Bangsa Phoenisia Lambang Ketamadunan Dunia

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID ~ Bangsa Phoenisia adalah Bangsa pelaut penjelajah yang tak tertandingi di dunia. Diperkirakan antara tahun 6000 SM sampai 4000 SM mereka adalah satu-satunya manusia yang dilihat berulang alik dari kepulauan Sulu (dinamakan Philippines hari ini oleh penjajah) ke Laut Meditranian.

Bangsa Phoenisia Lambang Ketamadunan Dunia

Negeri-negeri yang ada disepanjang jalur mereka turut menerima manfaat karena mereka singgah sambil berdagang. Bangsa Laut ini telah menjadi fenomena yang memicu peradaban-peradaban baru kemudian.

Loading...

Antara daerah persinggahan mereka yang terkenal adalah, Cina Sulu (Permulaan tempat keluarnya matahari) Kalimantan Sulawesi Jawa Jambi / Palembang (Selat Malaka) Kedah Siam (Selat Malaka & Laut Cina Selatan) Aceh (Laut India & Selat Melaka) Burma (Laut India) India (Sungai Gangga) Irak (Muara Sungai Tigris & Euphrates) Mesir (Sungai Nil) Andalusia (Spanyol- Laut Meditranian) Syiria (Kana’an – Laut Meditranian) Yunani (Yunani – Laut Meditranian) Palestina (Israel Laut Meditranian) Peru (Maya – laut Pasifik & Atlantik).

Negeri berwarna merah semuanya adalah peradaban-peradaban kuno dunia yang dimulai di muara sungai. Ribuan tahun sebelum negara-negara tersebut menjadi peradaban dunia, Bangsa Pelaut sudah mulai datang berdagang. Sungai dan laut adalah identitas Bangsa Laut ini. Karena disitulah mereka bisa berlabuh dan membongkar barang dagangan.

Kekurangan dan kebutuhan utama setiap negara tersebut akan dipenuhi oleh mereka. Besi, emas, perak, perunggu, sereal, kain, binatang berharga (Merak & Cenderawasih), kesenian dan tulisan dan bermacam-macam lagi telah mereka angkut dalam kapal-kapal layar mereka.

Bahasa dan Tulisan:

“The recorded history shows a group of coastal cities and heavily forested mountains inhabited by a Semitic people, the Canaanites, sekitar 4000 BC.” Jelasnya Kana’an bin Ham bin Nuh as dianggap Semitik (Israel & Arab) adalah karena termasuk dari jalur keturunan Nabi Nuh as berikutnya Bani Israel.

Telah kami sebutkan di judul yang lalu bagaimana Adam as dan keturunannya yang awal dimulai di kepulauan “Sebelah Timur”. Keterampilan mereka di laut telah membawa mereka ke penjuru dunia sebab itu mereka dikatakan manusia yang tinggal di tepi-tepi pantai.

Adam A.S. bukannya bangsa Semitik apakah Israel atau Arab dan bukan juga Hebrew. Bani Kana’an adalah bangsa A’jam (bukan Arab) yang berbicara bahasa Kepulauan sebagaimana moyang mereka Adam as Keturunan Adam A.S. yang awal jauh lebih mahir dari bangsa Arab dan Israel yang lahir kemudian.

“Dan Ia telah mengajarkan Nabi Adam, akan segala nama benda-benda dan gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman:” Terangkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu orang yang benar. “Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah, ayat 31.

Menurut para ulama, bernama Adam itu Adam karena diambil dari kalimat “Udmah” yang mewakili ke warna dan jenis tanah. Inilah yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama tafsir seperti al-Syaukani di dalam Fath al-Qadir. di dalam al-Khassaf, dinyatakan bahwa nama Adam adalah nama A’jam (bukan Arab).

Dalam sejarah tulisan-tulisan awal dunia, Bani Kana’an adalah satu-satunya bangsa yang perkenalkan tulisan. bangsa Eropa samada Yunani (Yunani), Israel dan Arab mendapatkan tulisan mereka dari jalur Kana’an. “Sekitar 1600 BC the Phoenicians invented 22 ‘magic signs’ called the alphabet, and passed them onto the world. The Phoenicians gave the alphabet to the Greeks who adopted it; the evolution of the Phoenician Alphabet led to the Latin letters of present-day “.

Melihat grafik di atas Phoenisia ada nama Proto-Canaanite (Kana’an kuno). Tentulan Kana’an purba menggunakan tulisan -tulisan berasal dari Asia Tenggara. Kalau benar seperti di Asia Tenggara maka dimanakah tulisan-tulisan tersebut hari ini? Dunia hari ini lebih mengagungkan dan menggunakan tulisan Rumi termasuk Nusantara.

Sebenarnya tulisan Phoenicia di beberapa tempat Asia Tenggara telah mengalami perubahan ketika pengaruh India datang menguasai Sumatra. Konon tulisan Nusantara berasal dari tulisan India, inilah yang diyakini oleh para sarjana Timur dan Barat.

Tulisan Kawi-Pallava India sendiri sebenarnya berasal dari Nusantara sebelum India kembangkannya menjadi bentuk tulisan mereka sendiri. Ini sama dengan Thai dan Burma.

Di Sulu yang menjadi hentian utama bangsa Phonesia sendiri saat akhir menggunakan tulisan Kawi adalah sebelum masuknya Islam abad ke-14. di Butuan, Mindanao Utara, telah ditemukan segel logam yang bertulisan Kawi terpercaya sezaman dengan Kerajaan Kediri di Jawa Timur abad ke-11 yang juga turut menggunakan tulisan Kawi .

Butuan, Cebu-Visaya sampai ke Manila sejak dahulu kala menutur bahasa Sulug dan telah lama menggunakan tulisan Kana’an Kuno sebelum digunakan dan dibuat perubahan oleh Phoenisia di sekitar Laut Meditranian.

Kepulauan Sulu yang menjadi pusat pemerintahan ketika itu adalah Metropolitan kepada semua kepulauan sekitarnya sebelum era Tamil Pallava di India lagi. Persoalan yang masih mengganggu kotak pikiran kita apakah benar Nusantara meniru atau mencedok tulisan Pallawa India? Hal ini perlu dirungkai dan disempurnakan.

Apakah Bangsa Phoenisia dan Kana’an Kuno yang duduk di Asia Tenggara ribuan tahun lalu menggunakan tulisan India? 

Yang benar adalah India menggunakan tulisan Kanaa’an Kuno yang berbasis di Nusantara. India yang menjadi jalur Phoenisia dari Nusantara ke Eropa menjadi dasar penelitian dari mana asal-usul tulisan tersebut. Tinggal lagi India menjadi pusat peradaban menyebabkan kebudayaan dan kesusasteraannya tersebar shingga ke Nusantara.

Penyebaran ajaran Hindu-Buddha di kepulauan dekat India yang ajarannya ditulis oleh biarawan mengguanakn tulisan Pallava menyebabkan adanya penuntutan “Tulisan Kuno Nusantara berasal dari India”.

Beberapa faktor dan dampaknya perlu dijelaskan mengapa India pada akhir Milenium Pertama sebelum Masehi menjadi maju sehingga dikatakan berada dikemuncak “Ketamadunan” yang menyebar pengaruhnya sampai ke Asia Tenggara, Menjadi persinggahan utama Bangsa Laut (Phoenisia) sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumeria (Mesopotamia) dan Meditranian dari Kepulauan Sulu dan Champa.

Ia menjadi fokus Mesir Kuno, Kerajaan Bani Israel dan Mesopotamia (Irak) karena dianggap sebagai tempat suci dimana dimulainya awal kehidupan manusia. Konononnya di situlah tempat “Garden of Eden” yang nyata.

Tanggapan tersebut menyebabkan masuknya Bangsa Arya (Persia) menduduki India pada tahun 1600 SM dan dimulainya cahaya pengembangan dan kekuasaan di sana. Abad ke-4 sampai abad ke-3 sebelum Masehi dimulailah Kekaisaran Maurya di India. Sejak itu pengaruh India menyebar ke Asia Tenggara membawa paham agama, budaya dan sastra (Aksara Pallawa).

Padahal “Garden of Eden” ditemukan bukanlah India sebenarnya tetapi masih berada nun jauh di kepulauan Nusantara Sebelah Timur. Dari manakah asal-usul bangsa India? Hal ini akan turut melibatkan pertanyaan “Mengapa bangsa India berkulit hitam?” Jawabannya adalah, merekalah anak-anak bangsa Phoenisia yang sejak zaman purba menempati muara Sungai Gangga.

Sebab itu mengapa mereka sangat-sangat memuliakan “Aliran Sungai” adalah karena asal-usul nenek moyang mereka datang dari sana. Merek adalah anak-anak Noh A.S. yang berasal dari Nusantara. Maka jelaslah tulisan India berasal dari Nusantara bukan sebaliknya.

Kalau demikian apakah rupa bentuk tulisan Nusantara yang sebenarnya? Apakah sama dengan tulisan Phoenisia kuno di sekitar Laut Meditranian? Bangsa-bangsa Mindanao Utara sejak zaman kuno menutur bahasa Sulug. Mereka inilah yang disebut sebagai Bangsa Visaya hari ini oleh Filipina.

Mereka menggunakan satu bentuk susunan abjad tulisan kuno yang dibawa oleh pedagang awal leluhur bangsa Phoenisia (Kana’an Kuno) ke India sebelum dibawa ke Laut Meditranian. Tulisan ini kemudian telah mengalami perubahan sesuai kondisi setempat di Laut Meditranian yang menular sehingga ke India.

Bangsa Sulug di kepulauan Sulu masih menyebut bahwa tulisan mereka adalah “Luntar” bukannya tulisan Rumi atau Arab. Sebab itu mengapa seorang peneliti sejarah bernama Samuel Tan mengatakan bahwa tulisan Sulu yang dinamakan “Luntar” telah hilang.

Hilang yang beliau maksudkan mungkin penggunaan tulisan tersebut karena Bangsa Sulug ketika era Kesultanan telah menggunakan “Surat Sug” yaitu tulisan Arab. Tetapi pada abad ke-20 tulisan tersebut telah ditemukan yang kemudian Filipina panggil sebagai “Alibata”.

“The Alibata term was introduced in the early 1900s by Dean Paul Versoza of the University of Manila, it originated from the first two letters of the alphabet of the Maguindanao, used in the southern Philippines and derived from Arabic. (The term is associated with the first two letters, alif and bet.) It is called baybayin, which means “to spell” in Tagalog “. 

Tulisan kepulauan Sulu (Butuan, Cebu, Manila) yang dikenal sebagai Luntar ini telah mulai ditinggalkan karena masuknya Islam (Arab) dan Kristen (Spanyol) pada awal abad ke-14 dan ke-15. Mengenai tulisan Batak (Kerinci, Rejang, Rencong dll), Kawi Jawa dan Bugis sebenarnya adalah dari variasi tulisan awal lebih awal dari India selain dari Luntar Sulug. Tetapi telah diIndiakan hanya karena dominasi paham Hindu dan Buddha ketika dulu.

Dalam artikel Fathi Aris Omar bertajuk “Melayu pencipta nomor ‘kosong’?” menyatakan, “Dr Mohammad Alinor mengatakan, seorang profesor pengunjung dalam bidang matematika di UKM, Frank J. Swetz pada 1979, pernah menyebut” etnis Batak di Sumatera memiliki sistem angka mencakup 0 yang lebih tua usianya dari yang ada dalam sistem angka Hindu-Muslim.

Surat Batak Sumatra

Inilah Lontara Batak yang orang-orang Batak sendiri panggil Surat Batak. Keyakinan kami bahwa Lontara Batak adalah antara variasi tulisan terawal dunia Bani Kana’an di Asia Tenggara. Kalau diperhatikan Surat Batak adalah tampaknya evolusi dari tulisan India era Sansekerta (Kawi-Pallava).

Apakah benar seperti evolusi dari tulisan Pallawa India? Atau India yang mencedok tulisan Nusantara? Peradaban Atlantis sudah tentu memiliki tulisan sendiri beribu tahun yang lalu. Kemajuan yang dikembangkan oleh anak-anak Adam as di Asia Tenggara dengan bukti bahwa Bani Kan’aan adalah bangsa browser dari “Negeri tempat keluarnya matahari” menunjukkan kebenaran teori Sunda-Land.

Fokus ke kepulauan Sulu (pulau-pulau Filipina) pusatnya Atlantis yang kemudian setelah terjadi guncangan gempa bumi dan letusan gunung berapi menyebabkan penduduknya tersebar ke seluruh Nusantara.

Beberapa suku berlayar selamatkan diri ke daratan (Champa), Sulawesi, Jawa dan Sumatra membawa bersama mereka keterampilan, kebudayaan dan kesusasteraan tempat asal mereka. Bangsa Batak dan Bangsa Toraja mereka adalah browser termasuk orang-orang Champa kuno.

Namun beribu tahun lamanya sejumlah besar mereka mulai menyusup ke gunung-gunung untuk memulai kehidupan baru.

Penggabungan kembali bangsa Batak (termasuk Minangkabau dan Melayu Jambi / Palembang), Bangsa Aceh, Bangsa Toraja (Bugis), Bangsa Dayak Kalimantan dan Sarawak, Bangsa Jawa, Tanah Melayu sampai ke Champa-Kamboja serta Bangsa Visaya di kepulauan Filipina bergabung kembali menciptakan kesatuan untuk mengembalikan “Kerajaan Atlantis” yang baru.

Mengembalikan sejarah Bani Adam ke asalnya dengan mengamalkan kembali “Tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Allah”  berdaulat di bumi Nusantara.

MENARIK:  Kisah Keturunan Dewawarman (Purwayuga 5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *