Bathara Kala

Bathara Kala
Ilustrasi Bathara Kala

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID – Sepeninggal Bathara Kala, para dewa menjadi gelisah. Mereka takut manusia akan musnah. Sanghyang Narada mewakili para dewa mengingatkan Sanghyang Manikmaya  untuk tidak memberikan kebebasan pada Bathara Kala.

Sanghyang Manikmaya menyetujui permintaan para Dewa Akhirnya para dewa menyusul Bathara Kala untuk memberikan batasan korban yang  bisa ia makan.

Bathara Wisnu memakai pakaian dalang, dan mengganti nama dengan Dalang Kandha buwana. Sedangkan para dewa yang lain menjadi niyaga yang memainkan musik gamelan. Mereka menuju Negeri Medangkemulan.

Loading...

Mereka menemui Prabu Sri Mahapunggung, untuk minta ijin akan menggelar pertunjukan wayang kulit. Prabu Sri Mahapunggung tidak merasa keberatan.

Pagelaran wayang kulitpun dimulai, para penonton berdatangan untuk menyaksikan, hingga tumpah ruah dilapangan Kerajaan. Juga ikut menonton pula seorang pemuda  ontang-anting atau seorang anak terlahir tunggal tidak berkakak atau pun tidak beradik.

Sang dalang Kandhabuwana, melihat itu, minta agar pemuda itu bersembunyi dibelakang Dalang Kandhabuwana. Sang pemuda merasa kebingungan, tetapi ia menurut saja perintah Dalang Kandhabuwana.

Tiba-tiba para penonton berteriak ketakutan, rupanya Bathara Kala menghampiri  pertunjukan ini. Ia duduk dekat para penonton lain, sambil mendengarkan suara musik gamelan.

Ia kelihatan menikmati irama gamelan. Setelah beberapa saat kemudian, bangunlah Batara Kala menghampiri seorang anak yang masih digendong ibunya. Ibunya cemas melihatnya, dan minta tolong.

Dalang Kandhabuwana minta agar Bathara Kala menghentikan maksudnya. Akhirnya Bathara Kala dan Pemuda ontang-anting itu didudukkan bersama dihadapan Dalang Kandhabuwana. Mereka diruwat bersama.

Keduanya dimandikan air kembang. Bathara Kala mendapat peringatan dari Dalang Kandhabuwana,  Buruan mana yang bias dimakan, karena tidak semua buruan boleh dimakan, ada batas-batasnya. Adapun  orang yang termasuk menjadi mangsa Bathara Kala harus diruwat.

Menurut saya, semua yang hidup didunia ini akan habis dimakan kala, akan habis dimakan waktu. Untuk itu waktu jangan disepelekan. Waktu sekarang tidak akan dijumpai lagi pada hari esok, atau hari kapanpun.Waktu harus diisi dengan kegiatan yang positif, gunakanlah untuk  kepentitingan  dunia dan akhirat.

Setelah selesai memberi wejangan, Bathara Kalapun pergi, dan pagelaran wayang kulit pun selesai. Dalang Kandhabuwana dan para niyaga berubah kembali menjadi Bathara Wisnu dan para dewa semua, dan kembali ke Kahyangan..

Sementra itu Sanghyang Manikmaya telah memiliki gadis pujaan hati yang bernama Dewi Lokawati. Ia sangat mencintainya. Namun Dewi Lokawati tidak mencintai Sanghyang Manikmaya.

Ia menubruk senjata tombak Kalaminta, milik Sanghyang Manikmaya. Ia berubah menjadi setangkai padi. Sanghyang Manikmaya kecewa, karena harus menunda percintaannya dengan dewi Lokawati.

Ia harus menunggu  benih itu tumbuh menjadi tanaman padi dan berbuah, Disaat itulah nanti Sanghyang Manikmaya bisa bertemu lagi dengan Dewi Lokawati.

Sanghyang Manikmaya membawa bibit padi itu ke Negeri Medangkemulan, menemui Raja Sri Mahapunggung. Sesampai di Negeri Medangkemulan, Sanghyang Manikmaya memberikan bibit padi itu kepada Prabu Sri Mahapunggung.

Kini di Medangkemulan tumbuhlah tanaman padi yang amat luas. Terlihat bagaikan permadani terbentang dari ujung barat sampai ke ujung timur. Sementara itu Dewi Sri dewi pelindung padi telah pula bersemayam diantara tanaman padi. 

Dewi Sri  sudah beberapa saat tidak kembali ke Kahyangan. Prabu Sri Mahapunggung mencemaskan  kepergian Dewi Sri.  Sementra itu Sadana, kakak Dewi Sri sudah mencari keberadaan Dewi Sri, Namun belum juga ketemu.

Kini buliran padi sudah mulai menguning, dan tidak lama lagi siap dipanen. Namun tanaman padi ternyata menarik perhatian hama padi, dari jenis serangga sampai dengan tikus.

Dewi Sri berusaha melindungi tanaman padi. Sadana meminta para petani bergotong royong untuk memberantas hama padi. Mereka berhasil menyelamatkan padi dan tanaman hasil bumi lainnya..

Akhirnya Dewi Sri muncul kembali dari hamparan padi dan bertemu dengan Sadana kakaknya. Sebagian petani  pada zaman dahulu, menganggap  Dewi Sri adalah Dewi Padi atau Dewi Pelindung Padi.

Sementara itu Sanghyang Manikmaya ingin merasakan butiran padi.Ia berubah menjadi seekor burung pipit. Burung pipit terbang menuju pesawahan negeri Medangkemulan. Gelagat Sanghyang Manikmaya diketahui Dewi Uma yang berwajah Raseksi.

Ia memerintahkan para bidadari turun kesawah negeri Medangkemulan dengan merubah diri menjadi rmput juwawut yang sedang berbuah pula, serta menyebar kesegala penjuru pesawahan.

Sanghyang Manikmaya yang sudah berubah menjadi burung pipit mencoba mematuk butiran padi, tapi selalu dihalang-halangi rumput juwawut. Akhirnya sebutir juwawut terpatuk burung pipit. Rumput Juwawut itupun berubah menjadi dewi Uma.

Burung Pipit terkejut, dan berubah kembali  menjadi Sanghyang Manikmaya. Sanghyang Manikmaya sangat malu pada Dewi Uma dan para bidadari. Akhirnya Sanghyang Manikmaya memerintahkan para bidadari pulang ke Kahyangan.

 Sanghyang Manikmaya mengajak Dewi Uma pergi menemui seorang wanita yang sedang bertapa di hutan Krendawahana. Ia ingin menjadi seorang Bethari dan ingin berjodoh dengan seorang keturunan Dewa. Kemudian sampailah Sanghyang Manikmaya dan Dewi Uma di  Hutan Krendawahana. Tempat yang menyeramkan.

Sang Wanita pertapa itu pun  dibangunkan oleh  Sanghyang Manikmaya. Wanita pertapa itu bernama  Dewi Permoni.  Sanghyang Manikmaya me ngutarakan maksud kedatangan mereka, akan  memenuhi permintaan Dewi Permoni. Dewi Permoni  akan diangkat menjadi seorang Bethari dan mendapat jodoh seorang keturunan Dewa.

Tetapi asal Dewi Permoni mau bertukar raga,Setelah berpikir sejenak, Dewi Permonipun setuju  bertukar raga dengan raga Dewi Uma, Mereka saling bertukar nyawa, Sukma Dewi Uma masuk kedalam raga Dewi Permoni dan sukma Dewi Permoni masuk kedalam raga Dewi Uma.

Dewi Permoni yang sudah masuk kedalam raga Dewi Uma, diajak Sanghyang Manikmaya menuju istana Setragandamayit tempat Bathara Kala bertahta menjadi Dewa yang menguasai makhluk halus.

Melihat kedatangan Dewi Uma yang sudah bertukar sukma Dewi Permoni, Bathara Kala menganggap ia tetap ibunya.

Tetapi Sanghyang Manikmaya, menerangkan, bahwa mulai sekarang Dewi Uma yang dihadapan  Bathara Kala sudah bukan ibunya, karena sukmanya bukan sukma Dewi Uma, tetapi sukma  wanita lain yang berama Dewi Permoni.

Bathara Kala bingung Karena ia masih mengangap bahwa wanita yang berada dihadapannya adalah ibunya. Akhirnya Bathara Kala di kawinkan kan dengan Dewi Permoni.

Walaupun sudah kawin, Bathara Kala tetap bingung, Ia selalu menyapa istrinya dengan sebutan,   Istriku ya Ibuku, yayi Bethari. Dewi Permoni mendapat nama baru dari Sanghyang Manikmaya dengan sebutan Bethari Durga.

Dari perkawinan Bathara Kala dengan Bethari Durga, Bathara Kala mendaapatkan beberapa orang anak :

1. Bathara Siwahjaya
2. Bathari Kalayuwati
3. Bathara Kalayuwana
4. Bathara Kalagutama
5. Bathara Kartineya

Untuk  Bathara  Dewasrani,  sebenarnya anak Sanghyang Manikmaya dengan Dewi Uma  yang  masih  berwajah raseksi.  Bayi itu tetap dilahirkan, diasuh dan dibesarkan oleh  Dewi Uma Raseksi yang  telah berganti sukma  Dewi Permoni.

Dewasrani diasuh dan dibesarkan oleh Dewi Permoni (Betari Durga) di Kahyangan Setragandamayit.

Demikian kurang lebihnya kami mohon maaf, dan mohon saran serta  masukan.

MENARIK:  Menyelusuri Jejak Nabi Nuh di Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *