Mahdawiyah Menurut Wahabi

KEAJAIBANDUNIA.WEB.ID – Aliran atau sekte Wahabi yang dimaksud dalam makalah ini adalah para pengikut dakwah Muhammad bin Abdul Wahab. Para pengikut aliran Wahabi meyakini bahwa dakwah Muhammad bin Abdul Wahab adalah dakwah tauhid yang penuh dengan barakah dan telah berhasil menegakkan daulah Islamiyah di Jazirah Arab.

Mahdawiyah Menurut WahabiDitandai dengan berdirinya Dinasti Su’udiyah, khususnya Dinasti Su’udiyah III yaitu Al-Mamlakah Al-’Arabiyyah As-Su’udiyyah, atau biasa disebut Kerajaan Saudi Arabia.

Wahabi merupakan julukan yang disematkan kepada pengikut Muhammad bin Abdul Wahab, tetapi para pengikutnya sendiri menamakan diri mereka sebagai pengikut manhaj salaf dan atau ahlul hadits.

Loading...

Kadang-kadang mereka mengakui sebagai pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah atau Sunni, kendati demikian terdapat banyak karakteristik yang membedakan mereka dengan pengikut Sunni pada umumnya, antara lain penolakan mereka terhadap tawassul, tabarruk dan perayaan Maulid Nabi SAW.

Sebagian kalangan mengira bahwa para pengikut Wahabi tidak meyakini kemunculan Imam Mahdi. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, sebab sebagian besar ulama yang mengakui diri mereka sebagai pengikut manhaj salaf tidak dapat mengingkari keberadaan hadits-hadits mengenai Imam Mahdi.

Al-Albani, salah satu ulama terkemuka yang sering dijadikan panutan oleh para pengikut manhaj salaf mengatakan:

“Di antara mereka ada yang bersama-sama kami dalam menentang orang yang mengaku-ngaku Mahdi. Akan tetapi begitu cepat ia mengingkari hadits-hadits shahih yang menerangkan akan munculnya Al-Mahdi di akhir zaman.

Dengan penuh ‘keberanian’, dia menganggap bahwa hadits-haditsnya palsu dan hanya khurafat, serta menganggap bodoh para ulama yang menshahihkan hadits-haditsnya. Ia anggap bahwa dengan itu ia telah memangkas ekor para pengaku Mahdi yang jahat tersebut.

Padahal dia dan yang semacamnya tidak tahu bahwa dengan cara semacam ini, terkadang bisa menjerumuskan kepada pengingkaran terhadap hadits-hadits tentang turunnya ‘Isa as. juga, sementara hadits itu mutawatir. Dan, inilah yang terjadi pada sebagian orang seperti Ustadz Farid Wajdi dan Syaikh Rasyid Ridha, serta selainnya.

Kita memohon keselamatan kepada Allah SWT dari fitnah para pengaku Mahdi dan para pengingkar hadits-hadits shahih dari Sayyidul Mursalin – untuk beliau seutama-utama shalawat dan sesempurna-sempurna salam–.” (Ash-Shahihah, 5/278)

Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mantan rektor Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi, melalui bukunya ‘Aqidatu Ahlis Sunnah wal Atsar fil Mahdi Al-Muntazhar (hal 153-155), menjawab pengingkaran sejarawan Ibn Khaldun atas keshahihan hadist-hadist mengenai Imam Mahdi, sebagai berikut:

“Seandainya terjadi keraguan dalam perkara Al-Mahdi ini dari seseorang yang punya pengalaman dalam bidang hadits, tentu itu akan dianggap ketergelinciran darinya. Lalu bagaimana bila itu terjadi pada ahli sejarah yang bukan ahlinya (ilmu hadits)? Dan sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Ahmad Syakir dalam takhrij hadits-hadits Musnad Ahmad: ‘Adapun Ibnu Khaldun, ia telah mengikuti sesuatu yang dia tidak punya ilmu padanya dan menerobos sesuatu yang ia bukan ahlinya…’.”

“Sesungguhnya yang sedikit (dari hadits) yang selamat dari kritik itu cukup untuk dijadikan hujjah dalam hal ini, dan (hadits) yang banyak yang tidak selamat dari kritik itu sebagai penguatnya. Padahal, (hadits) yang selamat dari kritik justru banyak.”

Abdul Muhsin Al-‘Abbad juga menukilkan ucapan ulama besar Shiddiq Hasan Khan dalam bukunya Al-Idza’ah:

“Tiada artinya meragukan perkara (Al-Mahdi) keturunan Fathimah yang dijanjikan dan ditunggu itu, yang telah ditunjukkan oleh dalil-dalil. Bahkan mengingkarinya merupakan ‘keberanian’ yang besar dalam menghadapi nash-nash yang banyak dan masyhur yang telah mencapai derajat mutawatir.”

Walaupun demikian, para pengikut Wahabi menyatakan terdapat tiga golongan yang telah menyimpang dalam menerima atau mengimani Mahdawiyah:

  1. Para Sufi, karena menurut kaum Wahabi para Sufi menggantungkan segala harapan akan munculnya Al-Mahdi, sehingga menimbulkan keyakinan bahwa daulah Islam tidak akan tegak kecuali dengan kemunculannya.
  2. Orang-orang yang mengingkari atau meragukan kedatangan Imam Mahdi, dan golongan ini telah dibahas sebelumnya.
  3. Orang-orang yang memanfaatkan berita kemunculan Al-Mahdi demi kepentingan pribadi atau kelompok. Mereka, seperti dikatakan Ibnu Taimiyyah dalam Minhajus Sunnah (8/259), tentu banyak jumlahnya. Menurut mereka, di antaranya adalah pendiri Daulah Fatimiyyah, Mirza Ghulam Ahmad (pendiri Ahmadiyah), dan kelompok Syi’ah (yang mereka juluki sebagai Syi’ah Rafidhah).

Pada dasarnya, fitur-fitur Imam Mahdi yang disebarluaskan oleh para ulama dari kalangan Wahabi dan diyakini oleh para pengikutnya tidak jauh berbeda dengan fitur-fitur Imam Mahdi yang dipercayai oleh kaum Ahlusunnah wal Jama’ah.

Perbedaannya, mereka menerima keshahihan beberapa hadist dan menyatakan kedhaifan sejumlah hadist mengenai Imam Mahdi sebagaimana yang dinyatakan oleh para ulama mereka seperti Al-Albani. Sementara itu, ada beberapa hadist yang mereka dhaifkan, tidak didhaifkan oleh para ulama Ahlusunnah wal Jamaah

MENARIK:  Mahdawiyah Menurut Sunni, Syi'ah dan Wahabi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *