Dominasi Sulu Di Nusantara

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID ~ Di sekitar kepulauan Sulu samada yang dikenal sebagai Filipina hari ini, kaumkaum aslinya terlalu banyak. Berdasarkan penelitian kami beberapa kepulauan di Filipina sekarang memiliki hubungan langsung dengan kepulauan Sulu sebagaimana Sulawesi, Kalimantan, Tanah Melayu, Sumatera dan kepulauan Jawa.

Dominasi Sulu Di Nusantara

Jika disempurnakan, bangsa Phoenisia yang dilaporkan ribuan tahun sebelumnya memiliki kulit hitam dan berambut keriting sudah tidak ditemukan lagi di sekitar kepulauan Sulu. Yang tinggal hanya cucucicit Phoenisia saja lagi seperti kaumkaum Bajau atau Samal yang sudah tidak terlihat hitam adalah mungkin asimilasi yang terjadi selama ribuan tahun yang lalu dengan kaum asli lain.

Loading...

Budaya Phoenisia yang asli sudah tidak terlihat lagi pada Orang Laut atau Bajau hari ini. Hal yang menarik dibicarakan adalah struktur masyarakat Sulu hari ini yang berkonsepkan Kesultanan yang mana susunan masyarakatnya mulai dari Sultan atau Raja, Datu, Panglima, Orang Kaya dan juga golongan rendah taraf hidupnya, tentunya adalah gambaran kepada bangsa kepulauan Sulu dan sekitarnya ribuan tahun yang lalu.

Sebelum kedatangan Amerika Serikat ke kepulauan Sulu, bentuk kehidupan masyarakatnya terbagi tiga, Penguasa (Datu, Panglima & Orang Kaya) Rakyat biasa Pekerja (Upahan & hamba) Pada abad ke14, Sultan hanya kepala penguasa tetapi yang berkuasa melebihi kekuasaan Sultan adalah para Datu , Panglima dan Orang Kaya. Karena mereka inilah yang menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara hingga ke Cina.

Kekuatan pemerintah terletak pada elit ini. Golongan karyawan yang terbagi dua, Orang Lucoes dengan Orang Laut. Walau pun ada golongan hamba tetapi mereka diperlakukan seperti pekerja yang merdeka. Orang Laut atau Samal (Bajau) membawa barang dagang ke seluruh Asia Tenggara diiringi senantiasa oleh Orangorang Lucoes.

Perbedaan Orang Lucoes dengan Orang Laut hanyalah dialek bahasa Sulug (Sinug dan Sinama) dan warna kulit. Orang Lucoes menutur bahasa Sinug berkulit putih kuning sementara Orang Laut menutur bahas Sinama berkulit gelap. Kerjasama kedua pihak ini telah menjadi fenomena di laut Nusantara sehingga terwujud satu istilah oleh sarjana barat sebagai Sulu Zone (daerah kekuasaan, perdagangan dan pembajakan orangorang Sulu).

Kembali ke masa lampau, Bangsa Laut (Phoenisia) atau Orang Laut atau pun yang disebut SamalBajao hari ini, sudah tentu memiliki gaya hidup yang sama. Dalam sejarah Asia Tenggara, Orang Laut lebih dikenal dengan kepulauan Sulu dibandingkan lain daerah adalah disebabkan dominasi para Datu yang berlangsung ribuan tahun sebelumnya.

Hal ini juga turut terjadi dengan struktur masyarakat Sumatra. Orang Laut sangat terkenal ketika dulu di sekitar selat Melaka sehingga memenuhi kepulauan Riau karena membawa dagangan dari Sulu. Wujudnya nama Datu di Sumatra di kalangan sukusuku Batak adalah hasil hubungan ribuan tahun dengan orangorang Sulu.

Batak adalah bangsa beradab sama dengan bangsa Toraja di Sulawesi. Jika disempurnakan nama bangsa Toraja yang berarti Tau Raja sebenarnya adalah keluarga terdekat bangsa Buranun di Jolo Sulu yang terpisah ribuan tahun. Ini sama dengan bangsa Batak di Sumatra. Batak masih memiliki tulisan nenek moyang mereka sampai hari ini.

Dibandingkan Batak, kaum Toraja telah kehilangan tulisan mereka yang asli. Tulisan nenek moyang mereka telah digunakan oleh sepupusepipit mereka seperti kaum Bone dan Makassar yang dinamakan lontara Bugis. Bangsa yang punya tulisan sendiri adalah bangsa yang punya peradaban yang hebat di masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *