Bantahan Terhadap Teori Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman A.S.

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID – Sebagian orang mungkin bisa jadi mempercayai teori yang telah dijabarkan pada artikel sebelumnya. Namun apa yang dijabarkan berada pada tafsir yang sangat salah. Al-Qurannya benar, ayatnya benar, tapi penafsirnya yang keblinger alias “ngaco” oleh teori “cocokologi”.

Buku Bantahan Teori Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman A.S.
Buku Bantahan Teori Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman A.S.

Candi Borobudur semenjak lama memang diyakini sebagai peninggalan Dinasti Sailendra dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8.

Lalu ada seseorang bernama KH. Fahmi Basya yang mencetuskan sebuah teori bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman dan Indonesia adalah Negeri Saba. Ia mengklaim memiliki bukti-bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung teorinya.

Loading...

Benarkah demikian?

Dalam Islam tidak dikenal perintah untuk membuat patung makhluk hidup, apalagi untuk bersembah di depannya. Maka teori tentang Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman AS, dibuat buku pembantahannya.

Candi Borobudur dan semuanya yang terkait merujuk kepada Pertapa Siddharta dari India, tak beda dengan patung-patung Buddha di belahan dunia lainnya.

Patung-patung itu bukanlah patung Nabi Sulaiman atau bidadara surga yang meniru model Nabi Sulaiman sebagaimana klaim KH. Fahmi Basya dalam bukunya.

Bukti-bukti yang diajukannya diperiksa kebenarannya satu demi satu dalam buku bantahan yang ditulis oleh Seno Panyadewa yang menyatakan bahwa buku ini memang tidak semestinya terbit jika buku KH. Fahmi Basya tidak bertahan di pasar.

Seharusnya buku KH. Fahmi Basya “Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman” ditarik dari peredaran karena itu bentuk pembodohan.

Sebuah produk yang berbahaya bagi konsumen, baik terkait fisik ataupun mental, sudah seharusnya ditarik dari peredaran karena otoritas-otoritas yang seharusnya bisa menarik peredaran buku itu hanya tinggal diam.

Dan pasti, tentu saja buku bantahan itu telah melakukan uji materi atas teori KH. Fahmi Basya sebelumnya, maka Seno Panyadewa menulis buku sanggahan atasnya.

Seno Panyadewa juga membandingkan bukti-bukti dari berbagai penelitian ilmiah apakah Candi Borobudur peninggalan Dinasti Sailendra ataukah Nabi Sulaiman. Bahkan bukti-bukti mengenai lokasi sebenarnya Negeri Saba juga dibahas.

Tak hanya mengupas tentang kejanggalan-kejanggalan dalam teori Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman, buku ini juga membahas secara mengesankan perihal sejarah Borobudur, sejarah agama Buddha dan Hindu pada saat itu, serta analisis tentang ikonografi, arsitektur, dan simbol-simbol pada Borobudur.

Tak pelak, buku ini akan memampukan Anda untuk memberikan penilaian yang lebih akurat dan objektif mengenai sejarah dan misteri yang menyelimuti monumen agung bernama Borobudur.

Teori Fahmi Basya ini sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai teori ilmiah, melainkan hanyalah suatu pseudo-science (ilmu pengetahuan semu).

Oleh sebab itu, tidak ada cendikiawan dan para ahli sejarah yang tertarik membuat buku bantahan terhadap teori ini.

Berangkat dari hal inilah, maka Seno Panyadewa menyusun buku yang berjudul Misteri Borobudur dari berbagai sumber literatur baik yang berbentuk media cetak, maupun yang tersedia online di Internet.

Buku ini ditulis untuk membantah teori “Borodubur Adalah Peninggalan Nabi Sulaiman” (disingkat sebagai BAPNS dalam buku ini) karangan KH. Fahmi Basya.

Diawali dengan kutipan isi prasasti Kayumwungan yang merupakan bukti arkeologis tak terbantahkan bahwa Borobudur didirikan oleh Dinasti Sailendra yang beragama Buddha dari kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah.

Buku ini disusun dalam 7 bab yang mengkaji teori BAPNS dari segi arkeologi, tinjauan ilmiah, ikonografi, arsitektur, dan bantahan umum lainnya.

Dari segi arkeologi misalnya, selain bukti prasasti, Seno Panyadewa juga menyajikan analisis paleografis atas tulisan kuno yang terpahat pada Candi Borobudur, bukti dari kitab-kitab kuno yang menyatakan pembangunan Candi Borobudur.

Dan catatan perjalanan para bhiksu dari Cina seperti Fa-Hien dan I-Tsing, yang semuanya dengan sangat meyakinkan membuktikan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan agama Buddha Mahayana aliran Tantrayana yang dibangun pada sekitar abad ke-8 atau ke-9 Masehi.

Bersambung

MENARIK:  Sejarah Bugis Sulawesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *