Catatan Seajarah Nusantara Tahun 500 Masehi Sampai 1000 Masehi

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID ~ Sekitar Tahun 500 Masehi,  Awal Kerajaan Srivijaya di dekat Palembang. Merupakan kerajaan maritim yang terulung di rantau Asia Tenggara. Dikenali sebagai Shih-li-fo-shi dalam rekod China. Terkenal dengan angkatan tentera lautnya yang besar: Dianggotai pelbagai golongan rakyat termasuk Orang Laut yang mahir dalam bidang pelayaran.

Seajarah Nusantara Tahun 500 Masehi Sampai 1000 Masehi
Peta Nusantara Zaman dulu

Membolehkan Srivijaya mengawal perdagangan di Selat Melaka serta mengawal keselamatan kerajaan. Mempunyai kedudukan yang strategik. Lokasinya di Selat Melaka menyediakan tempat persinggahan kapal yang semula jadi bagi saudagar-saudagar yang berdagang di antara India dengan China.

Kedudukannya di muara Sungai Musi membolehkannya mengumpulkan hasil dan barangan dagangan dari kawasankawasan di pedalamannya. Penduduknya mahir dalam bidang pelayaran dan pembinaan kapal yang besar. Ini jelas dicatatkan I-Tsing pada tahun 671 M. Dalam bahasa Sansekerta, Sri berarti “bercahaya” dan Wijaya berarti “kemenangan”.

Loading...

Tahun 526 Masehi, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara.

sekitar Tahun 600 Masehi,  Kerajaan Melayu berkembang di sekitar (yang kita sebut sekarang) Jambi, di Sumatra. Catatan Cina dari masa ini menunukkan kerajaan-kerajaan di Jambi dan Palembang di sumatra, dan tiga kerajaan di Jawa.

Kerajaan sebelah barat berhubungan dengan Prasasti Taruma Negara, Kerajaan di bagian tengah disebut “Kalinga”, dan kerajaan sebelah timur dengan ibukota mungkin didekat Surabaya atau Malang.

Tahun 612 Masehi, Cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh. Kata Galuh diartikan secara tradisional oleh orang Jawa Barat, galeuh atau inti. Dari pengertian tersebut, timbul pergeseran kata inti menjadi hati, sebagai inti dari manusia.

Dalam pengertian lain, kata galeuh disejajarkan dengan kata galih, kata yang halus dari beuli (beli). Wajar jika dalam perkembangan selanjutnya, timbul dua sebutan Galuh Pakuan dengan Galih Pakuan.

Van Der Meulen mengemukakan tentang adanya tiga kerajaan Galuh, antara lain sebagai berikut :

  • Galuh Purba (Galuh Lama) yang berpusat di daerah Ciamis (Jawa Barat)
  • Galuh Utara (Galuh Baru = Galuh Lor = Galuh Luar) yang berpusat di daerah Dieng
  • Galuh yang berpusat di Denuh (Tasikmalaya)

Kendan Cikal Bakal Galuh

Ndeh nihan carita parahiyangan. Sang Resiguru mangyuga Rajaputra miseuweukeun Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan. Ngangaranan maneh Rahiyangta Dewaraja. Basa lamku ngarajaresi ngangaranan maneh Rahiyangta ni Medang Jati. Inya Sang Layuwatang. Nya nu nyieun Sanghiyang Watang Ageung.

Terjemahannya :

” Ya inilah kisah para leluhur. Sang Resiguru beranak Rajaputra. Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sangkandiawati, sepasang kakak-beradik. Sang Kandiawan menamakan dirinya Rahiyangta Dewaraja. Waktu ia menjadi rajaresi menamakan dirinya Rahiyangta di Medang Jati, yaitu Sang Layuwatang. Dialah yang membangun balairung besar”. (Danasasmita, 1983)

Ternyata tokoh Resiguru dalam carita parahiyangan itu adalah menantu Sri Maharaja Suryawarman, penguasa Tarumanagara VII (515 – 535 M). Kisah Sang Rajaresiguru Manikmaya, Raja Kendan, memperoleh keturunan beberapa putera dan puteri. Salah seorang diantaranya bernama Rajaputra Suraliman.

Dalam usia 20 tahun, Sang Suraliman tampak ketampanannya dan sudah mahir ilmu perang (yuddhenipuna). Oleh karena itu ia diangkat menjadi Senapati dan kemudian menjadi panglima bala tentara (baladhika ning wadyabalad Tarumanagara), oleh kakeknya.

Setelah Sang Rajaresiguru Kendan wafat, Sang Baladhika Suraliman, dirajakan di Kendan sebagai penguasa baru. penobatan Rajaputra Suraliman berlangsung pada tanggal 12 bagia genap bulan Asuji tahun 490 saka ( 5 Oktober 568 M). Sang Suraliman selalu unggul dalam perang.

Dalam perkawinan dengan puteri Bakulapura (Kutai) keturunan keluarga Kundungga yang bernama Dewi Mutyasari, Sang Suraliman mempunyai seorang putera dan seorang puteri. Yang sulung bernama Sang Kandiawan. disebut juga Sang Rajaresi Dewaraja atau Sang Layuwatang. Dan sang adik bernama Sang Kandiawati.

Sang Suraliman menjadi Raja Kendan selama 29 tahun (568 – 597 M). Sang Suraliman digantikan oleh puteranya, Sang Kandiawan. Ketika ayahnya (Sang Suraliman) menjadi penguasa Kendan, Sang Kandiawan telah menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana. Karena itu ia digelari Rahiyangta ri Medang Jati.

Setelah Sang Kandiawan menjadi penguasa Kendan menggatikan ayahnya, ia berkedudukan di Medang Jati, tidak di Kendan. Sang Kandiawan menjadi Raja Kendan selama 15 tahun (567 – 612 M).

Sang Kandiawan mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu menjadi petapa di Layung watang daerah Kuningan. Sebagai pengganti dirinya, ia menunjuk putera bungsu yaitu Sang Wretikandayun yang waktu itu sudah menjadi Rajaresi di Menir.

Seperti dalam cerita pantun Lutung Kasarung, tahta kerajaan oleh Prabu Tapa diwariskan kepada puterinya yang bungsu Purbasari. Dasar pertimbangannya, Purbalarang sebagai puteri sulung lebih terpikat oleh urusan duniawi.

Sang Wretikandayun dinobatkan menjadi penguasa baru menggantikan ayahnya pada tahun 534 saka atau 612 M. Ketika naik tahta, Sang Wretikandayun berusia 21 tahun. Ketika dinobatkan ia tidak berkedudukan di Kendan ataupun Medang Jati. Untuk pemerintahannya, Sang Wretikandayun mendirikan ibu kota baru yang diberi nama Galuh (Permata).

Galuh berada di lahan yang diapit oleh Sungai Cimuntur dan Citanduy. Lokasi bekas Galuh sekarang dikenal sebagai Desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Tahun 669 Masehi, Sang Maharaja Linggawarman, Raja Tarumanagara ke duabelas wafat. Beliau digantikan oleh menantunya, Sang Tarusbawa, dengan gelar Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sunda Sembawa.

Penobatan dilangsungkan pada tanggal 9 bagian terang bulan Jesta tahun 591 Saka (18 Mei 669 M).

Ketika Tarumanagara diperintah oleh mertuanya, pamor kerajaanya sudah sedemikian merosot. Sang Tarusbawa berupaya mengembalikan kejayaan Tarumanagara seperti ketika pemerintahan di pegang oleh Purnawarman (395 – 434 M). Sang Tarusbawa lahir dan dibesarkan di Sundapura (Kota Sunda) bekas ibukota Tarumanagara.

Tindakan pertama, Sang Tarusbawa merubah nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda, mengambil nama kota kelahirannya yang waktu itu berfungsi dari sebutan Sundapura menjadi Sunda Sembawa (Tanah kabuyutan).

Tindakannya tersebut, dimanfaatkan oleh Sang Wretikandayun untuk memerdekakan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Kerajaan Sunda.

Sekitar tahun 670 Masehi, Seorang pengembara Cina mengunjungi Palembang, Ibukota Srivijaya. Candi Hindu dibangun di dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah. Sekitar masa ini, Kerajaan Sunda pertama bangkit setelah berakhirnya kerajaan Tarumanegara.

Tahun 686 Masehi, Srivijaya mengambil alih kerajaan Melayu di Jambi, dan mengirim pasukan ekspedisi melawan kerajaan di Jawa.

Batu bertulis tertanggal tahun 683 Masehi dan tahun 686 Masehi dari sumatra selatan dan Bangka menggambarkan kegiatan militer Srivijaya melawan Melayu dan Jawa. Batu tersebut adalah tulisan-tulisan Malayo-Polynesia tertua yang diketahui.

Sekitar tahun 700 Masehi, Kerajaan Suwawa berkembang di Sulawesi Utara. Srivijaya telah menaklukkan Kedah, di semenanjung Malaya.

Sekitar tahun 732 Masehi, Sanjaya mendirikan wangsa Sanjaya di Jawa Tengah.

Sekitar  tahun 770 Masehi, Raja Sailendra, Vishnu (atau Dharmatunga) mulai membangunn Borobudur. Awal kegiatan pembangunan di Prambanan.

Sekitar tahun 782 Masehi,  Raja Sailendra, Vishnu dilanjutkan oleh Indra (Sangramadhanamjaya)

Sekitar tahun 790 Masehi, Kerajaan Sailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (sekarang Kamboja); menguasai Chenla selama sekitar 12 tahun.

Sekitar tahun 812 Masehi, Raja Sailendra, Indra dilanjutkan oleh Samaratungga.

Sekitar tahun 825 Masehi, Borobudur selesai dibangun, dibawah kekuasaan Samaratungga.

Sekitar tahun 835 Masehi, Samaratungga meninggal. Putranya Balaputra direbut tahtanya oleh mertua saudarinya, Patapan dari wangsa Sanjaya, yang menggantikan agama Budha di Jawa dengan Hindu.

Sekitar tahun 838 Masehi, Patapan dilanjutkan oleh putranya Pikatan (Jatiningrat).

Sekitar tahun 846 Masehi, Kerajaan Tidore dikunjungi oleh utusan Khalifah Al-Mutawakkil dari Baghdad.

Sekitar tahun 850 Masehi, Pikatan mengalahkan pasukan Balaputra, kemudian mengundurkan diri dari tahta untuk menjadi petapa. Dia dilanjutkan oleh Kayuwani.

Balaputra, yang berhak atas tahta Sailendra, melarikan diri ke Sumatra dan mengambil kekuasaan di Srivijaya.
Raja Warmadewa menguasai Bali.

Pada sekitar masa ini kita memiliki versi Ramayana dalam bahasa Jawa Kuno. Pengerjaannya cukup rumit, dan mungkin ada pengerjaan semacam ini sebelumnya yang tidak berhasil.

Sekitar tahun 898 Masehi Raja Sanjaya, Balitung mengambil kekuasaan di Jawa Tengah. Batu bertuliskan tentang Raja Balitung merupakan yang pertama menbutkan “Mataram” di Jawa Tengah.

Sekitar tahun 910 Masehi Raja Sanjaya, Daksa meneruskan Balitung di Mataram. Dia mulai membangun candi Hindu yang besar, di Prambanan.

Sekitar tahun 919 Masehi Raja Sanjaya, Tulodong meneruskan Daksa, berkuasa sampai tahun 921 Masehi.

Sekitar tahun 924 Masehi Raja Sanjaya, Wawa mengambil tahta Mataram. berkuasa sampai tahun 928 Masehi.

Sekitar tahun 929 Masehi Raja Sanjaya, Mpu Sindok mengambil kuasa. Dia memindahkan pemerntahan dari Mataram ke Jawa Timur (dekat Jombang). Letusan besar Gunung Merapi pada tahun 928 atau tahun 929 menjadi alasan Raja Mataram pindah ke Timur.

Sekitar tahun 947 Masehi Sri Isana Tunggawijaya, putri Mpu Sindok, meneruskan Mpu Sindok sebagai penguasa di Jawa Timur. Raja Udayana dari Bali, ayah Airlangga, lahir.

Sekitar tahun 985 Masehi Dharmavamsa menjadi raja Mataram. Dia menaklukkan Bali dan menemukan tempat tinggal di Kalimantan Barat. Dharmavamsa juga dikenang karena memerintahkan penerjemahan Mahabarata kedalam bahasa Jawa.

Sekitar tahun 992 Masehi Raja Chulamanivarmadeva dari Srivijaya mengirimkan duta besar ke Cina untuk meminta perlindungan terhadap pasukan Dharmavamsa dari Jawa.

Sekitar tahun 1006 Masehi Srivijaya menyerang dan menghancurkan ibukota Mataram. Istananya dibakar, dan Dharmavamsa terbunuh. Airlangga (15 tahun) melarikan diri. Beberapa tahun kekacauan terjadi di Jawa Timur setelahnya.

MENARIK:  Catatan Sejarah Awal Serangan Majapahit ke Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *