Sanghyang Manikmaya Kembali ke Kahyangan

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID – Sementara itu, Kahyangan Jonggring Saloka bagai diguncang gempa. Gunung Candradimuka mengeluarkan hawa panas. Sanghyang Manikmaya dengan mengendarai Lembu Andini memeriksa keadaan Kahyangan dan sekitarnya.

Sanghyang Manikmaya Kembali ke Kahyangan

Di tengah samodra, terlihat seorang pemuda yang sedang bertapa diatas air laut yang menggelora. Ia bernama Kanekaputra, putera  Sanghyang Caturkaneka, cucu Sanghyang Darmajaka.

Loading...

Ia bermaksud mohon kemurahan dewa untuk mengangkat dirinya sebagai punggawa dewa. Ia ingin menjadi dewa.

Sanghyang Manikmaya tertarik dengan keinginan Kanekaputra, namun sebelumnya diberikannya bermacam-macam pertanyaan kepada Kanekaputra.

Kanekaputra bisa menjawab semua  pertanyaan yang diberikan Sanghyang Manikmaya  dengan tepat. Akhirnya Sanghyang Manikmaya mengakui kepandaian  Kanekaputra dan diajaknya ke Kahyangan.

Di Kahyangan ia diangkat menjadi bayan dewa. Dalam melaksanakan tugas Kanekaputra selalu melucu atau melawak, Sehingga Sanghyang Manikmaya lama-lama risih juga.

Oleh karena itu Kanekaputra yang tampan itu diubahnya menjadi bertubuh pendek gemuk, berwajah seperti pelawak dan kalau jalan selalu melihat keatas.

Ya, karena Kanekaputra diubah menjadi orang yang pendek, sehingga kalau bicara dengan orang lain harus melihat keatas. Ya, bayangkan saja ia mungkin sebesar tempayan.

Sanghyang Manikmaya memberikan nama baru bagi Kanekaputra dengan sebutan  Bathara Narada. Namun Sanghyang Manikmaya selalu lupa menyebut Bathara Narada, ia sering menyapanya dengan Resi Kanekaputra.

Sementara itu di Negeri Merut, tinggalah Saudagar Umaran dan istrinya, Dewi Nurweni. Mereka merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan mendapatkan seorang anak yang sudah lama didambakannya. Dewi Nurweni merasa sudah saatnya melahirkan.

Tiada beberpa lama  kemudian , lahirlah sang bayi. Namun ajaib,  bayi itu bersinar terang menyilaukan mata. Saudagar Umaran dan Dewi Nurweni terperanjat.

Mereka lebih terperanjat lagi ketika bayinya bisa melayang. Tiba-tiba bayi keluar dari kamar,kemudian keluar dari rumah dan melayang di angkasa raya.

Saudagar Umaran dan istrinya Dewi Nurweni segera mengejarnya.Ternyata Saudagar Umaran dan Dewi Nurweni cukup tinggi ilmunya, merekapun terbang mengejar bayinya ke angkasa.

Bayi itu melayang-layang diangkasa dan  menuju Suralaya tempat para dewa bersemayam. Bayi terus melayang dan mencapai Gerbang Selamatangkep. Cingkarabala dan Balaupata, penjaga Gerbang Selamatangkep.  mencoba menghadang bayi ajaib agar tidak memasuki Suralaya.

Namun bayi itu terus melaju masuk ke Suralaya. Sanghyang Manikmaya melihat ada cahaya yang menyilaukan mata, memasuki Suralaya.

Sanghyang Manikmaya mencoba menangkap bayi itu, namun selalu lepas. Sanghyang Manikmaya akhirnya  dengan mata batinnya minta pertolongan pada Sanghyang Tunggal, ayahandanya.

Tiba-tiba saja tangan  Sanghyang Manikmaya bertambah menjadi empat. Karena Sanghyang Manikmaya mempunyai empat  tangan, maka ia disebut juga Sanghyang Caturboja.

Dengan kekuatan luar biasa Sanghyang Manikmaya menangkap bayi itu. Bayi itu terlepas dari satu tangan namun dapat ditangkap tangan yang lain,demikian bergantian tangan itu menangkap bayi itu. Sanghyang Manikmaya tidak sabar lagi, ia menggunakan aji kemayannya.

Sanghyang Manikmaya menjadi terkejut ketika mengetahi bayi yang ditangkapnya telah berubah menjadi seorang wanita yang cantik jelita.Kedua orang tua sang bayi pun mengetahui kejadiannya.

Saudagar Umaran dan Dewi Nurweni pasrah atas kejadian ini pada Sanghyang Manikmaya.Sanghyang Manikmaya melihat gadis dihadapannya merasa jatuh cinta.

Kepada Saudagar Umaran dan Dewi Nurweni, anak itu diminta untuk dijadikan istrinya.Saudagar Umaran dan Dewi Nurweni pun menyetujui permintaan Sanghyang Manikmaya.

Gadis itu oleh Saudagar Umaran diberi nama Dewi Uma. Sanghyang Manikmaya merasa bahagia bersanding dengan Dewi Uma yang sangat di cintainya. Dari perkawinannya dengan Dewi Uma. Sanghyang Manikmaya mendapatkan  beberapa anak yaitu :

1.  Bathara Sambu
2.  Bathara Brahma
3.  Bathara Indra
4.  Bathara Bayu
5.  Bathara Wisnu
6.  Bathara Kala
7.  Bathara Dewasrani        
8.  Bathara Gana (Ganesya)

Bathara Gana,  seorang Dewa berkepala gajah. Hal ini terjadi ketika Dewi Uma yng sudah bertukar raga itu sedang hamil, ada  seekor gajah putih mengamuk dikayangan Jonggring Saloka.

Sehingga Dewi Uma merasa ketakutan, Ketika bayinya lahir berujut seorang bayi berkepala gajah.                                 

Sementara itu dari istrinya dewi Senggani, Sanghyang Ismaya  berputra :

 1.  Bathara Wungkuhan
 2.  Bathara Surya
 3.  Bathara Candra
4.  Bathara Temburu
5.  Bathara Siwah
6.  Bathara Kuwera
7.  Bathara Yamadipati
8.  Bathara Kamajaya
9.  Bathara Wrahaspatii
10.  Bathari Darmanastiti

Bersambung

MENARIK:  Mohenjo Daro, Sebuah Kota Purba yang Terkubur Lama di Lembah Indus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *