Hubungan Sulug Dengan Bugis

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID ~ Antara Bugis dan Sulug siapa lebih awal menjelajahi laut Nusantara bukanlah motif utama dalam artikel ini karena jika diselami secara mendalam keduanya saling terkait.

Pernyataan kami bahwa Sulug adalah asli dan awal manusia secara teori, kemudian teori kami menyediakan bukti berdasarkan linguistik dan pengucapan secara phonology, maka persoalan siapa lebih dulu berlayar samada Bugis atau Sulug tidaklah timbul karena sudah dipahami.

Jelasnya, Bugis adalah Sulug dan kalau pun dikatakan bahwa Sulug adalah Bugis tidaklah menjadi masalah. Tinggal lagi pembuktian secara jujur dari mana awal nama Bugis serta kesamaan bahasa dan lidah dengan Sulug perlulah dirungkai.

Loading...

Secara fakta Bugis baru dikenal hanya dimulai abad ke12 sampai abad ke17 dibandingkan Sulug yang sudah menempati pesisir Burma sampai ke Johor, dari Sumatera sampai ke Pulau Flores sejak awal kerajaan Sriwijaya abad ke7.

Bahkan jauh dari itu Sulug sudah menguasai Laut Cina Selatan karena penguasaan dagang mereka terhadap ChampaCanton sampai ke Tanah MelayuSiam. Catatan Arab abad ke9 seperti AlIdrisi dan AlMas’udi menulis bahwa pemerintah hebat di India Timur (Asia Tenggara) adalah pemerintah Kaisar Zabag (Nama Sulug disalah sebut menjadi Zabag atau  Zabaj) yang mencakup semua kepulauan Asia Tenggara.

Sebagai bukti nama Kota Solok, Kabupaten Solok, Istana Solok, Sungai Solok, Kampung Solok, Solo, Solot, Solox, Solor berada di manamana di seluruh Asia Tenggara. Bahkan pada lidah Arab juga masih tetap penyebutan mereka terhadap Sulug terutama pada praktek tafakur Sulug yang orang Arab namakan praktek Suluk serta sistem pasar perdagangan yang mereka namakan sebagai Suq” yang berarti pasar Sug atau Sulug.

Bugis sebelum kedatangan Portugis disebut oleh orangorang Sulug sebagai Baklaya” yang mungkin berasal dari kata Mag Layag berarti berlayar” atau Mag Layaberarti Menjala”. Bangsa Baklaya banyak menempati pesisir pantai Luuk, Parang sampai ke Pulau Basilan di Kepulauan Sulu.

Bangsa Baklaya datang dari pulau yang kita kenali sebagai Sulawesi hari ini. Bangsa Baklaya sangat menghormati Bangsa Buranun di pulau Jolo karena Suku Sulug Buranun di Pulau Jolo sangat anti pendatang terutama kepada bangsa Baklaya yang dianggap sebagai Orang Laut“.

Suku Sulug Buranun yang sangat erat dengan Baklaya adalah Taguimaha. Suku Sulug Taguimaha kemungkinan namanya diambil dari kata Tau Gimbah(Orang menghuni rimba) atau Tag umah(Empunya tanah huma tempat bercocok tanam) karena kebiasaan Sulug Taguimah sebagai penguasa laut dan darat sampai ke Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Sulug Taguimah ini disebut oleh Portugis di Melaka sebagai Lucoes People yang kaya dengan perdagangan Emas dan Perak di seluruh Asia Tenggara. Bangsa yang baik dan suka berbisnis tetapi juga adalah pahlawan yang ganas di laut.

Sulug Taguimah sangat erat dengan Suku Baklaya yang juga dikatakan sangat handal di laut baik sebagai pahlawan, penyelam atau pendayung kapal. Bangsa Baklaya menutur satu bahasa yang mirip dengan bahasa Sulug Laut dan Taguimah di samping bahasa daerah mereka sendiri yang berintonasikan bahasa Papua.

Hari ini Baklaya dikenal sebagai Bugis setelah kedatangan Portugis ke kepulauan Sulu. Kekecewaan Portugis untuk mempertahankan hubungan dagangnya dengan Sulu terobati dengan penguasaannya terhadap Sulawesi sampai ke Pulau Flores untuk mendapatkan rempah sebelum Belanda.

Perjanjian perbatasan perdagangan antara Spanyol dan Belanda antara abad ke16 ke17 akhirnya telah memisahkan hubungan langsung Sulug dan Baklaya (Bugis). Laut Sulu yang luas itu akhirnya juga turut dibagi dan dicap dengan Celebes Sea yang berarti SuluEast Sea yang kemudian berubah sebutannya menjadi Suluwesi”.

Akhirnya pulau Baklaya juga turut disebut sebagai Pulau Suluwesi. Setelah berakhirnya zaman Kolonial Belanda merdeka ke tangan Indonesia maka sekarang diubah namanya menjadi Sulawesi” yang kebetulan sesuai dengan bahasa Baklaya yang berarti Besi Panas, Sula (panas), wesi (Besi). Kebetulan tanah Baklaya sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit telah menjadi pusat pertambangan besi yang lokasinya berada di atas pegunungan Luwu di Makale.

MENARIK:  Catatan Seajarah Nusantara Tahun 1000 Masehi Sampai 1500 Masehi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *