Kisah Tentang Adam dan Kemunculan Dewa

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID – Kisah ini merujuk pada judul Serat Mahapurwa. Bisa diartikan sebagai serat atau naskah tentang kisah yang sangat awal. Kisah tentang Adam dan kemudian muncul Dewa. Ini fokus pada sosok Sang Hyang Nurcahya yang kemudian menyebut dirinya sebagai Sang Hyang Dewata, Sang Hyang Mahamulia, dan sebagainya. Silakan menikmati.

Kisah Tentang Adam dan Kemunculan Dewa
Kisah Tentang Adam dan Kemunculan Dewa

=====

Serat Mahapurwa menceritakan kisah Sang Hyang Adama, Sang Hyang Sita, Sang Hyang Nurcahya, Sang Hyang Nurasa, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, beserta Sang Hyang Manikmaya. Dasar serat ini merujuk pada Serat Paramayoga karya Pujangga Ranggawarsita di Surakarta yang merujuk Serat Jitapsara karya Begawan Palasara di Astina dan merujuk Pustaka Darya karya Sang Hyang Nurcahya di Lokadewa.

Loading...

Sang Hyang Adama

Dikisahkan Sang Hyang Adama, sesudah diturunkan ke alam dunia bersamaan dengan ampunan dosa, menjadi raja di Kusniamalabari, merajai hewan-hewan. Makannya dari para pengikutnya. Sang Hyang Adam menciptakan tahun surya dan tahun candra, kemudian menciptakan Tanajultarki untuk permulaan menanam pada tahun 129 SA atau tahun 133 CA.

Tak lama istrinya Sang Hyang Adama, yakni Dewi Hawa melahirkan kembar dampit putra-putri. Kembar  pertama buruk rupa, kedua bagus, ketiga jelek dan keempat baik, kelima jelek, begitu seterusnya sampai empat puluh dua kali, tetapi yang keenam dan keempat satu, tidak kembar.

Setelah punya putra kembar lima, Sang Hayang Adam akan menjodohkan putra-putrinya. Putra yang gagah dijodohkan dengan putri yang jelek. Putri yang cantik dijodohkan dengan putra yang jelak. Jadi tak ada perjodohan dengan kembarannya sendiri.

Sedangkan maksud Dewi Hawa, putra putrinya dijodohkan dengan kembarannya, yang gagah dijodohkan dengan yang cantik, yang jelek dengan yang jelek. Perjodohan ini jadi perselisihan antara Sang Hyang Adama dan Dewi Hawa. Perselisihannya sampai adu kuasa mengeluarkan “rahsa pamuja” yang diwadahi cupumanik dan dimintakan kepada Tuhan.

Setelah sampai pada masanya, cupumanik dibuka. Rahsa pamuja di cupumanik Sang Hyang Adam menjadi bayi namun hanya raga; sedangkan Rahsa pamuja di cupumanik Dewi Hawa berwujud darah atau benih. Dewi Hawa merasa sedih atas keadaan itu.

Jabang bayi yang ada di cupumanik Sang Hyang Adama dapat dipastikan menjadi bayi yang sempurna dan ada petunjuk dari Tuhan bahwa nama bayi itu adalah Sang Hyang Sita. Beliau bergembira tiada tara.

Tak lama ada peristiwa menggemparkan, cupumanik Sang Hyang Adama tertiup angin puyuh jatuh di pusat laut hitam. Cupumanik tertangkap oleh Danyang Azazil, raja Banujan yang menguasai laut hitam.

Akhirnya Dewi Hawa patuh pada aturan perjodohan Sang Hyang Adama. Semua putra putrinya semua empat puluh kembar, dan ada yang dua tidak kembar yaitu Sang Hyang Sita dan Dewi Hunun.

Putra Putri Sang Hyang Adama, yaitu

1) Sang Hyang Kabila, 2) Dewi Alima, 3)Sang Hyang Habila, 4) Dewi Damima, 5) Sang Hyang Isrila, 6) Dewi Sarira, 7) Sang Hyang Israwana, 8) Dewi Mona, 9) Sang Hyang Basaradiwana, 10) Dewi Dayuna, 11) Sang Hyang Sita, 12) Sang Hyang Yasita, 13) Dewi Awisa, 14) Sang Hyang Sesana, 15) Dewi Aisa, 16) Sang Hyang Yasmiyana, 17) Dewi Ramsa, 18) Sang Hyang Yanmiyana, 19) Dewi Yarusa, 20) Sang Hyang Suryana,

21) Dewi Siriya, 22) Sang Hyang Amana, 23) Dewi Mahasa, 24) Sang Hyang Kayumarata, 25) Dewi Hindunmaras, 26) Sang Hyang Yajuja, 27) Dewi Majuja, 28) Sang Hyang Lata, 29) Dewi Uzza, 30) Sang Hyang Harata, 31) Dewi Haruti, 32) Sang Hyang Danaba, 33) Dewi Daniba, 34) Sang Hyang Bantasa, 35) Dewi Bintisa,

36) Sang Hyang Somala, 37) Dewi Susia, 38) Sang Hyang Jamaruta, 39) Dewi Malki, 40) Sang Hyang Tamakala, 41) Dewi Tamakali, 42) Sang Hyang Adana, 43) Dewi Adini, 44) Sang Hyang Harnala, 45) Dewi Harnila, 46) Sang Hyang Samala, 47) Dewi Samila, 48) Sang Hyang Awala, 49) Dewi Awila, 50) Sang Hyang Astala,

51) Dewi Astila, 52) Sang Hyang Nurala, 53) Dewi Nureli, 54) Sang Hyang Nuhkala, 55) Dewi Nuhkali, 56) Sang Hyang Nuskala, 57) Dewi Arki, 58) Sang Hyang Sarkala, 59) Dewi Sarki, 60) Sang Hyang Karala, 61) Dewi Karia, 62) Sang Hyang Dujala, 63) Dewi Dujila, 64) Sang Hyang Katala, 65) Dewi Katili,

66) Sang Hyang Arkala, 67) Dewi Arkali, 68) Sang Hyang Mrihakala, 69) Dewi Mrihakali, 70) Sang Hyang Ardabala, 71) Dewi Ardiati, 72) Sang Hyang Sanala, 73) Dewi Peni, 74) Sang Hyang Pujala, 75) Dewi Puji, 76) Sang Hyang Sasala, 77) Dewi Sasi, 78) Sang Hyang Sahnala, 79) Dewi Sani, 80) Dewi Hunun, 81) Sang Hyang Sahalanala, 82) Dewi Sahini.

Namun Sang Hyang Kabila, Dewi Alima, Sang Hyang Basaradiwana, Dewi Dayuna, Sang Hyang Lata, Dewi Uzza tidak menurut pada aturan perjodohan Sang Hyang Adama. Sang Hyang Kabila tak sejalan, dan menghendaki dijodohkan dengan kembarannya, yaitu jodoh bagi Sang Hyang Habila. Perbedaan memperebutkan jodoh tersebut sampai kematian.

Sang Hyang Habila dikalahkan oleh Sang Hyang Kabila. Setelah adiknya mati, Sang Hyang Kabila termenung memikirkan bagaimana caranya mengubur jasad adiknya. Kemudian ada burung gagak mengaduk-aduk tanah. Sang Hyang Kabila mengikuti burung gagak untuk membuat liang lahat.

Sang Hyang Kabila dan Istrinya Dewi Alima serta Dewi Damima diusir oleh Sang Hyang Adama, lalu mengelana sampai tanah Afrika, dibarengi oleh adiknya Sang Hyang Basaradiwana dan Dewi Dayunan. Demikian juga Sang Hyang Yajuja dan kembarannya Dewi Majuja menyusul Sang Hyang Kabila ke tanah Afrika. Sedangkan Sang Hyang Lata dan Dewi Uzza mengelana ke tanah Asia.

Bersambung

MENARIK:  Sejarah Awal Mula Bangsa-Bangsa di Dunia

KOMENTAR untuk “Kisah Tentang Adam dan Kemunculan Dewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *