perangkap namun Gajah Mada tidak berhasil mereka singkirkan.

Pada akhirnya meraka harus mengakui kekalahan itu. Sang Banginda Maharaja Sunda Galuh beserta dengan seluruh pasukan tentara dan pengikut kerajaan menjadi para pahlawan yang gugur dengan gagah berani, mengadapi resiko kematian tak bersisa sebagai hasil akhir dalam peperangan tersebut.

MENARIK:  Kisah Nabi Sulaiman dengan Jin Ifrit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *