Spekulasi Jatuhnya Pesawat Malaysia Airlines MH370

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID – Komunikasi terakhir beredar antara salah satu pilot pesawat Malaysia Airlines MH370 dengan petugas Air Traffic Control (ATC) atau pemandu lalu lintas udara pada 54 menit terakhir sebelum jet Boeing 777-200ER itu dinyatakan putus kontak. Transkipnya kini tersebar di sejumlah media asing.

“All right, good night”. Kata-kata penghabisan dari MH370 ternyata tak berdiri sendiri. Belakangan terungkap dugaan komunikasi 54 menit terakhir dengan kapal terbang yang dipiloti Zaharie Ahmad Shah (53) dan kopilot Fariq Abdul Hamid (27). Dari pukul 00.36 sampai 01.19, Sabtu 8 Maret 2014.

Spekulasi Jatuhnya Pesawat Malaysia Airlines MH370
Area Jatuhnya Pesawat Malaysia Airlines MH370

Sebuah komunikasi rutin antara pengendali lalu lintas udara (ATC) dengan pilot. Pihak Malaysia menyebut, data itu tak valid. Tapi, mungkin ada petunjuk di sana.

Loading...

Pada 20 menit pertama, pembicaraan berlangsung normal. ATC memberikan izin pada pesawat untuk naik ke ketinggian jelajah 25.000 kaki dan kemudian 35.000 kaki.

Berdasarkan transkrip yang diungkap Telegraph, ada kejanggalan pada pukul 01.07. Saat seseorang di kokpit mengatakan, “MH370 remaining in flight altitude 350.” Bahwa MH370 masih berada di ketinggian 35 ribu kaki informasi yang tak perlu disampaikan karena telah diucapkan 6 menit sebelumnya. Sama persis.

Mantan pilot British Airways , Stephen Buzdygan mengatakan, bisa jadi itu adalah pesan tersirat bahwa ada yang tak biasa dengan pesawat. Disabotase atau dibajak. Lalu kapal terbang itu dibelokkan ke barat. Meski suara yang diduga sang kopilot terdengar tenang. Sama sekali tak panik, tak ada keributan di kokpit.

Pendapat berbeda diutarakan pengamat penerbangan Clive Irving seperti dimuat di situs The Daily Beast. Bisa jadi setelah pembicaraan itu, ada kejadian darurat yang mengakibatkan kerusakan pusat elektronik MH370. ‘Otak’ pesawat telah mati, tapi tidak pada fisiknya.

“Secara fisik ia mampu terbang selama berjam-jam dengan autopilot sampai kehabisan bahan bakar,” tulis Irving, di kutip dari Daily Beast.

Menjadi pesawat ‘zombie’

’Zombie’ atau istilah yang lebih dikenal dengan ‘pesawat hantu’ merujuk pada kondisi pesawat di mana semua orang di dalamnya  pilot, kru dan penumpang hilang kesadaran atau meninggal dunia karena hilangnya tekanan udara, ledakan, asap, atau uap beracun.

Menjadi pesawat ‘zombie’
Mungkinkah MH370 menjadi ‘Pesawat Zombie’

Jika dugaan ini benar, pesawat Malaysia itu bisa jadi mengalami insiden yang membuat semua orang di dalamnya tak sadar, lalu terus terbang secara autopilot hingga kehabisan bahan bakar.

Sejarah mencatat, insiden serupa pernah terjadi sebelumnya. Meski jarang. Salah satunya, pada 1999 lalu, sebuah jet Lear carteran yang membawa pegolf profesional Payne Stewart dan 4 orang lainnya jatuh di sebuah lapangan South Dakota, setelah terbang sendiri selama empat jam. Pesawat itu terus mengudara sementara semua manusia yang ada di sana telah kehilangan nyawa. Setelah kehabisan bahan bakar ia lalu jatuh .

“Bisa jadi pada beberapa menit pertama dalam kondisi darurat, pilot mengubah arah untuk mencari bandara darurat,” demikian analisa Clive Irving terkait penerbangan MH370. Dan lokasi Samudera Hindia cocok dengan perhitungan daya jelajah MH370, berdasarkan perkiraan bahan bakar yang tersisa.

Terbakar atau Meledak?

Hipotesis itu didukung dengan terkuaknya muatan kargo MH370 berupa baterai lithium-ion. Hal itu diakui CEO Malaysia Airlines Ahmad Jauhari Yahya, meski tak merinci jumlahnya.

Pesawat Malaysia Airlines MH370 meledak atau terbakar?
Mungkinkah Pesawat Malaysia Airlines MH370 meledak?

Baterai Lithium-ion yang biasa digunakan dalam laptop dan ponsel, diketahui bisa meledak, meski itu jarang terjadi.

Pada tahun 2010, kecelakaan fatal menimpa pesawat kargo UPS di Dubai. Lithium-ion yang digunakan untuk komponen daya pada Boeing 787 dianggap sebagai pemicu kebakaran di kapal terbang itu.

Namun, kata Ahmad, pihaknya kerap mengangkut kargo sejenis. “Itu tidak dianggap sebagai barang berbahaya dan dikemas seperti yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional,” kata si Bos. Lagipula bukan baterei besar, tambah dia, kecil-kecil.

Namun, bagian keamanan dan keselamatan U S Federal Aviation Administration dalam situsnya mengatakan, baterai lithium-ion yang diproduksi di Malaysia, Taiwan, dan Jepang “mudah terbakar dan dalam kondisi panas bisa melepaskan energi yang tersimpan di dalamnya.”

MENARIK:  Penemuan Kotak Hitam Tak Bisa Ungkap Rute MH370

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *